Minggu, 24 Juni 2018


SEKOLAH SEBAGAI ORGANISASI
LAPORAN PENELITIAN
“ SEKOLAH SEBAGAI ORGANISASI”
Oleh : YOLI AMRIL SYAFIRA (1730203181)


PENDAHULUAN
Sekolah adalah  sebuah konsep yang mempunyai makna ganda. Pertama, sekolah berarti suatu bangunan atau lingkungan fisik dengan segala perlengkapannya yang merupakan tempat untuk menyelenggarakan proses pendidikan tertentu bagi kelompok manusia tertentu. Dengan demikian, apabila kita mendengar perkataan “sekolah” maka yang terbayang adalah lingkungan fisik seperti  itu. Bayangan sekolah sebagai lingkungan fisik seperti itu diperkuat dengan keseragaman relative mengenai bentuk bangunan dan perlengkapannya,sehingga dapat dikatakan bahwa kondisi fisik sekolah-sekolah yang sejenis dan setingkat relative sama. Kedua,sekolah berarti suatu proses atau kegiatan belajar mengajar. Kita bisa menggunakan istilah “menyekolahkan” anak, atau mengatakan”anak  saya bersekolah SMP Negeri 1”. Dalam hal ini apabila mendengar perkataan”sekolah”maka yang terbayang di kepala kita adalah proses pendidikan itu sendiri.
Jadi dalam hal ini sekolah dipandang sebagai sebuah pranata untuk memenuhi kebutuhan khusus tertentu. Bisa juga “sekolah”diartikan sebagai sebuah organisasi ,yaitu organiasi social yang mempunyai struktur tertentu yang melibatkan sejumlah orang dengan tugas melaksanakan suatu fungsi untuk memenuhi suatu kebutuhan. Sesungguhnya ketiga pengertian itu selalu berdampingan,karena proses belajar berjalan dalam sebuah lokasi dan diselenggarakan oleh organisasi yang mempunyai struktur dan tujuan tertentu. Penampilan keterpaduan antara ketiga makna tersebut dipengaruhi oleh berbagai factor seperti jumlah,tingkat usia, serta karakteristik lain yang menandai orang-orang yang terlibat didalamnya serta tujuan,program kerja dan kegiatan yang dilaksanakan,lama waktu penyelenggaraan,dan pendekatan yang digunakan. Akan tetapi diantara semuanya itu terdapat persamaan yaitu bahwa setiap lembaga yang dinamakan sekolah berperan mengurusi manusia,bukan mengurusi benda-benda mati.
Dalam hal ini Setiap sekolah memiliki komponen-komponen sarana fisik seperti lahan,bangunan (kantor, ruang belajar,jamban,dan lain-lain),kurikulum,dan orang-orang (guru,pimpinan,karyawan non edukatif, dan pelajar). Komponen-komponen tersebut menyumbang dengan fungsi dan perannya untuk keberhasilan lembaga. Sebagai sebuah system,sekolah mempunyai keterkaitan dengan sistem lain yang jumlahnya tidak sedikit. Sistem luar itu meliputi antara lain orang tua siswa,komuniti sekitar sekolah dll. Pola hubungan antara sekolah dengan system lain diwarnai dan diisi dengan informasi-informasi yang berarah timbale balik. Input atau timbal balik itu dapat berupa dorongan bagi sekolah untuk mengadakan perubahan pada struktur atau interaksi edukatif di dalamnya atau untuk mempertahankan yang telah ada. Umpan balik yang menimbulkan perubahan disebut morfogenis,sedangkan yang mendorong untuk mempertahankan corak struktur dan interaksi yang telah ada dinamakan umpan balik yang bersifat morfostatis.

PEMBAHASAN
A.    PENGERTIAN SEKOLAH SEBAGAI OARGANISASI
1.      Sekolah
            Kata sekolah berasal dari bahasa latin, yakni skhole, scolae, skhoe atau scolae yang memiliki arti waktu luang atau waktu senggang, dimana ketika itu sekolah adalah kegiatan diwaktu luang bagi anak-anak ditengah kegiatan mereka, yakni bermain dan menghabiskan waktu menikmati masa anak-anak dan remaja. Kegiatan dalam waktu luang adalah mempelajari cara berhitung, secara membaca huruf dan mengenal tentang moral ( budi pekerti ) dan estetika ( seni ). Utuk mendampingi dalam kegiatan scola anak-anak didampingi oleh orang ahli dan mengerti tentang psikologi anak, sehingga memeberikan kesempatan-kesempatan yang sebebsar-besarnya  kepada anak – anak untuk  menciptakan sendiri dunianya melalui berbagai pelajaran diatas.[1]
            Kini, kata sekolah dikatakan sunarto (1993 ), telah berubah berupa bangunan atau lembaga untuk belajar dan serta tempat memberi dan menerima pelajaran,. Sekolah dipimpin oleh seorang kepala sekolah, dan kepala sekolah dibantu oleh wakil kepala sekolah, jumlah kepala sekolah bisa berbeda pada tiap sekolahanya, tergantung dengan kebutuhan. Bangunan sekolah disusun meninggi untuk memenfaatkan tanah yang tersedia dan dapat diisi dengna fasilitas yang lain. Ketersidiaan sarana pada suatu sekolah memiliki peranan penting dalam terlaksanakan proses pendidikan.[2]
            Sekolah adalah sebuah lembaga yang dirancang un tuk pengajaran siswa atau murid di bawah pengawasan pendidik ( guru ). sebagian besar negara memiliki sistem pendidikan formal, yang umumnya wajib, dalam upaya menciptakan anak didik agar mengalami kemajuan setelah melalui proses pembelajaran. Nama- nama sekolah ini berfariasi menurut negara, tetapi umumnya termasuk sekolah dasar untuk anak – anak muda dan sekolah menengah untuk remaja yang telah menyelesaikan sekolah dasar.[3]
            Ada pula sekolah non pemerintah, yang yang disebut sekolah swasta ( private schools ). Sekolah suwasta mungkin untuk anak- anak dengan kebutuhan khusus ketika pemerintah tidak bisa memberi sekolah khusus bagi mereka, keagamaan, seperti sekolah Islam ( madrasah, pesantren ) ; sekolah kristen, sekolah katolik, sekolah Hindu, sekolah Buda atau sekolah khusus lainya yang memeiliki standar lebih tinggi  untuk memepersiapkan prestrasi pribadi anak didik.[4]
2.      Organisasi
  Robert Presthus dalam bukunya The Organizational Society (1962) menyatakan bahwa masyarakat kita merupakan yang terdiri dari organisasi-organisasi.[5] Pernyataan tersebut menunjukkan betapa organisasi telah menjadi fenomena yang menonjol dalam kehidupan.  Jadi  organisasi merupakan kumpulan orang-orang  yang bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama.
Menurut Sondang P. Siagian organisasi adalah setiap bentuk persekutuan antara dua orang atau lebih yang bekerja sama untuk sesuatu tujuan bersama dan terikat secara formal.[6]
 Atmosudirdjo berpendapat bahwa organisasi adalah suatu bentuk kerja sama antara sekelompok orang-orang berdasarkan suatu perjanjian untuk bekerja sama guna mencapai tujuan yang tertentu.[7]
            Dari pendapat para ahli di atas dapat kita simpulkan bahwa organisasi adalah sekelompok orang yang memiliki visi dan misi sama yang saling berkaitan yang tidak dapat diganggu gugat dengan yang lainnya, sehinnga organisasi itu dapat berjalan dengan lancar dan sebagaimana mestinya.

3.      Sekolah Sebagai Organisasi
             Sekolah sebagai organisasi adalah perkumpulan sosial yang dibentuk oleh masyarakat, baik yang berbadan hukum maupun yang tidak berbadan hukum, yang berfungsi sebagai sarana partisipasi masyarakat dalam pembangunan bangsa dan Negara. Sebagai makhluk  yang selalu hidup bersama-sama, manusia membentuk organisasi sosial untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu yang tidak dapat mereka capai sendiri.  Terbentuknya lembaga sosial berawal dari individu yang saling membutuhkan kemudian timbul aturan-aturan  yang dinamakan norma kemasyarakatan . lembaga sosial sering pula dinamakn pranata sosail. [8]
     Philip Robinson (1981) menyebut sekolah sebagai organisasi yaitu unit sosial yang secara sengaja dibentuk untuk tujuan-tujuan tertentu. Sekolah sengaja diciptakan untuk tujuan tertentu, yaitu memeudahkan pengajaran sejumlah pengetahuan.[9]
Sekolah sebagai organisasi memiliki perbedaan dengan organisasi lainnya, sebagai contoh dengan organisasi pabrik atau klub sepak bola. Secara umum, yang membedakan segala organisasi dari organisasi yang lainnya tujuan yang ingin dicapai. Sebuah pabrik sepatu dipastikan memiliki tujuan menghasilkan barang-barang jadi berupa alas kaki, sedangkan sekolah bertujuan menghasilkan individu-individu yang terdidik.[10]          

