Jumat, 22 Juni 2018

Laporan Observasi Tentang Sekolah Sebagai Organisasi

Laporan Observasi 
Tentang Sekolah Sebagai Organisasi
Oleh : Seli Arindah (1730203163)

BAB 1
PEMBAHASAN

1. Alasan tertarik melakukan survei/penelitian 
Alasan saya mengambil judul observasi Sekolah Sebagai Organisasi karena Pelaksanaan pendidikan nasional, harus menjamin peningkatan mutu pendidikan ditengah perubahan agar warga Indonesia, menjadi manusia yang bertakwa kepada tuhan yang maha esa, berakhlak mulia, cerdas, produktif, dan berdaya saing tinggi, dalam pergaulan sosial maupun Internasional. Apalagi pada saat ini, pengetahuan dan teknologi telah membawa perubahan di hampir semua aspek kehidupan dan membawa manusia ke dalam era persaingan global yang semakin ketat, sehingga pendidikan perlu mengembangkan dan meningkatkan kualitas pendidikan.
Adapun tujuan pendidikan di Indonesia secara umum terdapat dalam UUSPN No. 20 tahun 2003 BAB 11 Pasal 3, yaitu :
Mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada tuhan yang maha esa, demokratis serta bertanggung jawab. (2005 : 12). Melihat betapa pentingnya peran pendidikan dalam meningkatkan kualitas dan derajat manusia, maka setiap lembaga pendidikan semakin berlomba untuk mencapai tujuan pendidikan tersebut dengan menghasilkan out put yang berkualitas sesuai dengan tujuan pendidikan.
A. Rumusan Masalah
1. Jelaskan sekolah sebagai organisasi ?
2. Bagaimana sistem sekolah sebagai organisasi ?
B. Kajian Teoriritis
Sekolah adalah  sebuah konsep yang mempunyai makna ganda. Pertama, sekolah berarti suatu bangunan atau lingkungan fisik dengan segala perlengkapannya yang merupakan tempat untuk menyelenggarakan proses pendidikan tertentu bagi kelompok manusia tertentu. Dengan demikian, apabila kita mendengar perkataan “sekolah” maka yang terbayang adalah lingkungan fisik seperti  itu. Bayangan sekolah sebagai lingkungan fisik seperti itu diperkuat dengan keseragaman relative mengenai bentuk bangunan dan perlengkapannya,sehingga dapat dikatakan bahwa kondisi fisik sekolah-sekolah yang sejenis dan setingkat relative sama. Kedua,sekolah berarti suatu proses atau kegiatan belajar mengajar. Kita bisa menggunakan istilah “menyekolahkan” anak, atau mengatakan”anak  saya bersekolah SMP Negeri 1”. Dalam hal ini apabila mendengar perkataan ”sekolah” maka yang terbayang di kepala kita adalah proses pendidikan itu sendiri.
Jadi dalam hal ini sekolah dipandang sebagai sebuah pranata untuk memenuhi kebutuhan khusus tertentu. Bisa juga “sekolah” diartikan sebagai sebuah organisasi, yaitu organiasi social yang mempunyai struktur tertentu yang melibatkan sejumlah orang dengan tugas melaksanakan suatu fungsi untuk memenuhi suatu kebutuhan. Sesungguhnya ketiga pengertian itu selalu berdampingan,karena proses belajar berjalan dalam sebuah lokasi dan diselenggarakan oleh organisasi yang mempunyai struktur dan tujuan tertentu. Penampilan keterpaduan antara ketiga makna tersebut dipengaruhi oleh berbagai factor seperti jumlah,tingkat usia, serta karakteristik lain yang menandai orang-orang yang terlibat didalamnya serta tujuan,program kerja dan kegiatan yang dilaksanakan,lama waktu penyelenggaraan,dan pendekatan yang digunakan. Akan tetapi diantara semuanya itu terdapat persamaan yaitu bahwa setiap lembaga yang dinamakan sekolah berperan mengurusi manusia,bukan mengurusi benda-benda mati.
