Jumat, 22 Juni 2018

LAPORAN OBSERVASI ANAK DIDIK DAN KONTAK SOSIAL-EDUKATIF

LAPORAN OBSERVASI ANAK DIDIK DAN
KONTAK SOSIAL-EDUKATIF
“Kontak Sosial Edukatif Sebagai Landasan Pembelajaran Berbasis
 Kearifan Lokal di SMA Negeri 1 Payaraman”
Oleh : Ulandari (1730203172)

I. PENDAHULUAN
Pada pembahasan ini saya membahas tentang Kontak Sosial Edukatif Sebagai Landasan Pembelajaran Berbasis Kearifan Lokal di SMA Negeri 1 Payaraman. Sejarah perkembangan peradaban manusia mengalami suatu proses yang panjang, yakni melalui belajar, pendidikan, dan pengalaman tersendiri sesuai dengan zamannya. Mereka mungkin tidak sekolah secara formal di sekolah, tetapi mereka belajar dari pengalaman. Proses pembelajaran dan pendidikan yang dialaminya pada zaman yang berbeda-beda menjadikan manusia mampu memenuhi kebutuhan hidupnya, menjalani kehidupan hingga memasuki zaman peradaban seperti sekarang ini. Dalam memenuhi kebutuhan hidup, menjalani kehidupannya manusia melakukan kontak sosial, karena manusia sebagai makhluk sosial harus mampu bersosialisasi, beradaptasi dengan lingkungan sosial. Menurut Gunawan (2005:33) sosialisasi merupakan hubungan interaktif di mana seseorang dapat mempelajari kebutuhan sosial
Berdasarkan fenomena tersebut untuk meningkatkan mutu pendidikan, maka dari pihak sekolah dan guru sebagai tenaga profesional mampu menghubungkan antara sekolah dengan masyarakat dengan menerapkan pendekatan pembelajaran kontektual (CTL), yaitu dengan memasukan kearifan lokal dalam pembelajaran. Karena sekolah sebagai sistem sosial yang elemennya saling keterkaitan dan fungsional. Perubahan yang dinamis dan drastis memerlukan adaptasi para pendidik dengan bekal pengetahuan dan keterampilan serta nilainilai yang akan dikomunikasikan kepada peserta didik. Munculnya sebuah fenomena para pendidik (guru) lulusan pendidikan secara moral cenderung mengalami kemerosotan.
Dari penjelasan diatas dapat dijelaskan bahwa : (1) usaha sadar, berarti terjadi situasi pendidikan dilaksanakan atas kesadaran pendidik; (2) orang dewasa, berarti pelaksanaan pendidikan haruslah orang yang sudah dewasa. (3) disengaja, berarti bahwa proses pendidikan memang disengaja direncanakan secara sistematis dan matang; (4) Bertanggung jawab, semua tindakan pendidik harus dipertanggung jawabkan secara moral berdasarkan kaidah-kaidah atau norma-norma yang berlaku; (5) dewasa sebagai tujuan, baik psikis maupun fisik yang diwarnai oleh nilai-nilai bangsanya untuk itu di Indonesia yang harus diwarnai Pancasila dan UUD 1945; (6) terus menerus, yakni (a) pendidikan dilaksanakan secara berkesinambungan, yakni (a) pendidikan secara berkesinambungan; (b) Pendidikan itu tidak ada hentinya (pendidikan seumur hidup)

A. RUMUSAN MASALAH
1. Bagaimana Memanfaatkan Kearifan Lokal dalam Pembelajaran di SMA Negeri 1 Payaraman ?
2. Bagaimana Kontak Sosial-Edukatif Sebagai Ladang Terjadinya Pendidikan di SMA Negeri 1 Payaraman ?
3. Bagaimana Dampak Kontak Sosial-Edukatif Bagi Anak Didik?