B.     SEKOLAH SEBAGAI ORGANISASI PEMBELAJAR
            Era global sekarang dengan tingkat perubahan yang sangat pesat mengakibatkan banyak ketidakpastian masa depan yang dilalui. Dengan ini menuntut setiap organisasi untuk mempersiapkan diri dalam menghadapi permasalah tersebut. Berkaitan dengan lembaga pendidikan seperti sekolah, Hoy dan Miskle (2001) menyatakan perlunya sekolah menjadi organisasi pembelajar.[11]
            Menurut Bischoff organisasi pembelajar adalah organisasi yang mencari untuk menciptakan masa depannya, menjadikan pembelajaran sebagai proses kretif yang terjadi berkesinambungan bagi seluruh anggotanya, mengembangkan, beradaptasi, dan mentransformasikan dirinya dalam menjawab kebutuhan serta aspirasi orang – orang di dalam organisasi ataupun luar organisasi baik secara individu maupun kolaktif untuk terus meningkatkan kapasitas mereka dalam berkarya sesuai dengan perannya dalam organisasi.
            Sekolah pada dasarnya merupakan lembaga tempat di mana proses pembelajaran terjadi terutama dalam pemahaman konvesional, di mana belajar dilakukan oleh siswa dan guru berupayah untuk membelajarkan siswa agar dapat mencapai kompetensi yang diharapakan. Belajar dan pembelajaran siswa akan makin meningkat dan berkualitas apabila seluruh unsure dalam organisasi sekolah meningkat dan berkualitas sehingga kapasitas organisasi sekolah terus mengalami peningkatan dan perluasan kearah yang lebih baik dan produktif dalam perubahan dewasa ini.
            Sebagai lembaga pendidikan tempat terjadinya proses pembelajaran maka mengelola organisasi sekolah memerlukan kebijakan manajemen dan kepemimpinan yang dapat memberi ruang bagi tumbuh dan berkembangnya kreativitasnya dan inovasi. Oleh karena itu, organisasi perlu mengelola hal tersebut secara efektif untuk dapat menumbuhkan sinergitas dalam organisasi di antara berbagai individu yang terlibat di dalamnya.
C.    FUNGSI- FUNGSI SEKOLAH SEBAGAI ORGANISASI DAN SASARAN ORGANISASI SEKOLAH
            Sekolah sebagai organisasi sosial dalam sosiologi, peran dan fungsinya sebagai berikut :[12]
1.      Fungsi manestifasi pendidikan
Yaitu membantu orang mencari nafkah ; menolong mengembangkan potensinya demi pemenuhan kebutuhan hidupnya ; melestarikan kebudayaan dengan cara mengajarkanya kepada generasi kegenerasi berikutnya; merangsang partisipasi demokrasi melalui pengajaran keterampilan berbicara dan mengembangkan cara berfikir rasional dan lain-lain
2.      Fungsi laten lembaga pendidikan
Dimana fungsi ini bertalian dengan fungsi pendidikan secara tersembunyi yakni menciptakan atau melahirkan kedewasaan anak didik.

Dikatakan Horton dan Hurt( 1996 ) bahwa ada empat jenis sasaran organisasi sekolah. Tiap sasaran meliputi titik tolak pandangan terhadap organisasi sekolah dari empat pandangan itu, diharapkan dapat memahami tentang organisasi sekolah. Yaitu :[13]
Pertama, sasaran formal dimana ruang lingkup sasaran ini meliputi tujuan formal dari suatu organisasi, wujud dari sasaran ini tercantum dalam aturan-aturan tertulis. Tuntutan formal organisasi menghendaki agar tugas dan tanggung jawab dalam penyelenggaraan sekolah Untuk mencapai tujuan dibagi secara merata dengan baik sesuai dengan kemampuan, fungsi dan wewenang yang telah ditentukan. Melalui stuktur  organisasi yang ada, tercermin adanya tugas dan wewenang kepala sekolah, tugas dan guru dan staf administrasi sekolah.
Kedua, sasaran informal, dimana tidak sepenuhnya bekerja sesui dengan ketentuan formal. Dalam banyak hal, lebih dimodifikasi oleh tiap anggotanya sesuai dengan kapasitas pemaknaan kesadaran mereka tentang organisasi. Di sekolah seorang kepala sekolah mungkin mendapat tanggung jawab sebagai pemimpin dan penguasa formal tertinggi. Akan tetapi, pemnerimaan dan pola fikir serta tingkah laku kepala sekolah merupakan konstruksi pemahaman subjektifnya dalam kelangsungan hubungan dengan berbagai pihak dilingkungan sekolahnya. Jadi, sasaran informal merupakan interprestasi dan modifakasi sasaran – sasaran formal dari seluruh anggota yang terlibat langsung pada wadah organisasi. Sasaran ini mencakup pula persepsi masing – masing indifidu dan menjadi tujuan kegiatan pribadi dalam organisasi. Masing – masing siswa tentunya memiliki tujuan yang berfariasi dalam kelangsungan setatusnya sebagai pelajar. Mungkin ada yang berharap mendapat prestasi akademik tinggi atau memperoleh ijazah, serta ada juga yang hanya menjalankan taradisi masyarakat. Seorang pendidik mungkin hanya untuk mencari gaji, tetapi sebagianlainya masih memiliki loyalitas dan komitmen sebagai pedidik.
Ketiga, sasaran idealogis. Seperti tersirat dalam istilah tersebut, sasaran idealogis bertalian dengan seperangkat sistem eksternal atau sistem nilai yang diyakini bersama. Dalm hal ini, nuansa budaya pada pengertian sebagai suati sistem pengetahuan, gagasan dan idea yang dimiliki suatu kelompok masyarakat yang berfungsi sebagai landasan pijak dan pedoman bagi masyarakat itu dalam bersikap dan berorilaku dalam lingkungan alam dan sosial tempat mereka bernaung . hal inimerupakan penjabaran dari pengaruh idealogis terhadap organisasi.  Sasaran ini mayoriti pengaruh interaktif kultural idealogis yang dianut oleh sebagian besar manusia dalam manangkap,menyikapi dan merespons ekstensi organisasi. Suatu bangsa umumnya memiliki semangat yang tinggi untuk meraih prestasi vertikal, sementara sekolah merupakan wadah yang cukup strategis bagi mansia untuk menopang ambisi mobilitas vertikalnya. Maka, bisa diamsusikan hampir sebagian besar warga sekolah maupun masyarakat akan mengarahkan keyakinan kultural tersebut dalam memaknai keberadaan sekolah.
 Keempat, sasaran-sasaran lain yang kurang begitu kuat. Penekanan sasaran ini akan menonjol pada suatu proses aktifitas organisasi yang biasa. Berkurangnya pendaftaran di dekolah-sekolah dan universitas dapat mengubah secara luas peran para pendidik atau organisasi ruang sekolah, termasuk rasioi pendidik ( guru ) terhadap anak didik ( siswa ) beserta kelas – kelas yang terpesialisasi . jika tidak, sejumlah pendidik akan menganggur.
Dari pendapat Horton dan Hurt ( 1996 ) tentang jenis sasaran sekolah di atas, mengisaratkan suatu pola pandang berbeda dari pandangan umum tantang sekolah. Sebagai organisasi, sekolah bukan hanya sekedaar tumpukan peran-peran tumpukan struktural yang kakau, statis dan jalur kerja yang serba mekanistis belaka. Mekanisme itu mengalam dinamika akualisasi melalui aneka ragam interpretasi para anggota yang melatarbelakangi perilaku manusia dalam mengembangkan peran dan status yang berbeda beda.[14]

D.    FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI SUSUNAN ORGANISASI SEKOLAH 
            Ada beberapa faktor yang dapat memepengaruhi perbedaan dalam susunan organisasi sekolah, antara lain :[15]
1.      Besar kecilnya sekolah
Ada sekolah yang mempunyai banyak merid, banyak guru dan banyak pula ruangan belajarnya, tetapi ada pula yang sebaliknya. Ada sekolah yang banyak murid-muridnya, tetapi tidak cukup guru-gurunya, tidak cukup ruangan belajarnya, dsb
2.      Letak sekolah
Sekolah yang berada dikota besar berlainan sekolah di kota kecil, dikota kecamatan, di pegunungan, dipinggir pantai, dsb. Letak sekolah atau lingkungan sekolah menentukan tokoh-tokoh masyarakat siapakah yang perlu diikut sertakan  didalam membangun dan membina sekolah itu.
3.      Jenis dan tingkatan sekolah
Sekolah kejurusan berbeda dengan sekolah umum, sekolah dasar berbeda dengan SLP/SLA, dan berbeda pula dengan perguruan tinggi.