Dalam hal ini Setiap sekolah memiliki komponen-komponen sarana fisik seperti lahan, bangunan (kantor, ruang belajar, jamban, dan lain-lain), kurikulum, dan orang-orang (guru,pimpinan, karyawan non edukatif, dan pelajar). Komponen-komponen tersebut menyumbang dengan fungsi dan perannya untuk keberhasilan lembaga. Sebagai sebuah system, sekolah mempunyai keterkaitan dengan sistem lain yang jumlahnya tidak sedikit. Sistem luar itu meliputi antara lain orang tua siswa,komuniti sekitar sekolah dll. Pola hubungan antara sekolah dengan system lain diwarnai dan diisi dengan informasi-informasi yang berarah timbal balik. Input atau timbal balik itu dapat berupa dorongan bagi sekolah untuk mengadakan perubahan pada struktur atau interaksi edukatif di dalamnya atau untuk mempertahankan yang telah ada. Umpan balik yang menimbulkan perubahan disebut morfogenis,sedangkan yang mendorong untuk mempertahankan corak struktur dan interaksi yang telah ada dinamakan umpan balik yang bersifat morfostatis. 
C. Metodelogi
1. Pendekatan Teori
a. Sekolah
Kata sekolah berasal dari bahasa latin, yakni skhole, scolae, skhoe atau scolae yang memiliki arti waktu luang atau waktu senggang, dimana ketika itu sekolah adalah kegiatan diwaktu luang bagi anak-anak ditengah kegiatan mereka, yakni bermain dan menghabiskan waktu menikmati masa anak-anak dan remaja. Kegiatan dalam waktu luang adalah mempelajari cara berhitung, secara membaca huruf dan mengenal tentang moral (budi pekerti) dan estetika (seni). Utuk mendampingi dalam kegiatan scola anak-anak didampingi oleh orang ahli dan mengerti tentang psikologi anak, sehingga memeberikan kesempatan-kesempatan yang sebebsar-besarnya  kepada anak-anak untuk  menciptakan sendiri dunianya melalui berbagai pelajaran diatas.
Kini, kata sekolah dikatakan sunarto (1993), telah berubah berupa bangunan atau lembaga untuk belajar dan serta tempat memberi dan menerima pelajaran. Sekolah dipimpin oleh seorang kepala sekolah, dan kepala sekolah dibantu oleh wakil kepala sekolah, jumlah kepala sekolah bisa berbeda pada tiap sekolahanya, tergantung dengan kebutuhan. Bangunan sekolah disusun meninggi untuk memenfaatkan tanah yang tersedia dan dapat diisi dengna fasilitas yang lain. Ketersediaan sarana pada suatu sekolah memiliki peranan penting dalam terlaksanakan proses pendidikan.
Sekolah adalah sebuah lembaga yang dirancang untuk pengajaran siswa atau murid di bawah pengawasan pendidik (guru). sebagian besar negara memiliki sistem pendidikan formal, yang umumnya wajib, dalam upaya menciptakan anak didik agar mengalami kemajuan setelah melalui proses pembelajaran. Nama- nama sekolah ini berfariasi menurut negara, tetapi umumnya termasuk sekolah dasar untuk anak-anak muda dan sekolah menengah untuk remaja yang telah menyelesaikan sekolah dasar.
            Ada pula sekolah non pemerintah, yang yang disebut sekolah swasta (private schools). Sekolah swasta mungkin untuk anak-anak dengan kebutuhan khusus ketika pemerintah tidak bisa memberi sekolah khusus bagi mereka, keagamaan, seperti sekolah Islam (madrasah, pesantren):sekolah kristen, sekolah katolik, sekolah Hindu, sekolah Budha atau sekolah khusus lainya yang memeiliki standar lebih tinggi  untuk memepersiapkan prestasi pribadi anak didik.
b. Organisasi
Robert Presthus dalam bukunya The Organizational Society (1962) menyatakan bahwa masyarakat kita merupakan yang terdiri dari organisasi-organisasi. Pernyataan tersebut menunjukkan betapa organisasi telah menjadi fenomena yang menonjol dalam kehidupan. Jadi organisasi merupakan kumpulan orang-orang  yang bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama. 
Menurut Sondang P. Siagian organisasi adalah setiap bentuk persekutuan antara dua orang atau lebih yang bekerja sama untuk sesuatu tujuan bersama dan terikat secara formal. Atmosudirdjo berpendapat bahwa organisasi adalah suatu bentuk kerja sama antara sekelompok orang-orang berdasarkan suatu perjanjian untuk bekerja sama guna mencapai tujuan yang tertentu.
            Dari pendapat para ahli di atas dapat kita simpulkan bahwa organisasi adalah sekelompok orang yang memiliki visi dan misi sama yang saling berkaitan yang tidak dapat diganggu gugat dengan yang lainnya, sehinnga organisasi itu dapat berjalan dengan lancar dan sebagaimana mestinya.
c. Sekolah Sebagai Organisasi
Sekolah sebagai organisasi adalah perkumpulan sosial yang dibentuk oleh masyarakat, baik yang berbadan hukum maupun yang tidak berbadan hukum, yang berfungsi sebagai sarana partisipasi masyarakat dalam pembangunan bangsa dan Negara. Sebagai makhluk  yang selalu hidup bersama-sama, manusia membentuk  organisasi sosial untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu yang tidak dapat mereka capai sendiri.  Terbentuknya lembaga sosial berawal dari individu yang saling membutuhkan kemudian timbul aturan-aturan  yang dinamakan norma kemasyarakatan. Lembaga sosial sering pula dinamakan pranata soial.
Philip Robinson (1981) menyebut sekolah sebagai organisasi yaitu unit sosial yang secara sengaja dibentuk untuk tujuan-tujuan tertentu. Sekolah sengaja diciptakan untuk tujuan tertentu, yaitu memudahkan pengajaran sejumlah pengetahuan. Sekolah sebagai organisasi memiliki perbedaan dengan organisasi lainnya, sebagai contoh dengan organisasi pabrik atau klub sepak bola. Secara umum, yang membedakan segala organisasi dari organisasi yang lainnya tujuan yang ingin dicapai. Sebuah pabrik sepatu dipastikan memiliki tujuan menghasilkan barang-barang jadi berupa alas kaki, sedangkan sekolah bertujuan menghasilkan individu-individu yang terdidik. 
2. Sumber dan Metode yang digunakan    
a. Prosedur 
Obsevasi ini dilakukan dengan cara individu yang mengambil topik bahasan dan sasaran yang telah dipelajari sebelumnya. Sekolah yang menjadi sasaran observasi adalah MA DARUL FUNUN, yaitu salah satu MA yang berada di kabupaten Ogan Ilir. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kualitatif.
b. Instrumen 
Instrumen yang dilakukan pada observasi ini menggunakan tekhnik wawancara. Narasumbernya adalah wakil kepala sekolah. Wawancara ini mengenai perumusan visi, misi, tujuan dan sasaran sekolah atau madrasah. 
D. Hasil wawancara/observasi
1. Pengambilan Keputusan
Di dalam sebuah sekolah, Pengambilan keputusan mengambil andil yang sangat penting untuk menjaga keharmonisan dalam sekolah itu sendiri. Untuk dapat melakukan pengambilan keputusan dengan tepat, beliau mengatakan ada komponen-komponen yang harus diperhatikan. Yang  pertama adalah profesioanlisme, tidak hanya kepala sekolah saja yang harus profesional, para guru selain mengajar harus profesional sebagai pemimpin di kelas, manager kelas, dan organisator. Sebagai pemimpin di kelas guru harus bisa menyuruh anak didiknya agar mengikuti kegiatan belajar mengajar, sebagai manager kelas harus memiliki kemampuan mengatur suasana yang nyaman di kelas, dan sebagai organisator harus bisa bekerjasama dengan sesama guru dan dengan kepala sekolah. Yang kedua adalah harus memiliki pertimbangan sebelum mengambil keputusan, apakah keputusannya sudah matang atau belum. Yang ketiga adalah harus melihat konteks situasional, yaitu mencari latar belakang permasalahan. Yang keempat adalah pengalaman, hal ini sangat penting karena seseorang yang tidak memiliki pengalaman mengenai kepemimpinan akan sangat sulit memperoleh jawaban yang tepat dalam pengambilan keputusan. Dan yang terkhir adalah bersikap terbuka dan selektif terhadap masukan-masukan dari orang lain  terutama para orang tua wali  murid karena karena sangat berpengaruh terhadap kemajuan sekolah.
2. Gaya Kepemimipinan
Gaya kepemimpinan dalam ruang lingkup pendidikan khususnya di MA Darul Funun adalah gaya kepemimpinan Situasional. Maksud dari gaya kepemimpinan adalah menyesuaikan situasi atau konteks masalah dan orang yang dipimpin. Boleh jadi menggunakan gaya kepemimpinan demokratis dan juga menggunakan gaya kepemimpinan otoriter. Gaya kepemimpinan demokratis diterapkan kepada orang-orang yang mudah diatur misalkan musyawarah dengan wali murid, rapat dengan guru-guru, pembagian tugas organisasi, dan lain-lain. Gaya kepemimpinan otoriter diterapakan pada orang-orang yang diatur, namun dalam ruang lingkup pendidikan gaya kepemimpinan ini bukan ditujukan untuk meenakut-nakuti atau membatasi kebebasan namun lebih diarahkan untuk tujuan mendidik ke arah yang baik. Misalkan siswa MA Darul Funun dilarang melanggar peraturan-peraturan yang sudah ditetapkan oleh kepala sekolah. Sehingga dalam konteks ini gaya kepemimpinan otoriter sangat dibutuhkan dan wajib dilakukan oleh pemimpin khususnya kepala sekolah dan para guru-guru di MA DARUL FUNUN. 
Berbeda dengan gaya kepemimpinan yang diterapkan oleh beliau ketika mengajar sebagai dosen. Untuk mahasiswa yang diajar di Fakultas Ilmu Sosial (FIS) Universitas Negeri Surabaya Ketintang beliau menggunakan gaya kepemimpinan otoriter. Untuk mahasiswa  Fakultas Ilmu Sosial (FIS) beliau mengajarkan dengan tegas karena usia mahasiswa yang tergolong muda yang sering membangkang dan harus dilatih disiplin sejak dini. Sedangkan untuk mengajar guru-guru yang mengikuti sertifikasi di Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) Uneversitas Negeri Surabaya Lidah Wetan beliau menerapkan gaya kepemimpinan demokratis. Gaya kepemimpinan ini diterapkan karena beliau menganggap guru-guru yang mengikuti sertifikasi di Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) sudah dewasa dan mudah diatur.
3. Pengembangan Sekolah
Mengenai keadaan sekolah MA Darul Funun, Ibu Kepala Sekolah menilai perkembangan sudah cukup lumayan bagus namun masih membutuhkan penambahan bangunan lagi. Ke depannya pihak sekolah akan membangun toilet karena toilet yang ada saat ini dianggap masih dinilai masih kurang penambahan. Untuk meningkatkan kualitas dan pengembangan kemampuan akademik dan non akademik siswa-siswi beliau juga memberikan program tambahan. Progam tambahan tersebut meliputi komputer, drum band, dan pendidikan agama islam, dan macam-macam ekstrakulikuler lainnya. Hal ini ditujukan agar kemampuan kognitif, psikomotor, dan afektif siswa-siswi MA DARUL FUNUN bisa terasah mulai sejak dini. Dengan pemberian pendidikan agama  islam ini kepala sekolah berkeinginan untuk menanamkan nilai-nilai agama kepada siswa-siswi sejak dini. Hal ini penting karena tidak akan ada gunanya orang-orang yang memiliki intelegensi tinggi kalau tidak memiliki akhlak yang baik, orang tersebut tidak akan mampu memberikan manfaat kepada orang lain.
4. Tantangan dan Hambatan selama Menjadi Kepala Sekolah
Sebagai Kepala Sekolah MA DARUL FUNUN beliau memiliki tanggung jawab yang besar dalam memimpin sekolah. Selain usia beliau yang sudah tua, masih banyak tantangan dan hambatan yang harus dihadapi oleh beliau, yaitu dalam hal pembagian waktu yang sangat padat. Beliu adalah termasuk orang yang sangat sibuk, selain menjadi kepala sekolah MA DARUL FUNUN beliau menjadi Dosen di Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Surabaya, dosen di Universitas Terbuka Jombang, aktif dalam organisasi, dan lain sebagainya. Karena sering bolak-balik dari memimpin sebagai kepala sekolah dan mengajar sebagai dosen dan sering ke luar kota beliau sering kehilangan waktu banyak untuk beristirahat.    
5. Strategi dalam Menghadapi Tantangan dan Hambatan selama Menjadi Kepala Sekolah
Meskipun beliau sibuk menjalankan aktivitas sebagai Kepala Sekolah MA DARUL FUNUN Tambang Rambang, dosen, ketua yayasan dan kesibukan lainnya, beliau juga termasuk orang yang sangat ulet dalam mengatur waktu dan itu semua sudah diterapkan semenjak beliau masih muda hingga saat ini. Hampir setiap hari atau setiap saat beliau tidak pernah terlihat menganggur, selalu ada waktu yang digunakan beliau untuk beraktivitas. Padahal banyak orang yang sudah lanjut usia biasanya lebih banyak menghabiskan waktu untuk beristirahat di rumah daripada sibuk melakukan aktivitas kerja namun semangat beliau tidak kalah dengan anak muda. Jarang ada waktu senggang yang digunakan beliau untuk untuk beristirahat di rumah karena kesibukannya yang sangat padat.
Meskipun hanya memiliki sedikit waktu istirahat, kesibukannya tersebut justru malah menjadi berkah. Aktivitas yang padat dijadikan suatu kebahagiaan batin yang tak ternilai dibandingkan dengan berpergian ke tempat parawisata. Saat ini setiap hari minggu beliau juga mengajar sebagai dosen di Universitas Terbuka Jombang dengan diantar oleh suaminya. Menurut beliau pergi kota untuk mengajar diantar dengan suami terasa seperti pergi berparawisata dan dapat menghilangkan kepenatan setelah sibuk beraktivitas.
6. Langkah-Langkah yang Digunakan Oleh Guru untuk Membentuk Jiwa Kepemimpinan Kepada Murid-muridnya
Pada dasarnya setiap anak dapat mengasah kemampuan dasar kepemimpinan sendiri dengan hal-hal yang sederhana. Bukan dengan teori-teori yang dapat membebani anak. Menanamkan kemampuan dasar kepemimpinan pada anak dapat dilakukan dengan cara melatih self leadership yakni melatih anak untuk dapat memimpin dalam kelompok. Hal tersebut dapat dilakukan dengan cara yang sederhana yakni:
a. Memimpin berdoa sebelum memulai pelajaran.
b. Memimpin menyanyi di dalam kelas.
c. Memimpin kegiatan baris-berbaris sebelum memasuki kelas.
d. Bermain serta berinteraksi sosial dengan teman-temannya.
Selain kepemimpinan dalam kelompok yang dijelaskan diatas, kepemimpinan dapat diciptakan dalam diri murid-murid melalui :
a. Murid berdoa sebelum dan sesudah makan.
b. Murid mengerjakan tugas individu yang diberikan oleh guru dengan baik sesuai petunjuk guru.
c. Berinisiatif untuk maju jika guru menawarkan untuk menjawab pertanyaan di depan.
Semua kegiatan di atas terlebih dahulu dicontohkan oleh guru dalam beberapa kali, setelah murid mampu merekam dan mengaplikasikannya dengan baik, selanjutnya kegiatan-kegiatan tersebut dilakukan atas inisiatif murid-murid sendiri, fungsi guru sebagai pengarah dan pemantau. 
E. Kesimpulan 
Penulis dapat menyimpulkan bahwa kepemimpinan kepala sekolah di MA DARUL FUNUN terhadap efektivitas kerja guru sangatlah penting. Tanpa adanya kepemimpinan kepala Madrasah, efektivitas kerja guru tidak akan berjalan dengan lancar, ini dikarenakan seorang pemimpin adalah otak organisasi. Seorang pemimpin mengharapkan guru dapat menyelesaikan pekerjaan dengan baik.
Sekolah sebagai organisasi adalah perkumpulan sosial yang dibentuk oleh masyarakat, baik yang berbadan hukum maupun yang tidak berbadan hukum, yang berfungsi sebagai sarana partisipasi masyarakat dalam pembangunan bangsa dan Negara. Sekolah sebagai organisasi sosial dalam sosiologi, peran dan fungsinya sebagai berikut :
1. Fungsi manestifasi Pendidikan
2. Fungsi Latin Lembaga Pendidikan
Ada beberapa faktor yang dapat memepengaruhi perbedaan dalam susunan organisasi sekolah, antara lain :
1. Besar Kecilnya Sekolah
2. Letak Sekolah
3. Jenis dan Tingkatan Sekolah.
DAFTAR FUSTAKA
Idi, Abdullah. 2011. Sosiologi Pendidikan. Jakarta : Raja Grafindo Persada
Suhar Saputra, Uhar. 2013. Administrasi Pendidikan. Bandung : Refika Aditama.
Mahmud. 2012. Sosiologi Pendidikan. Bandung : Pustaka Setia
Purwanto, Ngalim. 2010. Administrasi dan Supervisi Pendidikan. Bandung : Remaja Rodaskarya
Rohmat, Kepemimpinan Pendidikan : Konsep dan Aplikasi, Purwakerto: STAIN Press 2010).


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

SEKOLAH SEBAGAI ORGANISASI LAPORAN PENELITIAN “ SEKOLAH SEBAGAI ORGANISASI” Oleh : YOLI AMRIL SYAFIRA (1730203181) PENDAHULUAN...