B. KAJIAN TEORITIS
Interaksi sosial ersifat positif dapat menciptakan terjadinya kerja sama yang pada akhirnya mempermudah terjadinya asimilasi (pembauran). Proses sosial adalah aspek dinamis dari kehidupan masyarakat,di dalamnya terdapat suatu proses hubungan antara manusia satu dengan lainnya.
Proses hubungan tersebut berupa interaksi sosial yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari secara terus menerus. Interaksi sosial diartikan sebagai pengaruh timbale balik antara dua belah pihak, antara individu dengan individu atau kelompok lainnya dalam mencapai suatu tujuan.proses sosial merupakan siklus perkembangan struktur sosial yang menunjukkan bagaimana prasangka dan diskriminasi dapat dieliminasi sedemikian rupa dan konflik nilai apat menjaga dalam batasan yang dapat dikerjakan pada suatu masyarakat dimana bagian masyarakat menjaga hubungan kelompok primer di antara individu-individu dengan beragam latar belakang.
Proses pembelajaran langsung alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami, bukan transfer pengetahuan dari guru ke siswa. Dalam hal ini lebih mementingkan strategi pembelajarannya dari pada hasil. Meningkatkan mutu pendidikan di SMA Negeri 1 Payaraman  maka dari pihak sekolah dan guru sebagai tenaga profesional mampu menghubungkan antara sekolah dengan masyarakat dengan menerapkan pendekatan pembelajaran kontektual (CTL), yaitu dengan memasukan kearifan lokal dalam pembelajaran. Pendidik sebagai komunikator harus mampu menyampaikan pesan kepada komunikan (peserta didik), sehingga terjadi kontak sosial secara pedagogik-edukatif.
Komunikasi adalah suatu transaksi, proses simbolik yang menghendaki orang-orang mengatur lingkungannya dengan (1) membangun hubungan antar sesama manusia; (2) melalui pertukaran informasi; (3) untuk menguatkan sikap dan tingkah laku orang lain; serta (4) berusaha mengubah sikap dan tingkah laku itu. Karena itu, kearifan lokal merupakan budaya masyarakat setempat yang dianggap mampu bertahan dalam menghadapi arus globalisasi, karena kearifan lokal mengandung nilai-nilai yang dapat dijadikan sebagai sarana pembangunan karakter bangsa agar menjadi sumber daya manusia yang unggul dan kompetitif di SMA Negeri 1 Payaraman.

C. METODELOGI
1. Pendekatan
Pendekatan yang saya gunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif dan Pendekatan kontektual (contextual teaching and learning/CTL) merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan dan keterampilan yang dimilikinya, juga penerapannya dalam kehidupan sehari-hari, sehingga pembelajaran lebih bermakna. Selain itu saya juga mendapatkan data dari hasil wawancara dengan narasumber.

2. Sumber yang diwawancarai
Narasumber yang saya wawancarai adalah kepala sekolah SMA Negeri 1 Payaraman Kabupaten Ogan Ilir yaitu Bapak Sugiyarto, S.Pd M.Si

3. Metode yang digunakan
Metode yang digunakan adalah metode penelitian yang bertujuan untuk mengetahui dan mempelajari bagaimana Kontak Sosial Edukatif Sebagai Landasan Pembelajaran Berbasis Kearifan Lokal di SMA Negeri 1 Payaraman kecamatan Payaraman Kabupaten Ogan Ilir.

II. PEMBAHASAN
D. HASIL OBSERVASI / WAWANCARA
1. Memanfaatkan Kearifan Lokal dalam Pembelajaran di SMAN 1 Payaraman
Wawancara menurut Robert Kahn dan Chanel, wawancara adalah suatu pola khusus dari sebuah interaksi yang dimulai secara lisan untuk suatu tujuan tertentu dan difokuskan pada daerah konten yang spesifik dengan suatu proses eliminasi dari bahan-bahan yang tidak ada hubungannya secara berkelanjutan.
Disadari atau tidak, arah pendidikan semakin mengalami alienasi, terasing dari akar budayanya yang telah lama menghujam ke dalam bumi pertiwi. Kini, akar itu mulai tercabut secara perlahan namun pasti. Nilai-nilai lokalitas mulai terhempas dari dunia pendidikan. Para peserta didik, bertambahnya hari bertambah upayanya untuk menjauhi kearifan lokal yang sudah semestinya menjadi warna dalam proses pendidikannya. Contoh, anak-anak di pedesaan gengsi menggunakan bahasa daerah dalam berkomunikasi. Anak-anak dengan sendirinya gengsi jika diminta tolong pergi ke sawah oleh orang tuanya, rasa jengah telah menyelimuti dirinya.
Menurut bapak Sugiyarto, S.Pd M.Si menjelaskan dan memaparkan  bahwa “pendidikan berkearifan lokal merupakan model pendidikan yang tidak begitu menjunjung tinggi formalitas. Pendidikan seperti itu tidak berwujud konsep-konsep melangit yang sulit terjangkau oleh anak didik, juga bukan merupakan materi khusus yang diajarkan kepada peserta didik, juga tidak harus dimasukkan ke dalam kurikulum pendidikan”. Pendidikan kearifan lokal adalah sebentuk aksi yang berpangkal dari penyadaran dan menguncup pada kesadaran. Penyadaran yang dimaksud adalah dengan mengajak anak didik terkait dengan realitas hidupnya.
CTL hanyalah sebuah strategi atau metode pembelajaran agar pembelajaran berjalan lebih produktif dan bermakna tanpa harus mengubah kurikulum yang ada. Dengan pendekatan CTL, minat dan prestasi siswa SMAN 1 Payaraman diharapkan tercapai dan meningkat. Proses pembelajaran langsung alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami, bukan transfer pengetahuan dari guru ke siswa. Dalam hal ini lebih mementingkan strategi pembelajarannya dari pada hasil.
Dengan kata lain, peserta didik memiliki kompetensi yang memungkinkan dapat bersaing dalam memasuki dunia kerja. Sedangkan dua landasan terakhir, mengacu pada kemampuan untuk mengaktualkan dan mengorganisir berbagai kemampuan yang ada pada masing-masing individu dalam suatu keteraturan sistemik menuju suatu tujuan bersama. Maksudnya bahwa untuk bisa menjadi seseorang yang diinginkan dan bisa hidup berdampingan dengan orang lain, baik di tempat kerja maupun di masyarakat, maka harus mengembangkan sikap toleran, simpati, empati, emosi, etika, dan unsur psikomorik lainnya. Artinya, peserta didik SMAN 1 Payaramn harus dibekali dengan soft skill.