E.     PENTINGNYA ORGANISASI SEKOLAH YANG BAIK
            Sekolah, sebagai suatu lembaga pendidikan yang didalamnya terdapat kepala sekolah, guru-guru, pegawai  tata usaha dan murid-murid, memerlukan adanya organisasi yang baik agar jalanya sekolah itu  lancar menuju kepada jalanya.[16]
            Menurut sistem persekolahan di Negeri kita, pada umumnya kepala sekolah merupakpan jabatan yang tertinggi  di sekolah itu sehingga dengan demikian kepala sekolah memegang perananan dan pimpinan segala sesuatunya yang berhubungan dengan tugas sekolah dengan demikian kepala sekolah memegang peranana dan pimpinan segala sesuatunya yang berhubungan drngan tugas sekolah ke dalam maupun keluar. Maka dari itu, dalam stuktur organisasi sekolah sekolah pun kepala sekolah biasanya selalu didudukan di tempat yang paling atas.[17]
            Fktor lain yang menyebabkan perlunya organisasi sekolah yang baik ialah karena tugas guru-guru tak hanya mengajar saja juga pegawai- pegawai tata usaha, pesuruh dan penjaga sekolah dan lain-lain. Semuanya harus bertanggung jawab dan didkut sertakan dalam menjalankan roda sekolah itu secara keseluruhan. Dengan demikian agar janga terjadi tabrakan dalam memegang atau menjalankan tugasnya masing-masing, diperlukan organisasi sekolah yang baik dan teratur.[18]
            Dengan organisasi sekolah yang baik dimaksudkan agar pembagian tugas dan tanggung jawab dapat merata kepada semua orang sesuai dengan kecakapan dan fungsinya masing- masing. Tiap orang mengerti dan menyadari tugasnya dan tempatnya didalam setruktur organisasi itu. Dengan demikian dapat dapat dihindari pula adanya tindakan yang sewenang-wenang atau otoriter dari kepala sekolah, dan sebaaliknya dapat diciptkan danya suasana yang demokratis didalam menjalankan roda sekolah ini.[19]











KESIMPULAN
            Sekolah sebagai organisasi adalah perkumpulan sosial yang dibentuk oleh masyarakat, baik yang berbadan hukum maupun yang tidak berbadan hukum, yang berfungsi sebagai sarana partisipasi masyarakat dalam pembangunan bangsa dan Negara.
            Sekolah sebagai organisasi sosial dalam sosiologi, peran dan fungsinya sebagai berikut :
1.    Fungsi manestifasi Pendidikan
2.    Fungsi Laten Lembaga Pendidikan
            Ada beberapa faktor yang dapat memepengaruhi perbedaan dalam susunan organisasi sekolah, antara lain :
1.      Besar Kecilnya Sekolah
2.      Letak Sekolah
3.      Jenis dan Tingkatan Sekolah


DAFTAR PUSTAKA
Idi, Abdullah. 2011. Sosio Logi Pendidikan. Jakarta : Raja Grafindo Persada
SuharSaputra, Uhar. 2013. Administrasi Pendidikan. Bandung : Refika Aditama
Mahmud. 2012. Sosiologi Pendidikan. Bandung : Pustaka Setia
Purwanto, Ngalim. 2010. Administrasi dan Supervisi Pendidikan. Bandung : Remaja  Rodaskarya



       [1] Abdullah Idi, Sosiologi Pendidikan, (Jakarta : Rajagarafindo Persada, 2011),hlm.142
       [2] Ibid.,
       [3] Ibid.,
       [4] Ibid, 143
       [5] Uhar Suharsaputra, Administrasi Pendidikan ( Bandung : Refika Aditama, 2013 ), hlm.26
       [6] Ibid, hlm. 27
       [7] Ibid.,
       [8] Abdullah Idi, Loc. Cit
       [9] Mahmud, Sosiologi Pendidikan, ( Bandung : Pustaka Setia, 2012 ), hlm.163
       [10] Ibid.
       [11] Uhar Suharsaputra, Op. Cit, hlm. 34-35
       [12] Abdullah Idi, Op. Cit, hlm. 158
       [13] Ibid, hlm. 158-159
       [14] Ibid.
       [15]Ngalim Purwanto, Administrasi dan Supervisi Pendidikan, ( Bandung : Remaja Rodaskarya,2010), hlm. 161
       [16] Ngalim Purwanto, Op. Cit, hlm. 160
        [17] Ibid.
       [18] Ibid.
       [19] Ibid.


Sabtu, 23 Juni 2018

Laporan Observasi Tentang Sosialisasi Anak Didik

Laporan Observasi
Tentang Sosialisasi Anak Didik
Oleh : Subra (1730203169)

Pendahuluan
1. Alasan saya melakukan observasi

Pendidikan memiliki peran penting dalam kehidupan manusia karena mempengaruhi seluruh aspek kepribadian dan kehidupannya. Pendidikan dasar tentunya menjadi fondasi untuk tahap pendidikan selanjutnya. Dasar tersebut dapat diperoleh manusia secara formal di tingkat Sekolah Dasar (SD) pada tahap usia anak-anak. Pendidikan di SD sangat berkaitan erat dengan anak-anak yang notabennya adalah subyek dalam kegiatan belajar di sekolah SD. Mereka hidup dalam lingkungan masyarakat yang juga akan memberikan mereka pendidikan dalam lingkup non formal. Perkembangan pendidikan akan seiring dengan dinamika masyarakatnya, karena ciri masyarakat selalu berkembang. Begitu juga anak-anak yang mudah terpengaruh dan sering berubah keinginannya.
Oleh karena itu sebagai guru kita harus mengenal lingkungan peserta didik yang berkaitan dengan kehidupannya. Karena faktor lingkungan tersebut adalah salah satu hal yang mempengaruhi keberhasilan peserta didik dalam belajar. Dengan demikian guru akan dapat menentukan metode, strategi, teknik dan model pembelajaran yang tepat untuk diterapkan pada peserta didik tersebut.
Kegiatan penelitian ini dilakukan untuk mengetahui tindakan yang harus dilakukan oleh seorang guru terhadap anak didiknya dalam mencapai keberhasilan kegiatan belajar mengajar. Salah satunya adalah dengan mengenal kepribadian peserta didik yang dapat diketahui dari lingkungan sekitarnya.
Dari kegiatan penelitian ini diharapkan guru mampu memahami kepribadian peserta didiknya yang sangat berguna untuk menentukan rencana tindak lanjut yang akan dilakukan untuk mencapai keberhasilan belajar peserta didiknya.

2. Rumusan Masalah

a. Sebutkan dan jelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan belajar?
b. Di Indonesia sekarang diterapkan sistem pendidikan berkarakter, bagaimana guru menanamkan karakter pada peserta didik?
3. Kajian Teoritis
Pendidikan memiliki pengaruh yang dinamis dalam kehidupan manusia. Pendidikan dapat mengembangkan berbagai potensi yang dimilikinya secara optimal, yaitu pengembangan berbagai potensi yang dimilikinya dalam aspek fisik, intelektual, emosional, sosial dan spiritual, sesuai dengan tahap perkembangan serta karakteristik fisik dan lingkungan sosial budaya dimana dia hidup. Karena setiap individu memiliki potensi yang ada pada dirinya, tampak atau tidaknya tergantung pada bagaimana potensi tersebut dapat dikembangkan.
Salah satu pengertian pendidikan dikemukakan oleh G. Thompson (1957) yang menyatakan bahwa pendidikan adalah pengaruh lingkungan atas individu untuk menghasilkan perubahan-perubahan yang tetap di dalam kebiasaan-kebiasaan, pemikiran, sikap-sikap dan tingkah laku. Dapat disimpulkan bahwa pendidikan bukan hanya sarana menyiapkan anak untuk masa depannya, tetapi juga perkembangan anak sekarang menuju kedewasaannya. Makalah ini berisi hasil penelitian terhadap salah satu anak didik penyusun. Penelitian ini menggunakan metode penelitian dengan pendekatan yang bersifat langsung, baik dengan objek maupun factor pendukung objek misalnya, orang tua, guru, teman-teman dan lingkungan sekitar objek yang membantu terselenggaranya kegiatan penelitian ini dengan baik.
Pada penelitian ini penulis menggunakan instrumen berupa data diri objek penelitian untuk memperoleh data tentang umur objek dan anggota keluarga yang dapat menunjang terselenggaranya tujuan penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perkembangan pendidikan siswa mengalami kemajuan dibandingkan saat sebelum mengikuti Bimbingan Belajar, baik secara pendidikan akademik maupun perubahan perilaku. Hal itu di dukung dengan kemampuannya yang sudah mampu membaca dan berhitung walaupun masih harus membutuhkan bimbingan. Dan juga perilaku objek yang semakin baik daripada sebelumnya.

