SEKOLAH SEBAGAI ORGANISASI
LAPORAN PENELITIAN
“SEKOLAH SEBAGAI ORGANISASI”
Oleh : RIZNA (1730203161)
I. PENDAHULUAN
Sekolah adalah sebuah lembaga yang dirancang untuk pengajaran siswa (atau murid) di bawah pengawasan pendidik (guru). Sebagian besar negara memiliki system pendidikan formal, yang umumnya wajib, dalam upaya menciptakan anak didik agar mengalami kemajuan setelah melalui proses pembelajaran.
Selain sekolah inti, anak didik di negara tertentu juga memiliki akses dan mengikuti sekolah, baik sebelum maupun sesudah pendidikan dasar dan menengah. Ada pula sekolah non-pemerintah, yang disebut swasta (private schools). Sekolah swasta mungkin untuk anak-anak dengan kebutuhan khusus ketika pemerintah tidak bisa memberi sekolah khusus bagi mereka, keagamaan, seperti sekolah Islam (madrasah, pesantren); sekolah Kristen, sekolah Katolik, sekolah Hindu, sekolah Budha, atau sekolah khusus lainnya yang memiliki standar lebih tinggi untuk mempersiapkan prestasi pribadi anak didik. Sekolah untuk orang dewasa meliputi lembaga pelatihan perusahaan; dan pendidikan pelatihan militer.[1]
Sekolah sebagai organisasi adalah perkumpulan sosial yang dibentuk oleh masyarakat, baik yang berbadan hukum maupun yang tidak berbadan hukum, yang berfungsi sebagai sarana partisipasi masyarakat dalam pembangunan bangsa dan negara. Sebagai mahluk yang selalu hidup bersama-sama, manusia membentuk organisasi sosial untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu yang tidak dapat mereka capai sendiri.[2]
Maka dari itu saya mencoba mengamati sekolah sebagai organisasi dan juga laporan ini dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah “Sosiologi Pendidikan”. Saya harap setelah dilakukan pengamatan ini, saya dapat mengetahui secara spesifik tentang sekolah sebagai organisasi yang efektif serta dapat menambah informasi untuk diri saya sendiri maupun orang lain.[3]
A. RUMUSAN MASALAH
1. Mengapa sekolah sebagai organisasi?
2. Bagaimana proses sosialisasi disekolah?
B. KAJIAN TEORITIS
Pengamatan organisasi lebih ditekankan pada skala makronya. Analisis sosial yang muncul seputar sekolah banyak mengupas konflik-konflik antarperanan yang terjadi di lembaga sekolah. Seperti yang diungkapkan Davies dalam Abdullah Idi (2010) bahwa lembaga pendidikan sering dirasuki oleh nilai-nilai yang terkadang bertentangan antarpihak baik dari para guru, orang tua, staf birokrat, siswa, maupun pihak aparat pimpinan sekolah.
Dengan menetapkan posisi peran kelembagaan yang bertugas untuk membekali peserta didik seperangkat pengetahuan dan keterampilan maka sekolah telah mengumandangkan jenis tujuan yang bersifat abstrak. Hal ini jelas berbeda dengan lembaga lain yang jelas-jelas memiliki objek tujuan konkret.
Setelah diteliti, para pendidik di sekolah New England memiliki pandangan yang berbeda tentang tujuan pendidikan, begitu juga antar guru dengan kepala sekolahnya, selain itu indikasi serupa ditunjukan perbedaan nilai antaradministrator dengan badan pertimbangan sekolah. Lebih jauh bukti penelitian juga menunjukan sumber utama yang melahirkan konflik di kalangan praktisi sosial tentang tujuan dan program-program special. Dipandang dari sudut tujuannya ternyata lembaga sekolah harus melakukan bermacam-macam proses penyatuan pandangan baik dari wilayah internal maupun asumsi-asumsi public di lingkup eksternal.[4]
Sejumlah tokoh seperti Delamont, Lewin, Lippit, White dan H.H Anderson adalah figur-figur yang mengeksplorasi aspek interaksi antarguru dan murid. Selaras dengan hal tersebut, Withall (1949), yang memanfaatkan karya-karya pendahulunya mencoba menemukan pengaruh situasi sosial emosional dalam ruang kelas. Ia membedakan antara metode pengajaran yang cenderung teacher-centred dengan tipologi pembelajaran learned-centred, dengan beranggapan bahwa tipe yang kedua merupakan cara yang paling efektif untuk kegiatan pembelajaran di kelas.[5]
Dalam satu rangkaian penelitian Flanders (1967) memperkuat studi tentang interaksi di kelas. Menurut pendapatnya, semakin besar ketergantungan murid kepada guru, semakin kurang siswa tersebut mengembangkan strategi-strategi belajarnya sendiri. Inti dari penerapan analisis interaksi adalah menganalisis seluruh proses interaksi edukatif di kelas dan pengaruh-pengaruh psikologinya kepada para siswa. Yang termasuk hasil penelitian di lingkup kategori interpretative adalah analisis Waller.[6]
Bagi Waller, pendidikan merupakan seni menanamkan definisi-definisi situasi yang berlaku pada kaum muda dan sudah diterima oleh golongan penyelenggara. Dengan demikian, sekolah merupakan satu alat ampuh untuk melakukan kontrol sosial. Inti dari studi tersebut mencoba menerangkan tentang fungsi sekolah yang memengaruhi alam kesadaran para siswa untuk selalu konsekuen mengamalkan kriteria penafsiran nilai yang ditekankan oleh sekolah.[7]
C. METODELOGI
1. Pendekatan
Dalam melakukan penelitian ini saya mengunakan pendekatan kuantitatif dengan mendapatkan data dari wawancara dengan narasumber.