2. Kontak Sosial-Edukatif Sebagai Ladang Terjadinya Pendidikan di SMAN 1 Payaraman

Abdullah Idi dalam dunia pendidikan/sekolah, kontak sosial merupakan salah satu sarana mencapai hasil pendidikan yang diharapkan. Kontak sosial disebut juga komunikasi sosial atau pergaulan sosial antara pendidik dengan anak didik yang memungkinkan timbulnya rasa senang dan cinta anak didik dari pendidik atau sebaliknya. Kontak sosial memungkinkan menimbulkan pengertian yang mendalam antara tugas pendidik, yang wajib mendidik anak didik, yang meminta pertolongan atau pendidikan, sehingga menimbulkan sikap wajar dan objektif pada keduanya.
Kontak sosial atau pergaulan dibedakan atas dua, yaitu pergaulan biasa dan pergaulan pegagogis. Pergaulan biasa dapat berubah menjadi pergaulan pedagogis. Hanya saja cara merubah pergaulan biasa menjadi pergaulan edukatif-pedagogis harus perlahanlahan, agar jangan memberikan kesan kepada anak didik sebagai suatu perubahan yang sekaligus. Sebab, hal tersebut oleh anak dirasakan sebagai suatu paksaan terhadap pribadinya.
Pertama, komunikasi antar pribadi membantu perkembangan intelektual dan sosial. Perkembangan kita sejak masa bayi sampai masa dewasa mengikuti pola semakin meluasnya ketergantungan kita pada orang lain. Perkembangan intelektual dan sosial, sangat ditentukan oleh kualitas komunikasi yang dilakukan dengan orang lain.
Kedua, identitas atau jati diri, terbentuk dalam dan lewat komunikasi dengan orang lain. Selama berkomunikasi dengan orang lain, secara sadar maupun tidak sadar kita mengamati, memperhatikan dan mencatat dalam hati semua tanggapan yang diberikan oleh orang lain terhadap diri sendiri.
Ketiga, dalam rangka memahami realitas di sekeliling serta menguji kebenaran kesan-kesan dan pengertian yang dimiliki tentang dunia sekitar, perlu membandingkannya dengan kesan-kesan dan pengertian orang lain tentang realitas yang sama. Tentu saja, pembandingan sosial (social comparison) semacam itu hanya dapat dilakukan lewat komunikasi dengan orang lain.
Keempat, kesehatan mental sebagian besar juga ditentukan oleh kualitas komunikasi atau hubungan dengan orang lain, lebih-lebih orangorang yang merupakan tokoh-tokoh signifikan (signifi cant fi gures) dalam kehidupan seharihari.