4. Metodelogi
a. Pendekatan Teori
1. Urgensi sosialisasi
Kimball Young dalam Ary H. Gunawan (2000) mengatakan bahwa sosialisasi merupakan hubungan interktif dimana seorang dapat mempelajari kebutuhan sosial dan kultural yang mejadikan sebagai anggota masyarakat. Hal ini tampak bahwa sosialisasi merupakan suatu proses belajar kepada seseorang agar dapat mengetahui segala sesuatu yang berhubungan dengan masyarakat, agar nanti dapat hidup di masyarakat dengan layak. Karena itu, sosialisasi merupakan prooses belajar bagi seseorang. Arti sosiologis dan Psikologis dari sosialisasi adalah Secara sosiologis, sosialisasi berarti belajar untuk menyesuaikan diri dengan mores, folkways, tradisi, dan kecakapan-kecakapan kelompok.
Secara psikologis, sosialisasi berarti/mencukup kebiasaan-kebiasaan, perangai-perangai, ide-ide, sikap, dan nilai.
Thomas Ford hoult (1991) mengatakan bahwa sosialisasi merupakan proses belajar individu untuk bertingkah laku sesuai dengan standar dalam kebudayaan suatu masyarakat.
Definisi sosiologi, seperti disimpulkan Abu Akhmadi (1991), menunjukkan:
Proses sosialisasi merupakan proses nbelajar, yakni suatu proses akomodasi individu menahan, mengubah implus-implus dalam dirinya dan mengambil cara hidup dan kebudayaan masyarakat. Dalam proses sosialisasi, individu mepelajari kebiasaan, sikap ide pola-pola nilai dan tingkah laku, dalam masyarakat di mana dia hidup. Semua sifat dan kepercayaan yang dipelajari dalam proses sosialisasi itu disusun dan di kembangkan sebagai suatu kesatuan sistem dalam diri pribadi.
Nasution (2009) menuturkan bahwa sosialisasi merupakan proses bimbingan individu ke dalam dunia sosial. Sosialisasi dilakukan dengan mendidik individu tetang kebudayaan yang harus dimiliki dan diikutinya, agar ia menjadi anggota yang baik dalam masyarakat dan dalam berbagai kelompok khusus, sosialisasi dapat dianggap sama dengan pendidikan. Sosialisasi terjadi melalui kondisi lingkungan yang menyebabkan individu mempelajari pola kebudyaan fundamental. Pola kebudayaan fundamental (fundamental culture), seperti berbahasa, cara berjalan, duduk makan, apa yang dimakan, berkelakuan sopan, mengembangkan sikap yang dianut dalam msyarakat seperti sikap terhadap agama, seks orang yang lebih tahu, pekerjaan, rekreasi, dan segala sesuatu yang perlu bagi warga masyarakat.
Sosialisasi identik dengan makna penyesuaian diri (adjustment). Konsep penyesuaian diri berasal dari biologi, dan merupakan konsep dasar dalam Teori Evolusi Darwin. Dalam biologi, istilah yang digunakan adalah adaptasi. Proses penyesuaian itu merupakan reaksi terhadap sejumlah tuntutan terhadap dirinya. Tuntutan tersebut dapat diklasifikasikan menjadi tuntutan internal dan eksternal. konfllik antara tuntutan internal dengan tuntutan eksternal misalnya konflik dorongan antara dorongan seksual di satu pihak dengan tuntutan masyarakat agar dorongan itu disalurkan dalam bentuk yang dapat diterima oleh masarakat misalnya melalui perkawinan yang sah menurut norma dan agama.
Proses penyesuaian ada empat kriteria yang dapat digunakan:
Kepuasaan psikis, penyesuaian diri yang berhasil akan menimbulkan rasa tidak puas yang menjelma dalam bentuk perasaan kecewa, gelisah,lesu, depresi.
Efisensi kerja, penyesuaian diri yang berhasil akan menampak dalam kerja atau kegiatan yang tiidak efisien. Sedangakan yanga gagal menampak dalam kerja ata kegiatan yang tidak efisien.
Gejala fisik, penyesuaian diri yang gagal akan tampak dalam gejala fisik.
Penerimaan sosial, penyesuaian diri yang berhasil akan menimbulkan reaksi setuju dari masyarakat, sedangakan yang gagal akan mendapatkan reaksi tidak setuju masyarakat.
Proses soialisasi juga merupakan proses belajar individu dalam berperilaku sesuai dengan standar dalam kebudayaan masyarakat. Proses sosialisasi juga dipandang sebagai proses akomondasi, dengan nama individu menghambat atau mengubah implus-implus sesuai dengan tekanan lingkungan dan mengembangkan pola-pola nilai tingkah laku yang baru sesuai dengan kebudayaan masyarakat.
Mengingat kehidupan manusia saling membutuhkan dan saling keterkaitan, diperlukan suatu proses sosial. Sebagai makhluk sosial manusia akan mengalami proses sosial. Proses tersebut merupakan bantuk hubungan timbal balik yang saling memengaruhi antara yang satu dengan yang lainnya. Dalam hubungan timbal balik ini, proses sosial sebagai pengaruh timbal balik antara berbagai segi kehidupan bersama.
2. Sosialisasi anak didik
Dalam proses sosialisasi, seorang individu/anak didik belajar tentang perilaku, kebiasaan, dan pola-pola kebudayaan lain. individu juga belajar tentang ketrampilan sosial (social skiil) seperti berbahasa, bergaul, berpakaian, dan cara makan. Sosialisasi merupakan proses membimbing individu kedalam dunia sosial. Proses sosial pada masyarakat pada dasarnya akan mengarahkan juga pada masalah proses sosialisasi pada usia anak. Hal ini cukup beralasan karena anak merupakan bagian dari masyarakat dan sebagai objek penting dalam proses sosialisasi. Sebagian bagian dari masyarakat anak dituntut dapat hidup bermasyarakat secara baik, dan sebagai proses sosialisasi, anak merupakan individu yang perlu mendapatkan proses belajar bermasyarakat. Anak sebagai objek penting dalam proses pembelajaran mempunyai kedudukan penting dalam proses sosialisasi. Dilihat dari segi umur atau usia anak dapat dipahami dari interval usia: usia bayi: 1-1 tahun, usia anak 1-12 tahun, usia remaja: 12-15 tahun, usia pemuda: 15-30 tahun, dan usia dewasa: 30 tahun ke atas. Dilihat dari interval usia di atas, yang dimaksud anak adalah individu yang berusia 1-12 tahun. Bila dikaitkan dengan usia sekolah, anak yang dimaksud adalah anak-anak dan anak usia sekolah dasar. Terlepas dari aspek yang lebih penting adalah bagaimana proses sosialisasi pada anak itu sendiri. Karena sosialisasi manusia tetap berlangsung terus selama manusia masih hidup. Sebagai fungsi sosial, selain fungsi biologis, ekonomi, dan agama, keluarga memiliki peran sangat penting dalam proses sosialisasi. Orang tua hendaknya memeberi teladan yang terbaik bagi anak-anak tentang banyak hal dalam konteks proses sosialisasi. Sosialisasi anak diharapkan sebagai bekal ke depan agar anak dapat beradaptasin dan berfikir secara positif di tengah masyarakat. Sosialisasi sebagai proses belajar dan beradaptasi, di mana anak didik memerlukan kekayaan personal (personal syestem propertis) seperti: pengetahuan, keterampilan, sikap, prilaku, nilai, kebutuhan, motivasi, kognitif, afektif, dan pola konatif. Pada kemudian hari, mereka dapat beradaptasi (pada aspek: psikologi, sosial, dan budaya), tumuh dan berkembang dengan baik, dan menjadi mandiri dallam kehidupannya. Ahmad Tafsir (1994), mengatakan bahwa kurangnya perhatian sekolah terhadap aspek afektif dikarenakan memang sekolah tidak memungkinkan dapat melakukannya kendatipu tugas pendidikan tidak hanya mengajar, tetapi juga mendidik. Dukatakan Zakiya Darajat (1992) “bahwa di sekolah, pendidikan otak/intelektual anak didik anak didik kendatipun guru tidak hanya mengajar tetapi juga mendidik.
Ary H. Gunawan (2005) mengatkan bahwa sejumlah peranan sekolah, Memberikan bekal pengetahuan dan keterampilan membentuk kader pemimpin, sebagai tempat mengantisipasi mobilitas sosial, membantu memecahkan masalah sosial sebagai agen penerus dan pengembangan kebudayaan dan membantu keejahteraan keluarga. Mengadakan kumpulan sosial, seperti perkumpulas sekolah, pramuka olah raga dan lain sebagainya. Mengadakan kumpulan sosial seperti perkumpulan sekolah,pramuka,olah raga dan sebaginya yang memberi kesempatan anak-anakuntuk mempelajari dan mempraktikkan berbagai keterampilan sosial.
b. Sumber dan Metode yang digunakan
1. Prosedur
Obsevasi ini dilakukan dengan cara individu yang mengambil topik bahasan dan sasaran yang telah dipelajari sebelumnya. Sekolah yang menjadi sasaran observasi adalah MA DARUL FUNUN, yaitu salah satu MA yang berada di kabupaten Ogan Ilir. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kualitatif.
2. Instrumen
Instrumen yang dilakukan pada observasi ini menggunakan tekhnik wawancara. Narasumbernya adalah wakil kepala sekolah. Wawancara ini mengenai perumusan visi, misi, tujuan dan sasaran sekolah atau madrasah.
Memperkenalkan anak dengan toko teladan, dalam hal ini pendidikan (guru) Menggunakan tindakan positif seperti pujian, hadiah, dan sebaginya.
5. Hasil wawancara/observasi
Dalam sosialisasi anak, setidaknya terdapat beberapa faktor yang memengaruhinya pertama,keteladanan orang tua. Seorang anak akan cenderung bersikap sopan,santun, patuh, kerja keras, disiplin,religius,dan lan sebagainya. Kedua, lingkungan pergaulan. Pergaulan anak berpengaruh terhadap proses pembentukan kepribadian anak. Hal ligkungan akan mempengaruhi proses sosialisasi anak. F.G Robins dalam Abu Ahmadi (1991) mengemukakan ada lima faktor yang memengaruhi proses sosialisasi anak didik, kelima faktor yang menjadi dasar perkembangan kepribadian anak didik itu adalah:
Sifat dasar, merupkan keseluruhan potensi-potensi yang diwarisi oleh seorang dari ayah dan ibunya. Lingkungan prental adalah lingkungan dalam kandungan ibu, Perbedaan individual, perbedaan perorangan merupak salah satu satu faktor yang memengaruhi sosialisasi. Lingkungan alam ialah kondisi-kindisi di sekitar individu yang memengaruhi proses sosialisasi. Motivati-motivasi adalah kekuatan-kekuatan dari dalam diri individu yang menggerakkan individu untuk berbuat.
a. Perkembangan manusia tampak pada dua aspek
Aspek biologis, makanan,minuman,dan perlindungan telah mengubah bayi menjadi manusia yang dewasa jasmaniah. Aspek personal sosial, pengalaman dan pengaruh manusia lain telah mengubah anak menjadi pribadi sosial warga masyarakat yang bertanggung jawab. Dalam proses sosialisasi ini, individu mendapatkan pengawasan, pembatasan, dan hambatan dari orang lain atau masyarakat. Individu juga mendapatkan bimbingan, dorongan, simulasi, dan motivasi dari orang lain atau masyarakat. Proses belajar sosial berarti individu mempelajari beragam peran sosial. Peran sosial merupakan fungsi atau tingkah lakunya yang diharapkan dari seseorang oleh kelompok atau kebudyaan. Peran sosial merupakan pola-pola tingkah laku mana ditentukan yang umum dilakukan oleh orang-orang yang mempunyai posisi sosial yang sma, pola tingkah laku mana diharapkan oleh anggota masyarakat lain. Sebagai proses, sosialisasi memiliki beberapa metode yang digunakan dalam memengaruhi sosialisasi anak.
Metode pengajaran dan hukuman. Dalam proses sosialisasi hukuman diberikan kepada anak yang bertingkah laku salah, tidak baik, kurang pantas atau tidak diterima oleh masyarakat. Hukuman dapat berupa hukuman fisik atau hukuman sosial sdangkan ganjaran diberikan oleh anak yang berprilaku baik. Dengan ganjaran diharapkan anak termotivasi untuk selalu berbuat baik. Metode didactik teaching. Mengutamakan pengajaran kepada anak tentang berbagai macam pengetahuan dan keterampilan.
Metode pemberian contoh, anak-anak cenderung mencontoh semua tingkah laku orang yang ada di sekiatrnya. Dengan memberikan contoh akan terjadi proses mitasi (peniruan), yang terjadi secara sadar maupun tidak sadari. Proses sosialisasi di sekolah pada dasarnya tidak berbeda dengan proses sosialisasi di masyarakat dan dikeluarga, yakni menanamkan dan mewariskan kebudayaan kepada anak didik. Sekolah merupakan salah satu institusi sosial yang memengaruhi proses sosialisasi dan berfungsi mewariskan kebudayaan masyarakat kepada anak. Hendi S dan Ramadani Wahyu  (2001) mengungkapkan bahwa proses sosialisasi sangat berperan dalam pembentukan kepribadiab, interaksi anak didik dengan lingkungan sosial akan berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak.  Pembentukan kepribadian dipengaruhi beberapan faktor :
1. Keteladanan orang tua, kehadiran orang tua atau orang dewasa dalam keluarga memiliki fungsi pendidikan yang pernah yang pertama dan utama. Proses sosialisasi oleh anak didik yang dilakukan dengan cara meniru tingkah laku dan tutur kata orang dewasa yang berada di sekitar lingkungan terdekatnnya.
2. Warisan biologis orang tua, setiap manusia normal memiliki persamaan biologis tertentu. Persamaan biologis membantu menjelaskan beberapa persamaan dalam kepribadian dan perilaku seseorang.
3. lingkungan fisik, perbedaan prilaku kelompok, sebagian besar disebbkan oleh perbedaan iklim, topografi dan sumber lain.
4. lingkungan pergaulan, kepribadian seseorang di tentukan juga oleh hubungan dengan orang lain.
5. keyakinan terhadap agama, agama memiliki pengaruh yang besar dalam pembentukan kepribadian seseorang. Hal ini dei karenakan agama mengajarkan cara berprilaku, sehingga orang yang taat beragama akan menampilkan perilaku yang baik.
6. Kebudayaan daerah, kebudayaan daerah juga berpengaruh terhadap kehidupan dan prilaku seorang walaupun hal itu jarang disadari.
Dalam sosialisasi anak didik, terdapat sejumlah media sosialisasi, yakni:
Keluarga, yang merupakan orang pertama yang mengajarkan hal-hal yang berguna bagi perkembangan dan kemajuan hidup manusia adalah anggota keluarga. Orang tua menjalankan fungsi sosialisasi. Melalui keluarga memperkenalkan pola ttingkah laku, sikap, keyaakinan cita-cita dan nilai-nilai yang di anut masyarakat.
Teman sepermainan dan sekolah, yang merupakan ligkungan sosial kedua bagi anak setelah keluarga, melalu lingkungan sekolah dan teman sebaya anak mulai mengenal harga diri, citra diri, dan hasrat pribadi.
Lingkungan kerja, yang merupakan proses sosialisasi lanjutan tempat kerja seorang mulai berorganisasi nyata dalam suatu sistem. Misalnya, bagaimana menyelesaikan pekerjaan, bagaimana bekerja sama dengan bagian lain, dan bagaimana beradaptasi dengan rekan kerja.
Media massa, yang merupakan saran dalam proses sosialisasi karena media banyak memberikan informasi yang dapat menambah wawasan untuk memahami keberadaan manusia dan berbagai permasalahan yang ada lingkingan sekitarnya.media masa merupakan media yang efektif dan efisien untuk mendapat informasi keadaan dan keberadaan lingkungan dan kebudayaan, sehingga dengan informasi dapat menambah wawasan seseorang.
7. Kesimpulan
Individu adalah makhluk sosial, begitu pund dengan anak didikk bagian dari individu. Anak didik dalam lingkungannya selalu berinteraksi baik di dalam keluarga, sekolah, dam masyarakat. Sedangkan sosialisasi adalah proses membimbing individu ke dalam dunia sosial yang berlangsung dalam interaksi individu dengan lingkungannya. Dalam proses sosialisasi individubelajar tingkah laku, juga keterampilan pola-pola kebudayaan lainnya, juga keterampilan sosial seperti berbahasa, bergaul, berpakaian, cara makan, dan sebaginya.





DAFTAR PUSTAKA
Ary H. Gunawan, Sosiologi pendidikan, (Jakarta:Rineka Cipta, 2005).
Thomas Ford Hoult dalam Abu Ahmadi, sosiologi pendidikan,Jakarta: Rineka Cipta, 1991.
S. Nasution, Sosiologi pendidikan, (Jakarta:Bumi Aksara, 2009).
Hendi Suhendi dan Ramdani Wahyu, Pengantar Studi Sosiologi Keluarga, (Bandung: Pustaka Setia, 2001).
Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan dalam Prespektif Islam, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya.


Jumat, 22 Juni 2018

Laporan Observasi Tentang Sekolah Sebagai Organisasi

Laporan Observasi 
Tentang Sekolah Sebagai Organisasi
Oleh : Seli Arindah (1730203163)

BAB 1
PEMBAHASAN

1. Alasan tertarik melakukan survei/penelitian 
Alasan saya mengambil judul observasi Sekolah Sebagai Organisasi karena Pelaksanaan pendidikan nasional, harus menjamin peningkatan mutu pendidikan ditengah perubahan agar warga Indonesia, menjadi manusia yang bertakwa kepada tuhan yang maha esa, berakhlak mulia, cerdas, produktif, dan berdaya saing tinggi, dalam pergaulan sosial maupun Internasional. Apalagi pada saat ini, pengetahuan dan teknologi telah membawa perubahan di hampir semua aspek kehidupan dan membawa manusia ke dalam era persaingan global yang semakin ketat, sehingga pendidikan perlu mengembangkan dan meningkatkan kualitas pendidikan.
Adapun tujuan pendidikan di Indonesia secara umum terdapat dalam UUSPN No. 20 tahun 2003 BAB 11 Pasal 3, yaitu :
Mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada tuhan yang maha esa, demokratis serta bertanggung jawab. (2005 : 12). Melihat betapa pentingnya peran pendidikan dalam meningkatkan kualitas dan derajat manusia, maka setiap lembaga pendidikan semakin berlomba untuk mencapai tujuan pendidikan tersebut dengan menghasilkan out put yang berkualitas sesuai dengan tujuan pendidikan.
A. Rumusan Masalah
1. Jelaskan sekolah sebagai organisasi ?
2. Bagaimana sistem sekolah sebagai organisasi ?
B. Kajian Teoriritis
Sekolah adalah  sebuah konsep yang mempunyai makna ganda. Pertama, sekolah berarti suatu bangunan atau lingkungan fisik dengan segala perlengkapannya yang merupakan tempat untuk menyelenggarakan proses pendidikan tertentu bagi kelompok manusia tertentu. Dengan demikian, apabila kita mendengar perkataan “sekolah” maka yang terbayang adalah lingkungan fisik seperti  itu. Bayangan sekolah sebagai lingkungan fisik seperti itu diperkuat dengan keseragaman relative mengenai bentuk bangunan dan perlengkapannya,sehingga dapat dikatakan bahwa kondisi fisik sekolah-sekolah yang sejenis dan setingkat relative sama. Kedua,sekolah berarti suatu proses atau kegiatan belajar mengajar. Kita bisa menggunakan istilah “menyekolahkan” anak, atau mengatakan”anak  saya bersekolah SMP Negeri 1”. Dalam hal ini apabila mendengar perkataan ”sekolah” maka yang terbayang di kepala kita adalah proses pendidikan itu sendiri.
Jadi dalam hal ini sekolah dipandang sebagai sebuah pranata untuk memenuhi kebutuhan khusus tertentu. Bisa juga “sekolah” diartikan sebagai sebuah organisasi, yaitu organiasi social yang mempunyai struktur tertentu yang melibatkan sejumlah orang dengan tugas melaksanakan suatu fungsi untuk memenuhi suatu kebutuhan. Sesungguhnya ketiga pengertian itu selalu berdampingan,karena proses belajar berjalan dalam sebuah lokasi dan diselenggarakan oleh organisasi yang mempunyai struktur dan tujuan tertentu. Penampilan keterpaduan antara ketiga makna tersebut dipengaruhi oleh berbagai factor seperti jumlah,tingkat usia, serta karakteristik lain yang menandai orang-orang yang terlibat didalamnya serta tujuan,program kerja dan kegiatan yang dilaksanakan,lama waktu penyelenggaraan,dan pendekatan yang digunakan. Akan tetapi diantara semuanya itu terdapat persamaan yaitu bahwa setiap lembaga yang dinamakan sekolah berperan mengurusi manusia,bukan mengurusi benda-benda mati.
Dalam hal ini Setiap sekolah memiliki komponen-komponen sarana fisik seperti lahan, bangunan (kantor, ruang belajar, jamban, dan lain-lain), kurikulum, dan orang-orang (guru,pimpinan, karyawan non edukatif, dan pelajar). Komponen-komponen tersebut menyumbang dengan fungsi dan perannya untuk keberhasilan lembaga. Sebagai sebuah system, sekolah mempunyai keterkaitan dengan sistem lain yang jumlahnya tidak sedikit. Sistem luar itu meliputi antara lain orang tua siswa,komuniti sekitar sekolah dll. Pola hubungan antara sekolah dengan system lain diwarnai dan diisi dengan informasi-informasi yang berarah timbal balik. Input atau timbal balik itu dapat berupa dorongan bagi sekolah untuk mengadakan perubahan pada struktur atau interaksi edukatif di dalamnya atau untuk mempertahankan yang telah ada. Umpan balik yang menimbulkan perubahan disebut morfogenis,sedangkan yang mendorong untuk mempertahankan corak struktur dan interaksi yang telah ada dinamakan umpan balik yang bersifat morfostatis. 
C. Metodelogi
1. Pendekatan Teori
a. Sekolah
Kata sekolah berasal dari bahasa latin, yakni skhole, scolae, skhoe atau scolae yang memiliki arti waktu luang atau waktu senggang, dimana ketika itu sekolah adalah kegiatan diwaktu luang bagi anak-anak ditengah kegiatan mereka, yakni bermain dan menghabiskan waktu menikmati masa anak-anak dan remaja. Kegiatan dalam waktu luang adalah mempelajari cara berhitung, secara membaca huruf dan mengenal tentang moral (budi pekerti) dan estetika (seni). Utuk mendampingi dalam kegiatan scola anak-anak didampingi oleh orang ahli dan mengerti tentang psikologi anak, sehingga memeberikan kesempatan-kesempatan yang sebebsar-besarnya  kepada anak-anak untuk  menciptakan sendiri dunianya melalui berbagai pelajaran diatas.
Kini, kata sekolah dikatakan sunarto (1993), telah berubah berupa bangunan atau lembaga untuk belajar dan serta tempat memberi dan menerima pelajaran. Sekolah dipimpin oleh seorang kepala sekolah, dan kepala sekolah dibantu oleh wakil kepala sekolah, jumlah kepala sekolah bisa berbeda pada tiap sekolahanya, tergantung dengan kebutuhan. Bangunan sekolah disusun meninggi untuk memenfaatkan tanah yang tersedia dan dapat diisi dengna fasilitas yang lain. Ketersediaan sarana pada suatu sekolah memiliki peranan penting dalam terlaksanakan proses pendidikan.
Sekolah adalah sebuah lembaga yang dirancang untuk pengajaran siswa atau murid di bawah pengawasan pendidik (guru). sebagian besar negara memiliki sistem pendidikan formal, yang umumnya wajib, dalam upaya menciptakan anak didik agar mengalami kemajuan setelah melalui proses pembelajaran. Nama- nama sekolah ini berfariasi menurut negara, tetapi umumnya termasuk sekolah dasar untuk anak-anak muda dan sekolah menengah untuk remaja yang telah menyelesaikan sekolah dasar.
            Ada pula sekolah non pemerintah, yang yang disebut sekolah swasta (private schools). Sekolah swasta mungkin untuk anak-anak dengan kebutuhan khusus ketika pemerintah tidak bisa memberi sekolah khusus bagi mereka, keagamaan, seperti sekolah Islam (madrasah, pesantren):sekolah kristen, sekolah katolik, sekolah Hindu, sekolah Budha atau sekolah khusus lainya yang memeiliki standar lebih tinggi  untuk memepersiapkan prestasi pribadi anak didik.
b. Organisasi
Robert Presthus dalam bukunya The Organizational Society (1962) menyatakan bahwa masyarakat kita merupakan yang terdiri dari organisasi-organisasi. Pernyataan tersebut menunjukkan betapa organisasi telah menjadi fenomena yang menonjol dalam kehidupan. Jadi organisasi merupakan kumpulan orang-orang  yang bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama. 
Menurut Sondang P. Siagian organisasi adalah setiap bentuk persekutuan antara dua orang atau lebih yang bekerja sama untuk sesuatu tujuan bersama dan terikat secara formal. Atmosudirdjo berpendapat bahwa organisasi adalah suatu bentuk kerja sama antara sekelompok orang-orang berdasarkan suatu perjanjian untuk bekerja sama guna mencapai tujuan yang tertentu.
            Dari pendapat para ahli di atas dapat kita simpulkan bahwa organisasi adalah sekelompok orang yang memiliki visi dan misi sama yang saling berkaitan yang tidak dapat diganggu gugat dengan yang lainnya, sehinnga organisasi itu dapat berjalan dengan lancar dan sebagaimana mestinya.
c. Sekolah Sebagai Organisasi
Sekolah sebagai organisasi adalah perkumpulan sosial yang dibentuk oleh masyarakat, baik yang berbadan hukum maupun yang tidak berbadan hukum, yang berfungsi sebagai sarana partisipasi masyarakat dalam pembangunan bangsa dan Negara. Sebagai makhluk  yang selalu hidup bersama-sama, manusia membentuk  organisasi sosial untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu yang tidak dapat mereka capai sendiri.  Terbentuknya lembaga sosial berawal dari individu yang saling membutuhkan kemudian timbul aturan-aturan  yang dinamakan norma kemasyarakatan. Lembaga sosial sering pula dinamakan pranata soial.
Philip Robinson (1981) menyebut sekolah sebagai organisasi yaitu unit sosial yang secara sengaja dibentuk untuk tujuan-tujuan tertentu. Sekolah sengaja diciptakan untuk tujuan tertentu, yaitu memudahkan pengajaran sejumlah pengetahuan. Sekolah sebagai organisasi memiliki perbedaan dengan organisasi lainnya, sebagai contoh dengan organisasi pabrik atau klub sepak bola. Secara umum, yang membedakan segala organisasi dari organisasi yang lainnya tujuan yang ingin dicapai. Sebuah pabrik sepatu dipastikan memiliki tujuan menghasilkan barang-barang jadi berupa alas kaki, sedangkan sekolah bertujuan menghasilkan individu-individu yang terdidik. 
2. Sumber dan Metode yang digunakan    
a. Prosedur 