2. Sumber yang di wawancarai
Sumber yang saya wawancarai adalah Adinda Amalia yang merupakan siswi SMK YPS Prabumulih.
3. Metode yang digunakan
Metode yang saya gunakan adalah metode penelitian pekembangan.
II. PEMBAHASAN
D. HASIL WAWANCARA
Pada Senin, 11 Juni 2018, saya berkunjung ke rumah narasumber sekitar pukul 10.00 WIB, sebelumnya saya sudah membuat janji untuk bertemu dengan b eliau.
1. Assalamualaikum dik, bolehkah saya meminta sedikit waktunya untuk saya wawancarai?
Waalaikumsalam, iya kak boleh
2. Siapa nama lengkap adik?
Nama saya Adinda Amalia
3. Berapa usia adik saat ini?
Usia saya 15 tahun kak
4. Dimana adik bersekolah dan kelas berapa?
Saya bersekolah di SMK YPS Prabumulih, kelas 10 kak
5. Apakah disekolah adik mengikuti suatu organisasi?
Iya kak saya mengikuti Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS)
6. Menurut adik apa syarat untuk menjadi seorang anggota OSIS?
Menurut saya ada beberapa syarat yang harus dimiliki oleh anggota OSIS
- Bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa
- Memiliki budi pekerti luhur dan sopan santun terhadap guru dan teman
- Memiliki bakat dan kemampuan sebagai pemimpin siswa
- Dapat mengatur waktu antara kegiatan OSIS dan pelajaran dengan sebaik-baiknya
7. Apa yang membuat pengurus osis angkatan adik beda dari pengurus osis yang lain?
Yang paling menonjol adalah kebersamaan. Kebersamaan dalam satu organisasi harus dipupuk. Karena kegiatan tidak dapat berjalan dengan baik tanpa adanya kebersamaan antar anggota organisasi.
8. Menurut adik, sikap apa yang harus dimiliki seorang anggota osis?
Banyak sikap yang harus dimiliki oleh seorang anggota osis. Tapi, yang terpenting adalah disiplin. Sebagai contoh, jika seorang anggota OSIS terlambat mengerjakan PR, maka dia tidak mencerminkan perilaku seorang pemimpin.
9. Apa harapan adik untuk pengurus OSIS ditahun berikutnya?
Untuk pengurus osis yang baru saya minta kebersamaanya harus ditingkatkan lagi. Pengurus osis yang baru seharusnya sering berkonsultasi dengan pengurus osis seniornya.
10. Baiklah, terimakasih atas waktu dan kesempatan yang telah adik berikan.
E. KESIMPULAN
Sekolah sebagai organisasi adalah perkumpulan sosial yang dibentuk oleh masyarakat, baik yang berbadan hukum maupun yang tidak berbadan hukum, yang berfungsi sebagai sarana partisipasi masyarakat dalam pembangunan bangsa dan Negara.
Sekolah sebagai organisasi sosial dalam sosiologi, peran dan fungsinya sebagai berikut :
1. Fungsi manestifasi Pendidikan
2. Fungsi Laten Lembaga Pendidikan
Ada beberapa faktor yang dapat memepengaruhi perbedaan dalam susunan organisasi sekolah, antara lain :
1. Besar Kecilnya Sekolah
2. Letak Sekolah
3. Jenis dan Tingkatan Sekolah
III. DAFTAR PUSTAKA
Idi, Abdullah. 2011. Sosio Logi Pendidikan. Jakarta : Raja Grafindo Persada
Mahmud. 2012. Sosiologi Pendidikan. Bandung : Pustaka Setia
Nasution, S. 2009. Sosiologi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara
Purwanto, Ngalim. 2010. Administrasi dan Supervisi Pendidikan. Bandung : Remaja Rodaskarya
SuharSaputra, Uhar. 2013. Administrasi Pendidikan. Bandung : Refika Aditama
[1] Abdullah Idi, Sosiologi Pendidikan, (Jakarta: Rajawali Pers, 2011), hlm. 142
[2] Ibid., hlm. 143
[3] Ibid., hlm. 150
[4] S. Nasution, Sosiologi Pendidikan, (Jakarta: Bumi Aksara, 2009), hlm 80
[5] Mahmud, Sosiologi Pendidikan, (Bandung: Pustaka Setia, 2012), hlm.163
[6] Ngalim Purwanto, Administrasi dan Supervisi Pendidikan, (Bandung: Remaja Rodaskarya, 2010), hlm. 161
[7] Suharsaputra, Administrasi Pendidikan (Bandung : Refika Aditama, 2013), hlm.26
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
SEKOLAH SEBAGAI ORGANISASI LAPORAN PENELITIAN “ SEKOLAH SEBAGAI ORGANISASI” Oleh : YOLI AMRIL SYAFIRA (1730203181) PENDAHULUAN...
-
SEKOLAH DAN MASYARAKAT LAPORAN OBSERVASI HUBUNGAN SEKOLAH DAN MASYARAKAT SD NEGERI 22 TALANG KELAPA Via Anjela Sari (1730203...
-
LAPORAN OBSERVASI TENTANG LINGKUNGAN MASYARAKAT DISUSUN OLEH : UMIYATI (1730203174) BAB I PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Ma...
-
Laporan Observasi Tentang Sekolah Sebagai Organisasi Oleh : Seli Arindah (1730203163) BAB 1 PEMBAHASAN 1. Alasan tertarik m...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar