SEKOLAH SEBAGAI ORGANISASI
LAPORAN PENELITIAN
“ SEKOLAH SEBAGAI ORGANISASI”
Oleh : YOLI AMRIL SYAFIRA (1730203181)
PENDAHULUAN
Sekolah
adalah sebuah konsep yang mempunyai makna ganda. Pertama, sekolah
berarti suatu bangunan atau lingkungan fisik dengan segala perlengkapannya yang
merupakan tempat untuk menyelenggarakan proses pendidikan tertentu bagi
kelompok manusia tertentu. Dengan demikian, apabila kita mendengar perkataan
“sekolah” maka yang terbayang adalah lingkungan fisik seperti itu. Bayangan
sekolah sebagai lingkungan fisik seperti itu diperkuat dengan keseragaman
relative mengenai bentuk bangunan dan perlengkapannya,sehingga dapat dikatakan
bahwa kondisi fisik sekolah-sekolah yang sejenis dan setingkat relative sama.
Kedua,sekolah berarti suatu proses atau kegiatan belajar mengajar. Kita bisa
menggunakan istilah “menyekolahkan” anak, atau mengatakan”anak saya
bersekolah SMP Negeri 1”. Dalam hal ini apabila mendengar
perkataan”sekolah”maka yang terbayang di kepala kita adalah proses pendidikan
itu sendiri.
Jadi
dalam hal ini sekolah dipandang sebagai sebuah pranata untuk memenuhi kebutuhan
khusus tertentu. Bisa juga “sekolah”diartikan sebagai sebuah organisasi ,yaitu
organiasi social yang mempunyai struktur tertentu yang melibatkan sejumlah
orang dengan tugas melaksanakan suatu fungsi untuk memenuhi suatu kebutuhan.
Sesungguhnya ketiga pengertian itu selalu berdampingan,karena proses belajar
berjalan dalam sebuah lokasi dan diselenggarakan oleh organisasi yang mempunyai
struktur dan tujuan tertentu. Penampilan keterpaduan antara ketiga makna
tersebut dipengaruhi oleh berbagai factor seperti jumlah,tingkat usia, serta
karakteristik lain yang menandai orang-orang yang terlibat didalamnya serta
tujuan,program kerja dan kegiatan yang dilaksanakan,lama waktu
penyelenggaraan,dan pendekatan yang digunakan. Akan tetapi diantara semuanya
itu terdapat persamaan yaitu bahwa setiap lembaga yang dinamakan sekolah
berperan mengurusi manusia,bukan mengurusi benda-benda mati.
Dalam
hal ini Setiap sekolah memiliki komponen-komponen sarana fisik seperti
lahan,bangunan (kantor, ruang belajar,jamban,dan lain-lain),kurikulum,dan
orang-orang (guru,pimpinan,karyawan non edukatif, dan pelajar).
Komponen-komponen tersebut menyumbang dengan fungsi dan perannya untuk keberhasilan
lembaga. Sebagai sebuah system,sekolah mempunyai keterkaitan dengan sistem lain
yang jumlahnya tidak sedikit. Sistem luar itu meliputi antara lain orang tua
siswa,komuniti sekitar sekolah dll. Pola hubungan antara sekolah dengan system
lain diwarnai dan diisi dengan informasi-informasi yang berarah timbale balik.
Input atau timbal balik itu dapat berupa dorongan bagi sekolah untuk mengadakan
perubahan pada struktur atau interaksi edukatif di dalamnya atau untuk
mempertahankan yang telah ada. Umpan balik yang menimbulkan perubahan disebut
morfogenis,sedangkan yang mendorong untuk mempertahankan corak struktur dan
interaksi yang telah ada dinamakan umpan balik yang bersifat morfostatis.
PEMBAHASAN
A. PENGERTIAN
SEKOLAH SEBAGAI OARGANISASI
1. Sekolah
Kata
sekolah berasal dari bahasa latin, yakni skhole, scolae, skhoe atau scolae yang
memiliki arti waktu luang atau waktu senggang, dimana ketika itu sekolah adalah
kegiatan diwaktu luang bagi anak-anak ditengah kegiatan mereka, yakni bermain
dan menghabiskan waktu menikmati masa anak-anak dan remaja. Kegiatan dalam
waktu luang adalah mempelajari cara berhitung, secara membaca huruf dan
mengenal tentang moral ( budi pekerti ) dan estetika ( seni ). Utuk mendampingi
dalam kegiatan scola anak-anak didampingi oleh orang ahli dan mengerti tentang
psikologi anak, sehingga memeberikan kesempatan-kesempatan yang
sebebsar-besarnya kepada anak – anak untuk menciptakan
sendiri dunianya melalui berbagai pelajaran diatas.[1]
Kini,
kata sekolah dikatakan sunarto (1993 ), telah berubah berupa bangunan atau
lembaga untuk belajar dan serta tempat memberi dan menerima pelajaran,. Sekolah
dipimpin oleh seorang kepala sekolah, dan kepala sekolah dibantu oleh wakil
kepala sekolah, jumlah kepala sekolah bisa berbeda pada tiap sekolahanya,
tergantung dengan kebutuhan. Bangunan sekolah disusun meninggi untuk
memenfaatkan tanah yang tersedia dan dapat diisi dengna fasilitas yang lain.
Ketersidiaan sarana pada suatu sekolah memiliki peranan penting dalam
terlaksanakan proses pendidikan.[2]
Sekolah
adalah sebuah lembaga yang dirancang un tuk pengajaran siswa atau murid di
bawah pengawasan pendidik ( guru ). sebagian besar negara memiliki sistem
pendidikan formal, yang umumnya wajib, dalam upaya menciptakan anak didik agar
mengalami kemajuan setelah melalui proses pembelajaran. Nama- nama sekolah ini
berfariasi menurut negara, tetapi umumnya termasuk sekolah dasar untuk anak –
anak muda dan sekolah menengah untuk remaja yang telah menyelesaikan sekolah
dasar.[3]
Ada
pula sekolah non pemerintah, yang yang disebut sekolah swasta ( private schools
). Sekolah suwasta mungkin untuk anak- anak dengan kebutuhan khusus ketika
pemerintah tidak bisa memberi sekolah khusus bagi mereka, keagamaan, seperti
sekolah Islam ( madrasah, pesantren ) ; sekolah kristen, sekolah katolik,
sekolah Hindu, sekolah Buda atau sekolah khusus lainya yang memeiliki standar
lebih tinggi untuk memepersiapkan prestrasi pribadi anak didik.[4]
2. Organisasi
Robert
Presthus dalam bukunya The Organizational Society (1962) menyatakan bahwa
masyarakat kita merupakan yang terdiri dari organisasi-organisasi.[5] Pernyataan tersebut menunjukkan
betapa organisasi telah menjadi fenomena yang menonjol dalam
kehidupan. Jadi organisasi merupakan kumpulan orang-orang yang
bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama.
Menurut
Sondang P. Siagian organisasi adalah setiap bentuk persekutuan antara dua orang
atau lebih yang bekerja sama untuk sesuatu tujuan bersama dan terikat secara
formal.[6]
Atmosudirdjo
berpendapat bahwa organisasi adalah suatu bentuk kerja sama antara sekelompok
orang-orang berdasarkan suatu perjanjian untuk bekerja sama guna mencapai
tujuan yang tertentu.[7]
Dari
pendapat para ahli di atas dapat kita simpulkan bahwa organisasi adalah
sekelompok orang yang memiliki visi dan misi sama yang saling berkaitan yang
tidak dapat diganggu gugat dengan yang lainnya, sehinnga organisasi itu dapat
berjalan dengan lancar dan sebagaimana mestinya.
3. Sekolah
Sebagai Organisasi
Sekolah
sebagai organisasi adalah perkumpulan sosial yang dibentuk oleh masyarakat,
baik yang berbadan hukum maupun yang tidak berbadan hukum, yang berfungsi
sebagai sarana partisipasi masyarakat dalam pembangunan bangsa dan Negara.
Sebagai makhluk yang selalu hidup bersama-sama, manusia
membentuk organisasi sosial untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu yang
tidak dapat mereka capai sendiri. Terbentuknya lembaga sosial
berawal dari individu yang saling membutuhkan kemudian timbul
aturan-aturan yang dinamakan norma kemasyarakatan .
lembaga sosial sering pula dinamakn pranata sosail. [8]
Philip
Robinson (1981) menyebut sekolah sebagai organisasi yaitu unit sosial yang
secara sengaja dibentuk untuk tujuan-tujuan tertentu. Sekolah sengaja
diciptakan untuk tujuan tertentu, yaitu memeudahkan pengajaran sejumlah
pengetahuan.[9]
Sekolah
sebagai organisasi memiliki perbedaan dengan organisasi lainnya, sebagai contoh
dengan organisasi pabrik atau klub sepak bola. Secara umum, yang membedakan
segala organisasi dari organisasi yang lainnya tujuan yang ingin dicapai.
Sebuah pabrik sepatu dipastikan memiliki tujuan menghasilkan barang-barang jadi
berupa alas kaki, sedangkan sekolah bertujuan menghasilkan individu-individu
yang terdidik.[10]
B. SEKOLAH
SEBAGAI ORGANISASI PEMBELAJAR
Era
global sekarang dengan tingkat perubahan yang sangat pesat mengakibatkan banyak
ketidakpastian masa depan yang dilalui. Dengan ini menuntut setiap organisasi
untuk mempersiapkan diri dalam menghadapi permasalah tersebut. Berkaitan dengan
lembaga pendidikan seperti sekolah, Hoy dan Miskle (2001) menyatakan perlunya
sekolah menjadi organisasi pembelajar.[11]
Menurut
Bischoff organisasi pembelajar adalah organisasi yang mencari untuk menciptakan
masa depannya, menjadikan pembelajaran sebagai proses kretif yang terjadi
berkesinambungan bagi seluruh anggotanya, mengembangkan, beradaptasi, dan
mentransformasikan dirinya dalam menjawab kebutuhan serta aspirasi orang –
orang di dalam organisasi ataupun luar organisasi baik secara individu maupun
kolaktif untuk terus meningkatkan kapasitas mereka dalam berkarya sesuai dengan
perannya dalam organisasi.
Sekolah
pada dasarnya merupakan lembaga tempat di mana proses pembelajaran terjadi
terutama dalam pemahaman konvesional, di mana belajar dilakukan oleh siswa dan
guru berupayah untuk membelajarkan siswa agar dapat mencapai kompetensi yang
diharapakan. Belajar dan pembelajaran siswa akan makin meningkat dan
berkualitas apabila seluruh unsure dalam organisasi sekolah meningkat dan
berkualitas sehingga kapasitas organisasi sekolah terus mengalami peningkatan
dan perluasan kearah yang lebih baik dan produktif dalam perubahan dewasa ini.
Sebagai
lembaga pendidikan tempat terjadinya proses pembelajaran maka mengelola
organisasi sekolah memerlukan kebijakan manajemen dan kepemimpinan yang dapat
memberi ruang bagi tumbuh dan berkembangnya kreativitasnya dan inovasi. Oleh
karena itu, organisasi perlu mengelola hal tersebut secara efektif untuk dapat
menumbuhkan sinergitas dalam organisasi di antara berbagai individu yang
terlibat di dalamnya.
C. FUNGSI-
FUNGSI SEKOLAH SEBAGAI ORGANISASI DAN SASARAN ORGANISASI SEKOLAH
Sekolah
sebagai organisasi sosial dalam sosiologi, peran dan fungsinya sebagai berikut
:[12]
1. Fungsi
manestifasi pendidikan
Yaitu
membantu orang mencari nafkah ; menolong mengembangkan potensinya demi
pemenuhan kebutuhan hidupnya ; melestarikan kebudayaan dengan cara
mengajarkanya kepada generasi kegenerasi berikutnya; merangsang partisipasi
demokrasi melalui pengajaran keterampilan berbicara dan mengembangkan cara
berfikir rasional dan lain-lain
2. Fungsi
laten lembaga pendidikan
Dimana
fungsi ini bertalian dengan fungsi pendidikan secara tersembunyi yakni
menciptakan atau melahirkan kedewasaan anak didik.
Dikatakan
Horton dan Hurt( 1996 ) bahwa ada empat jenis sasaran organisasi sekolah. Tiap
sasaran meliputi titik tolak pandangan terhadap organisasi sekolah dari empat
pandangan itu, diharapkan dapat memahami tentang organisasi sekolah. Yaitu :[13]
Pertama, sasaran
formal dimana ruang lingkup sasaran ini meliputi tujuan formal dari suatu
organisasi, wujud dari sasaran ini tercantum dalam aturan-aturan tertulis.
Tuntutan formal organisasi menghendaki agar tugas dan tanggung jawab dalam
penyelenggaraan sekolah Untuk mencapai tujuan dibagi secara merata dengan baik
sesuai dengan kemampuan, fungsi dan wewenang yang telah ditentukan. Melalui
stuktur organisasi yang ada, tercermin adanya tugas dan wewenang
kepala sekolah, tugas dan guru dan staf administrasi sekolah.
Kedua, sasaran
informal, dimana tidak sepenuhnya bekerja sesui dengan ketentuan formal. Dalam
banyak hal, lebih dimodifikasi oleh tiap anggotanya sesuai dengan kapasitas
pemaknaan kesadaran mereka tentang organisasi. Di sekolah seorang kepala
sekolah mungkin mendapat tanggung jawab sebagai pemimpin dan penguasa formal
tertinggi. Akan tetapi, pemnerimaan dan pola fikir serta tingkah laku kepala
sekolah merupakan konstruksi pemahaman subjektifnya dalam kelangsungan hubungan
dengan berbagai pihak dilingkungan sekolahnya. Jadi, sasaran informal merupakan
interprestasi dan modifakasi sasaran – sasaran formal dari seluruh anggota yang
terlibat langsung pada wadah organisasi. Sasaran ini mencakup pula persepsi
masing – masing indifidu dan menjadi tujuan kegiatan pribadi dalam organisasi.
Masing – masing siswa tentunya memiliki tujuan yang berfariasi dalam
kelangsungan setatusnya sebagai pelajar. Mungkin ada yang berharap mendapat
prestasi akademik tinggi atau memperoleh ijazah, serta ada juga yang hanya
menjalankan taradisi masyarakat. Seorang pendidik mungkin hanya untuk mencari
gaji, tetapi sebagianlainya masih memiliki loyalitas dan komitmen sebagai
pedidik.
Ketiga, sasaran
idealogis. Seperti tersirat dalam istilah tersebut, sasaran idealogis bertalian
dengan seperangkat sistem eksternal atau sistem nilai yang diyakini bersama.
Dalm hal ini, nuansa budaya pada pengertian sebagai suati sistem pengetahuan,
gagasan dan idea yang dimiliki suatu kelompok masyarakat yang berfungsi sebagai
landasan pijak dan pedoman bagi masyarakat itu dalam bersikap dan berorilaku
dalam lingkungan alam dan sosial tempat mereka bernaung . hal inimerupakan
penjabaran dari pengaruh idealogis terhadap organisasi. Sasaran ini
mayoriti pengaruh interaktif kultural idealogis yang dianut oleh sebagian besar
manusia dalam manangkap,menyikapi dan merespons ekstensi organisasi. Suatu
bangsa umumnya memiliki semangat yang tinggi untuk meraih prestasi vertikal,
sementara sekolah merupakan wadah yang cukup strategis bagi mansia untuk
menopang ambisi mobilitas vertikalnya. Maka, bisa diamsusikan hampir sebagian
besar warga sekolah maupun masyarakat akan mengarahkan keyakinan kultural
tersebut dalam memaknai keberadaan sekolah.
Keempat, sasaran-sasaran
lain yang kurang begitu kuat. Penekanan sasaran ini akan menonjol pada suatu
proses aktifitas organisasi yang biasa. Berkurangnya pendaftaran di
dekolah-sekolah dan universitas dapat mengubah secara luas peran para pendidik
atau organisasi ruang sekolah, termasuk rasioi pendidik ( guru ) terhadap anak
didik ( siswa ) beserta kelas – kelas yang terpesialisasi . jika tidak,
sejumlah pendidik akan menganggur.
Dari
pendapat Horton dan Hurt ( 1996 ) tentang jenis sasaran sekolah di atas,
mengisaratkan suatu pola pandang berbeda dari pandangan umum tantang sekolah.
Sebagai organisasi, sekolah bukan hanya sekedaar tumpukan peran-peran tumpukan
struktural yang kakau, statis dan jalur kerja yang serba mekanistis belaka.
Mekanisme itu mengalam dinamika akualisasi melalui aneka ragam interpretasi
para anggota yang melatarbelakangi perilaku manusia dalam mengembangkan peran
dan status yang berbeda beda.[14]
D. FAKTOR-FAKTOR
YANG MEMPENGARUHI SUSUNAN ORGANISASI SEKOLAH
Ada
beberapa faktor yang dapat memepengaruhi perbedaan dalam susunan organisasi
sekolah, antara lain :[15]
1. Besar
kecilnya sekolah
Ada
sekolah yang mempunyai banyak merid, banyak guru dan banyak pula ruangan
belajarnya, tetapi ada pula yang sebaliknya. Ada sekolah yang banyak
murid-muridnya, tetapi tidak cukup guru-gurunya, tidak cukup ruangan
belajarnya, dsb
2. Letak
sekolah
Sekolah
yang berada dikota besar berlainan sekolah di kota kecil, dikota kecamatan, di
pegunungan, dipinggir pantai, dsb. Letak sekolah atau lingkungan sekolah
menentukan tokoh-tokoh masyarakat siapakah yang perlu diikut
sertakan didalam membangun dan membina sekolah itu.
3. Jenis
dan tingkatan sekolah
Sekolah
kejurusan berbeda dengan sekolah umum, sekolah dasar berbeda dengan SLP/SLA,
dan berbeda pula dengan perguruan tinggi.
E. PENTINGNYA
ORGANISASI SEKOLAH YANG BAIK
Sekolah,
sebagai suatu lembaga pendidikan yang didalamnya terdapat kepala sekolah,
guru-guru, pegawai tata usaha dan murid-murid, memerlukan adanya
organisasi yang baik agar jalanya sekolah itu lancar menuju kepada
jalanya.[16]
Menurut
sistem persekolahan di Negeri kita, pada umumnya kepala sekolah merupakpan
jabatan yang tertinggi di sekolah itu sehingga dengan demikian
kepala sekolah memegang perananan dan pimpinan segala sesuatunya yang
berhubungan dengan tugas sekolah dengan demikian kepala sekolah memegang
peranana dan pimpinan segala sesuatunya yang berhubungan drngan tugas sekolah
ke dalam maupun keluar. Maka dari itu, dalam stuktur organisasi sekolah sekolah
pun kepala sekolah biasanya selalu didudukan di tempat yang paling atas.[17]
Fktor
lain yang menyebabkan perlunya organisasi sekolah yang baik ialah karena tugas
guru-guru tak hanya mengajar saja juga pegawai- pegawai tata usaha, pesuruh dan
penjaga sekolah dan lain-lain. Semuanya harus bertanggung jawab dan didkut
sertakan dalam menjalankan roda sekolah itu secara keseluruhan. Dengan demikian
agar janga terjadi tabrakan dalam memegang atau menjalankan tugasnya
masing-masing, diperlukan organisasi sekolah yang baik dan teratur.[18]
Dengan
organisasi sekolah yang baik dimaksudkan agar pembagian tugas dan tanggung
jawab dapat merata kepada semua orang sesuai dengan kecakapan dan fungsinya
masing- masing. Tiap orang mengerti dan menyadari tugasnya dan tempatnya
didalam setruktur organisasi itu. Dengan demikian dapat dapat dihindari pula
adanya tindakan yang sewenang-wenang atau otoriter dari kepala sekolah, dan
sebaaliknya dapat diciptkan danya suasana yang demokratis didalam menjalankan
roda sekolah ini.[19]
KESIMPULAN
Sekolah
sebagai organisasi adalah perkumpulan sosial yang dibentuk oleh masyarakat,
baik yang berbadan hukum maupun yang tidak berbadan hukum, yang berfungsi
sebagai sarana partisipasi masyarakat dalam pembangunan bangsa dan Negara.
Sekolah
sebagai organisasi sosial dalam sosiologi, peran dan fungsinya sebagai berikut
:
1. Fungsi
manestifasi Pendidikan
2. Fungsi
Laten Lembaga Pendidikan
Ada
beberapa faktor yang dapat memepengaruhi perbedaan dalam susunan organisasi
sekolah, antara lain :
1. Besar
Kecilnya Sekolah
2. Letak
Sekolah
3. Jenis
dan Tingkatan Sekolah
DAFTAR
PUSTAKA
Idi,
Abdullah. 2011. Sosio Logi Pendidikan. Jakarta : Raja Grafindo
Persada
SuharSaputra,
Uhar. 2013. Administrasi Pendidikan. Bandung : Refika Aditama
Mahmud.
2012. Sosiologi Pendidikan. Bandung : Pustaka Setia
Purwanto,
Ngalim. 2010. Administrasi dan Supervisi Pendidikan. Bandung :
Remaja Rodaskarya
[1] Abdullah
Idi, Sosiologi Pendidikan, (Jakarta : Rajagarafindo Persada,
2011),hlm.142
[15]Ngalim
Purwanto, Administrasi dan Supervisi Pendidikan, ( Bandung : Remaja
Rodaskarya,2010), hlm. 161
Tidak ada komentar:
Posting Komentar