Sabtu, 23 Juni 2018

Laporan Observasi Tentang Sosialisasi Anak Didik

Laporan Observasi
Tentang Sosialisasi Anak Didik
Oleh : Subra (1730203169)

Pendahuluan
1. Alasan saya melakukan observasi

Pendidikan memiliki peran penting dalam kehidupan manusia karena mempengaruhi seluruh aspek kepribadian dan kehidupannya. Pendidikan dasar tentunya menjadi fondasi untuk tahap pendidikan selanjutnya. Dasar tersebut dapat diperoleh manusia secara formal di tingkat Sekolah Dasar (SD) pada tahap usia anak-anak. Pendidikan di SD sangat berkaitan erat dengan anak-anak yang notabennya adalah subyek dalam kegiatan belajar di sekolah SD. Mereka hidup dalam lingkungan masyarakat yang juga akan memberikan mereka pendidikan dalam lingkup non formal. Perkembangan pendidikan akan seiring dengan dinamika masyarakatnya, karena ciri masyarakat selalu berkembang. Begitu juga anak-anak yang mudah terpengaruh dan sering berubah keinginannya.
Oleh karena itu sebagai guru kita harus mengenal lingkungan peserta didik yang berkaitan dengan kehidupannya. Karena faktor lingkungan tersebut adalah salah satu hal yang mempengaruhi keberhasilan peserta didik dalam belajar. Dengan demikian guru akan dapat menentukan metode, strategi, teknik dan model pembelajaran yang tepat untuk diterapkan pada peserta didik tersebut.
Kegiatan penelitian ini dilakukan untuk mengetahui tindakan yang harus dilakukan oleh seorang guru terhadap anak didiknya dalam mencapai keberhasilan kegiatan belajar mengajar. Salah satunya adalah dengan mengenal kepribadian peserta didik yang dapat diketahui dari lingkungan sekitarnya.
Dari kegiatan penelitian ini diharapkan guru mampu memahami kepribadian peserta didiknya yang sangat berguna untuk menentukan rencana tindak lanjut yang akan dilakukan untuk mencapai keberhasilan belajar peserta didiknya.

2. Rumusan Masalah

a. Sebutkan dan jelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan belajar?
b. Di Indonesia sekarang diterapkan sistem pendidikan berkarakter, bagaimana guru menanamkan karakter pada peserta didik?
3. Kajian Teoritis
Pendidikan memiliki pengaruh yang dinamis dalam kehidupan manusia. Pendidikan dapat mengembangkan berbagai potensi yang dimilikinya secara optimal, yaitu pengembangan berbagai potensi yang dimilikinya dalam aspek fisik, intelektual, emosional, sosial dan spiritual, sesuai dengan tahap perkembangan serta karakteristik fisik dan lingkungan sosial budaya dimana dia hidup. Karena setiap individu memiliki potensi yang ada pada dirinya, tampak atau tidaknya tergantung pada bagaimana potensi tersebut dapat dikembangkan.
Salah satu pengertian pendidikan dikemukakan oleh G. Thompson (1957) yang menyatakan bahwa pendidikan adalah pengaruh lingkungan atas individu untuk menghasilkan perubahan-perubahan yang tetap di dalam kebiasaan-kebiasaan, pemikiran, sikap-sikap dan tingkah laku. Dapat disimpulkan bahwa pendidikan bukan hanya sarana menyiapkan anak untuk masa depannya, tetapi juga perkembangan anak sekarang menuju kedewasaannya. Makalah ini berisi hasil penelitian terhadap salah satu anak didik penyusun. Penelitian ini menggunakan metode penelitian dengan pendekatan yang bersifat langsung, baik dengan objek maupun factor pendukung objek misalnya, orang tua, guru, teman-teman dan lingkungan sekitar objek yang membantu terselenggaranya kegiatan penelitian ini dengan baik.
Pada penelitian ini penulis menggunakan instrumen berupa data diri objek penelitian untuk memperoleh data tentang umur objek dan anggota keluarga yang dapat menunjang terselenggaranya tujuan penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perkembangan pendidikan siswa mengalami kemajuan dibandingkan saat sebelum mengikuti Bimbingan Belajar, baik secara pendidikan akademik maupun perubahan perilaku. Hal itu di dukung dengan kemampuannya yang sudah mampu membaca dan berhitung walaupun masih harus membutuhkan bimbingan. Dan juga perilaku objek yang semakin baik daripada sebelumnya.