Obsevasi ini dilakukan dengan cara individu yang mengambil topik bahasan dan sasaran yang telah dipelajari sebelumnya. Sekolah yang menjadi sasaran observasi adalah MA DARUL FUNUN, yaitu salah satu MA yang berada di kabupaten Ogan Ilir. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kualitatif.
b. Instrumen 
Instrumen yang dilakukan pada observasi ini menggunakan tekhnik wawancara. Narasumbernya adalah wakil kepala sekolah. Wawancara ini mengenai perumusan visi, misi, tujuan dan sasaran sekolah atau madrasah. 
D. Hasil wawancara/observasi
1. Pengambilan Keputusan
Di dalam sebuah sekolah, Pengambilan keputusan mengambil andil yang sangat penting untuk menjaga keharmonisan dalam sekolah itu sendiri. Untuk dapat melakukan pengambilan keputusan dengan tepat, beliau mengatakan ada komponen-komponen yang harus diperhatikan. Yang  pertama adalah profesioanlisme, tidak hanya kepala sekolah saja yang harus profesional, para guru selain mengajar harus profesional sebagai pemimpin di kelas, manager kelas, dan organisator. Sebagai pemimpin di kelas guru harus bisa menyuruh anak didiknya agar mengikuti kegiatan belajar mengajar, sebagai manager kelas harus memiliki kemampuan mengatur suasana yang nyaman di kelas, dan sebagai organisator harus bisa bekerjasama dengan sesama guru dan dengan kepala sekolah. Yang kedua adalah harus memiliki pertimbangan sebelum mengambil keputusan, apakah keputusannya sudah matang atau belum. Yang ketiga adalah harus melihat konteks situasional, yaitu mencari latar belakang permasalahan. Yang keempat adalah pengalaman, hal ini sangat penting karena seseorang yang tidak memiliki pengalaman mengenai kepemimpinan akan sangat sulit memperoleh jawaban yang tepat dalam pengambilan keputusan. Dan yang terkhir adalah bersikap terbuka dan selektif terhadap masukan-masukan dari orang lain  terutama para orang tua wali  murid karena karena sangat berpengaruh terhadap kemajuan sekolah.
2. Gaya Kepemimipinan
Gaya kepemimpinan dalam ruang lingkup pendidikan khususnya di MA Darul Funun adalah gaya kepemimpinan Situasional. Maksud dari gaya kepemimpinan adalah menyesuaikan situasi atau konteks masalah dan orang yang dipimpin. Boleh jadi menggunakan gaya kepemimpinan demokratis dan juga menggunakan gaya kepemimpinan otoriter. Gaya kepemimpinan demokratis diterapkan kepada orang-orang yang mudah diatur misalkan musyawarah dengan wali murid, rapat dengan guru-guru, pembagian tugas organisasi, dan lain-lain. Gaya kepemimpinan otoriter diterapakan pada orang-orang yang diatur, namun dalam ruang lingkup pendidikan gaya kepemimpinan ini bukan ditujukan untuk meenakut-nakuti atau membatasi kebebasan namun lebih diarahkan untuk tujuan mendidik ke arah yang baik. Misalkan siswa MA Darul Funun dilarang melanggar peraturan-peraturan yang sudah ditetapkan oleh kepala sekolah. Sehingga dalam konteks ini gaya kepemimpinan otoriter sangat dibutuhkan dan wajib dilakukan oleh pemimpin khususnya kepala sekolah dan para guru-guru di MA DARUL FUNUN. 
Berbeda dengan gaya kepemimpinan yang diterapkan oleh beliau ketika mengajar sebagai dosen. Untuk mahasiswa yang diajar di Fakultas Ilmu Sosial (FIS) Universitas Negeri Surabaya Ketintang beliau menggunakan gaya kepemimpinan otoriter. Untuk mahasiswa  Fakultas Ilmu Sosial (FIS) beliau mengajarkan dengan tegas karena usia mahasiswa yang tergolong muda yang sering membangkang dan harus dilatih disiplin sejak dini. Sedangkan untuk mengajar guru-guru yang mengikuti sertifikasi di Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) Uneversitas Negeri Surabaya Lidah Wetan beliau menerapkan gaya kepemimpinan demokratis. Gaya kepemimpinan ini diterapkan karena beliau menganggap guru-guru yang mengikuti sertifikasi di Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) sudah dewasa dan mudah diatur.
3. Pengembangan Sekolah
Mengenai keadaan sekolah MA Darul Funun, Ibu Kepala Sekolah menilai perkembangan sudah cukup lumayan bagus namun masih membutuhkan penambahan bangunan lagi. Ke depannya pihak sekolah akan membangun toilet karena toilet yang ada saat ini dianggap masih dinilai masih kurang penambahan. Untuk meningkatkan kualitas dan pengembangan kemampuan akademik dan non akademik siswa-siswi beliau juga memberikan program tambahan. Progam tambahan tersebut meliputi komputer, drum band, dan pendidikan agama islam, dan macam-macam ekstrakulikuler lainnya. Hal ini ditujukan agar kemampuan kognitif, psikomotor, dan afektif siswa-siswi MA DARUL FUNUN bisa terasah mulai sejak dini. Dengan pemberian pendidikan agama  islam ini kepala sekolah berkeinginan untuk menanamkan nilai-nilai agama kepada siswa-siswi sejak dini. Hal ini penting karena tidak akan ada gunanya orang-orang yang memiliki intelegensi tinggi kalau tidak memiliki akhlak yang baik, orang tersebut tidak akan mampu memberikan manfaat kepada orang lain.
4. Tantangan dan Hambatan selama Menjadi Kepala Sekolah
Sebagai Kepala Sekolah MA DARUL FUNUN beliau memiliki tanggung jawab yang besar dalam memimpin sekolah. Selain usia beliau yang sudah tua, masih banyak tantangan dan hambatan yang harus dihadapi oleh beliau, yaitu dalam hal pembagian waktu yang sangat padat. Beliu adalah termasuk orang yang sangat sibuk, selain menjadi kepala sekolah MA DARUL FUNUN beliau menjadi Dosen di Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Surabaya, dosen di Universitas Terbuka Jombang, aktif dalam organisasi, dan lain sebagainya. Karena sering bolak-balik dari memimpin sebagai kepala sekolah dan mengajar sebagai dosen dan sering ke luar kota beliau sering kehilangan waktu banyak untuk beristirahat.    
5. Strategi dalam Menghadapi Tantangan dan Hambatan selama Menjadi Kepala Sekolah
Meskipun beliau sibuk menjalankan aktivitas sebagai Kepala Sekolah MA DARUL FUNUN Tambang Rambang, dosen, ketua yayasan dan kesibukan lainnya, beliau juga termasuk orang yang sangat ulet dalam mengatur waktu dan itu semua sudah diterapkan semenjak beliau masih muda hingga saat ini. Hampir setiap hari atau setiap saat beliau tidak pernah terlihat menganggur, selalu ada waktu yang digunakan beliau untuk beraktivitas. Padahal banyak orang yang sudah lanjut usia biasanya lebih banyak menghabiskan waktu untuk beristirahat di rumah daripada sibuk melakukan aktivitas kerja namun semangat beliau tidak kalah dengan anak muda. Jarang ada waktu senggang yang digunakan beliau untuk untuk beristirahat di rumah karena kesibukannya yang sangat padat.
Meskipun hanya memiliki sedikit waktu istirahat, kesibukannya tersebut justru malah menjadi berkah. Aktivitas yang padat dijadikan suatu kebahagiaan batin yang tak ternilai dibandingkan dengan berpergian ke tempat parawisata. Saat ini setiap hari minggu beliau juga mengajar sebagai dosen di Universitas Terbuka Jombang dengan diantar oleh suaminya. Menurut beliau pergi kota untuk mengajar diantar dengan suami terasa seperti pergi berparawisata dan dapat menghilangkan kepenatan setelah sibuk beraktivitas.
6. Langkah-Langkah yang Digunakan Oleh Guru untuk Membentuk Jiwa Kepemimpinan Kepada Murid-muridnya
Pada dasarnya setiap anak dapat mengasah kemampuan dasar kepemimpinan sendiri dengan hal-hal yang sederhana. Bukan dengan teori-teori yang dapat membebani anak. Menanamkan kemampuan dasar kepemimpinan pada anak dapat dilakukan dengan cara melatih self leadership yakni melatih anak untuk dapat memimpin dalam kelompok. Hal tersebut dapat dilakukan dengan cara yang sederhana yakni:
a. Memimpin berdoa sebelum memulai pelajaran.
b. Memimpin menyanyi di dalam kelas.
c. Memimpin kegiatan baris-berbaris sebelum memasuki kelas.
d. Bermain serta berinteraksi sosial dengan teman-temannya.
Selain kepemimpinan dalam kelompok yang dijelaskan diatas, kepemimpinan dapat diciptakan dalam diri murid-murid melalui :
a. Murid berdoa sebelum dan sesudah makan.
b. Murid mengerjakan tugas individu yang diberikan oleh guru dengan baik sesuai petunjuk guru.
c. Berinisiatif untuk maju jika guru menawarkan untuk menjawab pertanyaan di depan.
Semua kegiatan di atas terlebih dahulu dicontohkan oleh guru dalam beberapa kali, setelah murid mampu merekam dan mengaplikasikannya dengan baik, selanjutnya kegiatan-kegiatan tersebut dilakukan atas inisiatif murid-murid sendiri, fungsi guru sebagai pengarah dan pemantau. 
E. Kesimpulan 
Penulis dapat menyimpulkan bahwa kepemimpinan kepala sekolah di MA DARUL FUNUN terhadap efektivitas kerja guru sangatlah penting. Tanpa adanya kepemimpinan kepala Madrasah, efektivitas kerja guru tidak akan berjalan dengan lancar, ini dikarenakan seorang pemimpin adalah otak organisasi. Seorang pemimpin mengharapkan guru dapat menyelesaikan pekerjaan dengan baik.
Sekolah sebagai organisasi adalah perkumpulan sosial yang dibentuk oleh masyarakat, baik yang berbadan hukum maupun yang tidak berbadan hukum, yang berfungsi sebagai sarana partisipasi masyarakat dalam pembangunan bangsa dan Negara. Sekolah sebagai organisasi sosial dalam sosiologi, peran dan fungsinya sebagai berikut :
1. Fungsi manestifasi Pendidikan
2. Fungsi Latin Lembaga Pendidikan
Ada beberapa faktor yang dapat memepengaruhi perbedaan dalam susunan organisasi sekolah, antara lain :
1. Besar Kecilnya Sekolah
2. Letak Sekolah
3. Jenis dan Tingkatan Sekolah.
DAFTAR FUSTAKA
Idi, Abdullah. 2011. Sosiologi Pendidikan. Jakarta : Raja Grafindo Persada
Suhar Saputra, Uhar. 2013. Administrasi Pendidikan. Bandung : Refika Aditama.
Mahmud. 2012. Sosiologi Pendidikan. Bandung : Pustaka Setia
Purwanto, Ngalim. 2010. Administrasi dan Supervisi Pendidikan. Bandung : Remaja Rodaskarya
Rohmat, Kepemimpinan Pendidikan : Konsep dan Aplikasi, Purwakerto: STAIN Press 2010).


SEKOLAH SEBAGAI ORGANISASI

SEKOLAH SEBAGAI ORGANISASI

LAPORAN PENELITIAN
“SEKOLAH SEBAGAI ORGANISASI”
Oleh : RIZNA (1730203161)

I. PENDAHULUAN
Sekolah adalah sebuah lembaga yang dirancang untuk pengajaran siswa (atau murid) di bawah pengawasan pendidik (guru). Sebagian besar negara memiliki system pendidikan formal, yang umumnya wajib, dalam upaya menciptakan anak didik agar mengalami kemajuan setelah melalui proses pembelajaran.
Selain sekolah inti, anak didik di negara tertentu juga memiliki akses dan mengikuti sekolah, baik sebelum maupun sesudah pendidikan dasar dan menengah. Ada pula sekolah non-pemerintah, yang disebut swasta (private schools). Sekolah swasta mungkin  untuk anak-anak dengan kebutuhan khusus ketika pemerintah tidak bisa memberi sekolah khusus bagi mereka, keagamaan, seperti sekolah Islam (madrasah, pesantren); sekolah Kristen, sekolah Katolik, sekolah Hindu, sekolah Budha, atau sekolah khusus lainnya yang memiliki standar lebih tinggi untuk mempersiapkan prestasi pribadi anak didik. Sekolah untuk orang dewasa meliputi lembaga pelatihan perusahaan; dan pendidikan pelatihan militer.[1]
Sekolah sebagai organisasi adalah perkumpulan sosial yang dibentuk oleh masyarakat, baik yang berbadan hukum maupun yang tidak berbadan hukum, yang berfungsi sebagai sarana partisipasi masyarakat dalam pembangunan bangsa dan negara. Sebagai mahluk yang selalu hidup bersama-sama, manusia membentuk organisasi sosial untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu yang tidak dapat mereka capai sendiri.[2]
Maka dari itu saya mencoba mengamati sekolah sebagai organisasi dan juga laporan ini dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah “Sosiologi Pendidikan”. Saya harap setelah dilakukan pengamatan ini, saya dapat  mengetahui secara spesifik tentang sekolah sebagai organisasi yang efektif serta dapat menambah informasi untuk diri saya sendiri maupun orang lain.[3]
A. RUMUSAN MASALAH
1. Mengapa sekolah sebagai organisasi?
2. Bagaimana proses sosialisasi disekolah?

B. KAJIAN TEORITIS
Pengamatan organisasi lebih ditekankan pada skala makronya. Analisis sosial yang muncul seputar sekolah banyak mengupas konflik-konflik antarperanan yang terjadi di lembaga sekolah. Seperti yang diungkapkan Davies dalam Abdullah Idi (2010) bahwa lembaga pendidikan sering dirasuki oleh nilai-nilai yang terkadang bertentangan antarpihak baik dari para guru, orang tua, staf birokrat, siswa, maupun pihak aparat pimpinan sekolah.
Dengan menetapkan posisi peran kelembagaan yang bertugas untuk membekali peserta didik seperangkat pengetahuan dan keterampilan maka sekolah telah mengumandangkan jenis tujuan yang bersifat abstrak. Hal ini jelas berbeda dengan lembaga lain yang jelas-jelas memiliki objek tujuan konkret.
Setelah diteliti, para pendidik di sekolah New England memiliki pandangan yang berbeda tentang tujuan pendidikan, begitu juga antar guru dengan kepala sekolahnya, selain itu indikasi serupa ditunjukan perbedaan nilai antaradministrator dengan badan pertimbangan sekolah. Lebih jauh bukti penelitian juga menunjukan sumber utama yang melahirkan konflik di kalangan praktisi sosial tentang tujuan dan program-program special. Dipandang dari sudut tujuannya ternyata lembaga sekolah harus melakukan bermacam-macam proses penyatuan pandangan baik dari wilayah internal maupun asumsi-asumsi public di lingkup eksternal.[4]
Sejumlah tokoh seperti Delamont, Lewin, Lippit, White dan H.H Anderson adalah figur-figur yang mengeksplorasi aspek interaksi antarguru dan murid. Selaras dengan hal tersebut, Withall (1949), yang memanfaatkan karya-karya pendahulunya mencoba menemukan pengaruh situasi sosial emosional dalam ruang kelas. Ia membedakan antara metode pengajaran yang cenderung teacher-centred dengan tipologi pembelajaran learned-centred, dengan beranggapan bahwa tipe yang kedua merupakan cara yang paling efektif untuk kegiatan pembelajaran di kelas.[5]
Dalam satu rangkaian penelitian Flanders (1967) memperkuat studi tentang interaksi di kelas. Menurut pendapatnya, semakin besar ketergantungan murid kepada guru, semakin kurang siswa tersebut mengembangkan strategi-strategi belajarnya sendiri. Inti dari penerapan analisis interaksi adalah menganalisis seluruh proses interaksi edukatif di kelas dan pengaruh-pengaruh psikologinya kepada para siswa. Yang termasuk hasil penelitian di lingkup kategori interpretative adalah analisis Waller.[6]
Bagi Waller, pendidikan merupakan seni menanamkan definisi-definisi situasi yang berlaku pada kaum muda dan sudah diterima oleh golongan penyelenggara. Dengan demikian, sekolah merupakan satu alat ampuh untuk melakukan kontrol sosial. Inti dari studi tersebut mencoba menerangkan tentang fungsi sekolah yang memengaruhi alam kesadaran para siswa untuk selalu konsekuen mengamalkan kriteria penafsiran nilai yang ditekankan oleh sekolah.[7]



C. METODELOGI
1. Pendekatan
Dalam melakukan penelitian ini saya mengunakan pendekatan kuantitatif dengan mendapatkan data dari wawancara dengan narasumber.
2. Sumber yang di wawancarai
Sumber yang saya wawancarai adalah Adinda Amalia yang merupakan siswi SMK YPS Prabumulih.
3. Metode yang digunakan
Metode yang saya gunakan adalah metode penelitian pekembangan.

II. PEMBAHASAN
D. HASIL WAWANCARA
Pada Senin, 11 Juni 2018, saya berkunjung ke rumah narasumber sekitar pukul 10.00 WIB, sebelumnya saya sudah membuat janji untuk bertemu dengan b eliau.
1. Assalamualaikum dik, bolehkah saya meminta sedikit waktunya untuk saya wawancarai?
Waalaikumsalam, iya kak boleh
2. Siapa nama lengkap adik?
Nama saya Adinda Amalia
3. Berapa usia adik saat ini?
Usia saya 15 tahun kak
4. Dimana adik bersekolah dan kelas berapa?
Saya bersekolah di SMK YPS Prabumulih, kelas 10 kak
5. Apakah disekolah adik mengikuti suatu organisasi?
Iya kak saya mengikuti Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS)
6. Menurut adik apa syarat untuk menjadi seorang anggota OSIS?
Menurut saya ada beberapa syarat yang harus dimiliki oleh anggota OSIS
- Bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa
- Memiliki budi pekerti luhur dan sopan santun terhadap guru dan teman
- Memiliki bakat dan kemampuan sebagai pemimpin siswa
- Dapat mengatur waktu antara kegiatan OSIS dan pelajaran dengan sebaik-baiknya
7. Apa yang membuat pengurus osis angkatan adik beda dari pengurus osis yang lain?
Yang paling menonjol adalah kebersamaan. Kebersamaan dalam satu organisasi harus dipupuk. Karena kegiatan tidak dapat berjalan dengan baik tanpa adanya kebersamaan antar anggota organisasi.
8. Menurut adik, sikap apa yang harus dimiliki seorang anggota osis?
Banyak sikap yang harus dimiliki oleh seorang anggota osis. Tapi, yang terpenting adalah disiplin. Sebagai contoh, jika seorang anggota OSIS terlambat mengerjakan PR, maka dia tidak mencerminkan perilaku seorang pemimpin.
9. Apa harapan adik untuk pengurus OSIS ditahun berikutnya?
Untuk pengurus osis yang baru saya minta kebersamaanya harus ditingkatkan lagi. Pengurus osis yang baru seharusnya sering berkonsultasi dengan pengurus osis seniornya.
10. Baiklah, terimakasih atas waktu dan kesempatan yang telah adik berikan.


E. KESIMPULAN
Sekolah sebagai organisasi adalah perkumpulan sosial yang dibentuk oleh masyarakat, baik yang berbadan hukum maupun yang tidak berbadan hukum, yang berfungsi sebagai sarana partisipasi masyarakat dalam pembangunan bangsa dan Negara.
Sekolah sebagai organisasi sosial dalam sosiologi, peran dan fungsinya sebagai berikut :
1.    Fungsi manestifasi Pendidikan
2.    Fungsi Laten Lembaga Pendidikan
Ada beberapa faktor yang dapat memepengaruhi perbedaan dalam susunan organisasi sekolah, antara lain :
1. Besar Kecilnya Sekolah
2. Letak Sekolah
3. Jenis dan Tingkatan Sekolah


III. DAFTAR PUSTAKA
Idi, Abdullah. 2011. Sosio Logi Pendidikan. Jakarta : Raja Grafindo Persada
Mahmud. 2012. Sosiologi Pendidikan. Bandung : Pustaka Setia
Nasution, S. 2009. Sosiologi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara
Purwanto, Ngalim. 2010. Administrasi dan Supervisi Pendidikan. Bandung : Remaja Rodaskarya
SuharSaputra, Uhar. 2013. Administrasi Pendidikan. Bandung : Refika Aditama


[1] Abdullah Idi, Sosiologi Pendidikan, (Jakarta: Rajawali Pers, 2011), hlm. 142
[2] Ibid., hlm. 143
[3] Ibid., hlm. 150
[4] S. Nasution, Sosiologi Pendidikan, (Jakarta: Bumi Aksara, 2009), hlm 80
[5] Mahmud, Sosiologi Pendidikan, (Bandung: Pustaka Setia, 2012), hlm.163
[6] Ngalim Purwanto, Administrasi dan Supervisi Pendidikan, (Bandung: Remaja Rodaskarya, 2010), hlm. 161
[7] Suharsaputra, Administrasi Pendidikan (Bandung : Refika Aditama, 2013), hlm.26


SEKOLAH SEBAGAI ORGANISASI LAPORAN PENELITIAN “ SEKOLAH SEBAGAI ORGANISASI” Oleh : YOLI AMRIL SYAFIRA (1730203181) PENDAHULUAN...