4. Metodelogi
a. Pendekatan Teori
1. Urgensi sosialisasi
Kimball Young dalam Ary H. Gunawan (2000) mengatakan bahwa sosialisasi merupakan hubungan interktif dimana seorang dapat mempelajari kebutuhan sosial dan kultural yang mejadikan sebagai anggota masyarakat. Hal ini tampak bahwa sosialisasi merupakan suatu proses belajar kepada seseorang agar dapat mengetahui segala sesuatu yang berhubungan dengan masyarakat, agar nanti dapat hidup di masyarakat dengan layak. Karena itu, sosialisasi merupakan prooses belajar bagi seseorang. Arti sosiologis dan Psikologis dari sosialisasi adalah Secara sosiologis, sosialisasi berarti belajar untuk menyesuaikan diri dengan mores, folkways, tradisi, dan kecakapan-kecakapan kelompok.
Secara psikologis, sosialisasi berarti/mencukup kebiasaan-kebiasaan, perangai-perangai, ide-ide, sikap, dan nilai.
Thomas Ford hoult (1991) mengatakan bahwa sosialisasi merupakan proses belajar individu untuk bertingkah laku sesuai dengan standar dalam kebudayaan suatu masyarakat.
Definisi sosiologi, seperti disimpulkan Abu Akhmadi (1991), menunjukkan:
Proses sosialisasi merupakan proses nbelajar, yakni suatu proses akomodasi individu menahan, mengubah implus-implus dalam dirinya dan mengambil cara hidup dan kebudayaan masyarakat. Dalam proses sosialisasi, individu mepelajari kebiasaan, sikap ide pola-pola nilai dan tingkah laku, dalam masyarakat di mana dia hidup. Semua sifat dan kepercayaan yang dipelajari dalam proses sosialisasi itu disusun dan di kembangkan sebagai suatu kesatuan sistem dalam diri pribadi.
Nasution (2009) menuturkan bahwa sosialisasi merupakan proses bimbingan individu ke dalam dunia sosial. Sosialisasi dilakukan dengan mendidik individu tetang kebudayaan yang harus dimiliki dan diikutinya, agar ia menjadi anggota yang baik dalam masyarakat dan dalam berbagai kelompok khusus, sosialisasi dapat dianggap sama dengan pendidikan. Sosialisasi terjadi melalui kondisi lingkungan yang menyebabkan individu mempelajari pola kebudyaan fundamental. Pola kebudayaan fundamental (fundamental culture), seperti berbahasa, cara berjalan, duduk makan, apa yang dimakan, berkelakuan sopan, mengembangkan sikap yang dianut dalam msyarakat seperti sikap terhadap agama, seks orang yang lebih tahu, pekerjaan, rekreasi, dan segala sesuatu yang perlu bagi warga masyarakat.
Sosialisasi identik dengan makna penyesuaian diri (adjustment). Konsep penyesuaian diri berasal dari biologi, dan merupakan konsep dasar dalam Teori Evolusi Darwin. Dalam biologi, istilah yang digunakan adalah adaptasi. Proses penyesuaian itu merupakan reaksi terhadap sejumlah tuntutan terhadap dirinya. Tuntutan tersebut dapat diklasifikasikan menjadi tuntutan internal dan eksternal. konfllik antara tuntutan internal dengan tuntutan eksternal misalnya konflik dorongan antara dorongan seksual di satu pihak dengan tuntutan masyarakat agar dorongan itu disalurkan dalam bentuk yang dapat diterima oleh masarakat misalnya melalui perkawinan yang sah menurut norma dan agama.
Proses penyesuaian ada empat kriteria yang dapat digunakan:
Kepuasaan psikis, penyesuaian diri yang berhasil akan menimbulkan rasa tidak puas yang menjelma dalam bentuk perasaan kecewa, gelisah,lesu, depresi.
Efisensi kerja, penyesuaian diri yang berhasil akan menampak dalam kerja atau kegiatan yang tiidak efisien. Sedangakan yanga gagal menampak dalam kerja ata kegiatan yang tidak efisien.
Gejala fisik, penyesuaian diri yang gagal akan tampak dalam gejala fisik.
Penerimaan sosial, penyesuaian diri yang berhasil akan menimbulkan reaksi setuju dari masyarakat, sedangakan yang gagal akan mendapatkan reaksi tidak setuju masyarakat.
Proses soialisasi juga merupakan proses belajar individu dalam berperilaku sesuai dengan standar dalam kebudayaan masyarakat. Proses sosialisasi juga dipandang sebagai proses akomondasi, dengan nama individu menghambat atau mengubah implus-implus sesuai dengan tekanan lingkungan dan mengembangkan pola-pola nilai tingkah laku yang baru sesuai dengan kebudayaan masyarakat.
Mengingat kehidupan manusia saling membutuhkan dan saling keterkaitan, diperlukan suatu proses sosial. Sebagai makhluk sosial manusia akan mengalami proses sosial. Proses tersebut merupakan bantuk hubungan timbal balik yang saling memengaruhi antara yang satu dengan yang lainnya. Dalam hubungan timbal balik ini, proses sosial sebagai pengaruh timbal balik antara berbagai segi kehidupan bersama.
2. Sosialisasi anak didik
Dalam proses sosialisasi, seorang individu/anak didik belajar tentang perilaku, kebiasaan, dan pola-pola kebudayaan lain. individu juga belajar tentang ketrampilan sosial (social skiil) seperti berbahasa, bergaul, berpakaian, dan cara makan. Sosialisasi merupakan proses membimbing individu kedalam dunia sosial. Proses sosial pada masyarakat pada dasarnya akan mengarahkan juga pada masalah proses sosialisasi pada usia anak. Hal ini cukup beralasan karena anak merupakan bagian dari masyarakat dan sebagai objek penting dalam proses sosialisasi. Sebagian bagian dari masyarakat anak dituntut dapat hidup bermasyarakat secara baik, dan sebagai proses sosialisasi, anak merupakan individu yang perlu mendapatkan proses belajar bermasyarakat. Anak sebagai objek penting dalam proses pembelajaran mempunyai kedudukan penting dalam proses sosialisasi. Dilihat dari segi umur atau usia anak dapat dipahami dari interval usia: usia bayi: 1-1 tahun, usia anak 1-12 tahun, usia remaja: 12-15 tahun, usia pemuda: 15-30 tahun, dan usia dewasa: 30 tahun ke atas. Dilihat dari interval usia di atas, yang dimaksud anak adalah individu yang berusia 1-12 tahun. Bila dikaitkan dengan usia sekolah, anak yang dimaksud adalah anak-anak dan anak usia sekolah dasar. Terlepas dari aspek yang lebih penting adalah bagaimana proses sosialisasi pada anak itu sendiri. Karena sosialisasi manusia tetap berlangsung terus selama manusia masih hidup. Sebagai fungsi sosial, selain fungsi biologis, ekonomi, dan agama, keluarga memiliki peran sangat penting dalam proses sosialisasi. Orang tua hendaknya memeberi teladan yang terbaik bagi anak-anak tentang banyak hal dalam konteks proses sosialisasi. Sosialisasi anak diharapkan sebagai bekal ke depan agar anak dapat beradaptasin dan berfikir secara positif di tengah masyarakat. Sosialisasi sebagai proses belajar dan beradaptasi, di mana anak didik memerlukan kekayaan personal (personal syestem propertis) seperti: pengetahuan, keterampilan, sikap, prilaku, nilai, kebutuhan, motivasi, kognitif, afektif, dan pola konatif. Pada kemudian hari, mereka dapat beradaptasi (pada aspek: psikologi, sosial, dan budaya), tumuh dan berkembang dengan baik, dan menjadi mandiri dallam kehidupannya. Ahmad Tafsir (1994), mengatakan bahwa kurangnya perhatian sekolah terhadap aspek afektif dikarenakan memang sekolah tidak memungkinkan dapat melakukannya kendatipu tugas pendidikan tidak hanya mengajar, tetapi juga mendidik. Dukatakan Zakiya Darajat (1992) “bahwa di sekolah, pendidikan otak/intelektual anak didik anak didik kendatipun guru tidak hanya mengajar tetapi juga mendidik.
Ary H. Gunawan (2005) mengatkan bahwa sejumlah peranan sekolah, Memberikan bekal pengetahuan dan keterampilan membentuk kader pemimpin, sebagai tempat mengantisipasi mobilitas sosial, membantu memecahkan masalah sosial sebagai agen penerus dan pengembangan kebudayaan dan membantu keejahteraan keluarga. Mengadakan kumpulan sosial, seperti perkumpulas sekolah, pramuka olah raga dan lain sebagainya. Mengadakan kumpulan sosial seperti perkumpulan sekolah,pramuka,olah raga dan sebaginya yang memberi kesempatan anak-anakuntuk mempelajari dan mempraktikkan berbagai keterampilan sosial.
b. Sumber dan Metode yang digunakan
1. Prosedur
Obsevasi ini dilakukan dengan cara individu yang mengambil topik bahasan dan sasaran yang telah dipelajari sebelumnya. Sekolah yang menjadi sasaran observasi adalah MA DARUL FUNUN, yaitu salah satu MA yang berada di kabupaten Ogan Ilir. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kualitatif.
2. Instrumen
Instrumen yang dilakukan pada observasi ini menggunakan tekhnik wawancara. Narasumbernya adalah wakil kepala sekolah. Wawancara ini mengenai perumusan visi, misi, tujuan dan sasaran sekolah atau madrasah.
Memperkenalkan anak dengan toko teladan, dalam hal ini pendidikan (guru) Menggunakan tindakan positif seperti pujian, hadiah, dan sebaginya.
5. Hasil wawancara/observasi
Dalam sosialisasi anak, setidaknya terdapat beberapa faktor yang memengaruhinya pertama,keteladanan orang tua. Seorang anak akan cenderung bersikap sopan,santun, patuh, kerja keras, disiplin,religius,dan lan sebagainya. Kedua, lingkungan pergaulan. Pergaulan anak berpengaruh terhadap proses pembentukan kepribadian anak. Hal ligkungan akan mempengaruhi proses sosialisasi anak. F.G Robins dalam Abu Ahmadi (1991) mengemukakan ada lima faktor yang memengaruhi proses sosialisasi anak didik, kelima faktor yang menjadi dasar perkembangan kepribadian anak didik itu adalah:
Sifat dasar, merupkan keseluruhan potensi-potensi yang diwarisi oleh seorang dari ayah dan ibunya. Lingkungan prental adalah lingkungan dalam kandungan ibu, Perbedaan individual, perbedaan perorangan merupak salah satu satu faktor yang memengaruhi sosialisasi. Lingkungan alam ialah kondisi-kindisi di sekitar individu yang memengaruhi proses sosialisasi. Motivati-motivasi adalah kekuatan-kekuatan dari dalam diri individu yang menggerakkan individu untuk berbuat.
a. Perkembangan manusia tampak pada dua aspek
Aspek biologis, makanan,minuman,dan perlindungan telah mengubah bayi menjadi manusia yang dewasa jasmaniah. Aspek personal sosial, pengalaman dan pengaruh manusia lain telah mengubah anak menjadi pribadi sosial warga masyarakat yang bertanggung jawab. Dalam proses sosialisasi ini, individu mendapatkan pengawasan, pembatasan, dan hambatan dari orang lain atau masyarakat. Individu juga mendapatkan bimbingan, dorongan, simulasi, dan motivasi dari orang lain atau masyarakat. Proses belajar sosial berarti individu mempelajari beragam peran sosial. Peran sosial merupakan fungsi atau tingkah lakunya yang diharapkan dari seseorang oleh kelompok atau kebudyaan. Peran sosial merupakan pola-pola tingkah laku mana ditentukan yang umum dilakukan oleh orang-orang yang mempunyai posisi sosial yang sma, pola tingkah laku mana diharapkan oleh anggota masyarakat lain. Sebagai proses, sosialisasi memiliki beberapa metode yang digunakan dalam memengaruhi sosialisasi anak.
Metode pengajaran dan hukuman. Dalam proses sosialisasi hukuman diberikan kepada anak yang bertingkah laku salah, tidak baik, kurang pantas atau tidak diterima oleh masyarakat. Hukuman dapat berupa hukuman fisik atau hukuman sosial sdangkan ganjaran diberikan oleh anak yang berprilaku baik. Dengan ganjaran diharapkan anak termotivasi untuk selalu berbuat baik. Metode didactik teaching. Mengutamakan pengajaran kepada anak tentang berbagai macam pengetahuan dan keterampilan.
Metode pemberian contoh, anak-anak cenderung mencontoh semua tingkah laku orang yang ada di sekiatrnya. Dengan memberikan contoh akan terjadi proses mitasi (peniruan), yang terjadi secara sadar maupun tidak sadari. Proses sosialisasi di sekolah pada dasarnya tidak berbeda dengan proses sosialisasi di masyarakat dan dikeluarga, yakni menanamkan dan mewariskan kebudayaan kepada anak didik. Sekolah merupakan salah satu institusi sosial yang memengaruhi proses sosialisasi dan berfungsi mewariskan kebudayaan masyarakat kepada anak. Hendi S dan Ramadani Wahyu  (2001) mengungkapkan bahwa proses sosialisasi sangat berperan dalam pembentukan kepribadiab, interaksi anak didik dengan lingkungan sosial akan berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak.  Pembentukan kepribadian dipengaruhi beberapan faktor :
1. Keteladanan orang tua, kehadiran orang tua atau orang dewasa dalam keluarga memiliki fungsi pendidikan yang pernah yang pertama dan utama. Proses sosialisasi oleh anak didik yang dilakukan dengan cara meniru tingkah laku dan tutur kata orang dewasa yang berada di sekitar lingkungan terdekatnnya.
2. Warisan biologis orang tua, setiap manusia normal memiliki persamaan biologis tertentu. Persamaan biologis membantu menjelaskan beberapa persamaan dalam kepribadian dan perilaku seseorang.
3. lingkungan fisik, perbedaan prilaku kelompok, sebagian besar disebbkan oleh perbedaan iklim, topografi dan sumber lain.
4. lingkungan pergaulan, kepribadian seseorang di tentukan juga oleh hubungan dengan orang lain.
5. keyakinan terhadap agama, agama memiliki pengaruh yang besar dalam pembentukan kepribadian seseorang. Hal ini dei karenakan agama mengajarkan cara berprilaku, sehingga orang yang taat beragama akan menampilkan perilaku yang baik.
6. Kebudayaan daerah, kebudayaan daerah juga berpengaruh terhadap kehidupan dan prilaku seorang walaupun hal itu jarang disadari.
Dalam sosialisasi anak didik, terdapat sejumlah media sosialisasi, yakni:
Keluarga, yang merupakan orang pertama yang mengajarkan hal-hal yang berguna bagi perkembangan dan kemajuan hidup manusia adalah anggota keluarga. Orang tua menjalankan fungsi sosialisasi. Melalui keluarga memperkenalkan pola ttingkah laku, sikap, keyaakinan cita-cita dan nilai-nilai yang di anut masyarakat.
Teman sepermainan dan sekolah, yang merupakan ligkungan sosial kedua bagi anak setelah keluarga, melalu lingkungan sekolah dan teman sebaya anak mulai mengenal harga diri, citra diri, dan hasrat pribadi.
Lingkungan kerja, yang merupakan proses sosialisasi lanjutan tempat kerja seorang mulai berorganisasi nyata dalam suatu sistem. Misalnya, bagaimana menyelesaikan pekerjaan, bagaimana bekerja sama dengan bagian lain, dan bagaimana beradaptasi dengan rekan kerja.
Media massa, yang merupakan saran dalam proses sosialisasi karena media banyak memberikan informasi yang dapat menambah wawasan untuk memahami keberadaan manusia dan berbagai permasalahan yang ada lingkingan sekitarnya.media masa merupakan media yang efektif dan efisien untuk mendapat informasi keadaan dan keberadaan lingkungan dan kebudayaan, sehingga dengan informasi dapat menambah wawasan seseorang.
7. Kesimpulan
Individu adalah makhluk sosial, begitu pund dengan anak didikk bagian dari individu. Anak didik dalam lingkungannya selalu berinteraksi baik di dalam keluarga, sekolah, dam masyarakat. Sedangkan sosialisasi adalah proses membimbing individu ke dalam dunia sosial yang berlangsung dalam interaksi individu dengan lingkungannya. Dalam proses sosialisasi individubelajar tingkah laku, juga keterampilan pola-pola kebudayaan lainnya, juga keterampilan sosial seperti berbahasa, bergaul, berpakaian, cara makan, dan sebaginya.





DAFTAR PUSTAKA
Ary H. Gunawan, Sosiologi pendidikan, (Jakarta:Rineka Cipta, 2005).
Thomas Ford Hoult dalam Abu Ahmadi, sosiologi pendidikan,Jakarta: Rineka Cipta, 1991.
S. Nasution, Sosiologi pendidikan, (Jakarta:Bumi Aksara, 2009).
Hendi Suhendi dan Ramdani Wahyu, Pengantar Studi Sosiologi Keluarga, (Bandung: Pustaka Setia, 2001).
Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan dalam Prespektif Islam, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

SEKOLAH SEBAGAI ORGANISASI LAPORAN PENELITIAN “ SEKOLAH SEBAGAI ORGANISASI” Oleh : YOLI AMRIL SYAFIRA (1730203181) PENDAHULUAN...