3. Dampak Kontak Sosial-Edukatif Bagi Anak Didik
Menurut Hendropuspeto bahwa interaksi sosial merupakan hubungan sosial dinamis menyangkut hubungan antara individu dengan individu, antara kelompok dengan kelompok, dan antara individu dengan kelompok. Kontak antarkelompok dengan teratur melalui tahapan-tahapan hubungan mempunyai bentuk: kontak (contact), persaingan/ kompetisi (competition), akomodasi (accommodation), dan asimilasi (assimilation). Tahapan-tahapan hubungan tersebut dinamakan interaksi sosial (socia; interaction). Interaksi sosial bersifat positif dapat menciptakan terjadinya kerjasama yang pada akhirnya mempermudah terjadinya asimilasi (pembauran). Proses sosial adalah aspek dinamis dari kehidupan masyarakat, di dalamnya terdapat suatu proses hubungan antara satu manusia dengan lainnya.
Proses hubungan tersebut berupa interaksi sosial yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari secara terus menerus, merupakan siklus perkembangan struktur sosial yang menunjukkan bagaimana prasangka dan diskriminasi dapat dieliminasi serta konflik nilai dapat menjaga batasan yang dapat dikerjakan pada suatu masyarakat. Dalam dunia pendidikan/sekolah, kontak sosial merupakan satu sarana mencapai hasil pendidikan yang diharapkan disebut juga pergaulan sosial, antara pendidik dengan anak didik yang memungkinkan timbulnya rasa senang dan cinta anak didik dari pendidik atau sebaliknya.
Menurut Langeveld (dalam Abdullah Idi, 2010:85) bahwa pergaulan merupakan ladang atau lapangan yang memungkinkan terjadinya pendidikan. Pendidikan hanya akan terjadi dalam pergaulan antara orang dewasa dengan yang belum dewasa. Akan tetapi, dalam pergaulan orang dewasa dengan orang dewasa yang lainnya dapat memungkinkan terjadinya pendidikan, karena hanya dalam pendidikan yang timbul di antara orang dewasa tersebut letak tanggungjawab, tidak terletak pada orang yang memberi nasihatm larangan, atau saran, akan tetapi tanggung jawab terletak pada orang dewasa yang menerima atau yang diberi.


KESIMPULAN
Peradaban manusia mengalami suatu proses yang panjang, yakni melalui belajar, pendidikan, dan pengalaman tersendiri sesuai dengan zamannya dalam rangka memenuhi kebutuhan hidup, menjalani kehidupannya manusia melakukan kontak sosial, karena manusia sebagai makhluk sosial harus mampu bersosialisasi, beradaptasi dengan lingkungan sosial.
Adanya kesenjangan adalah minimnya informasi yang bertalian dengan pendidikan di sekolah dan kurang kuatnya hubungan antara masyarakat dengan pemerintah. Meningkatkan mutu pendidikan, maka dari pihak sekolah dan guru sebagai tenaga profesional mampu menghubungkan antara sekolah dengan masyarakat dengan menerapkan pendekatan pembelajaran kontektual (CTL), yaitu dengan memasukkan kearifan lokal dalam pembelajaran.
Pendidik sebagai komunikator harus mampu menyampaikan pesan kepada komunikan (peserta didik), sehingga terjadi kontak sosial secara pedagogik-edukatif. Pendidikan berkearifan lokal merupakan model pendidikan yang tidak begitu menjunjung tinggi formalitas. Pendidikan kearifan lokal adalah sebentuk aksi yang berpangkal dari penyadaran dan menguncup pada kesadaran. Penyadaran yang dimaksud adalah dengan mengajak anak didik terkait dengan realitas hidupnya. Pendekatan kontektual (contextual teaching and learning/CTL) merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan dan keterampilan yang dimilikinya, juga penerapannya dalam kehidupan sehari-hari, sehingga pembelajaran lebih bermakna. 60 Dalam dunia pendidikan/sekolah,
kontak sosial merupakan salah satu sarana mencapai hasil pendidikan yang diharapkan, disebut juga komunikasi sosial antara pendidik dengan anak didik yang memungkinkan timbulnya rasa senang dan cinta anak didik dari pendidik atau sebaliknya. Kontak sosial bermanfaat dalam pembentukan pribadi atau karakter anak didik, antara lain, (1) memungkinkan terjadinya pendidikan, (2) merupakan sarana mawas diri, (3) menimbulkan cita-cita, (4) memberikan pengaruh secara diam-diam. Bila pengawasan berlangsung dengan baik, akan terjadi pengaruh positif. Komunikasi adalah suatu transaksi, proses simbolik yang menghendaki orangorang mengatur lingkungannya dengan (1) membangun hubungan antar sesama manusia; (2) melalui pertukaran informasi; (3) untuk menguatkan sikap dan tingkah laku orang lain; serta (4) berusaha mengubah sikap dan tingkah laku itu. Dengan menggunakan pendekatan kontekstual dalam pembelajaran dapat memasukkan kearifan lokal dikenal sebagai pengetahuan setempat (indigenous or local knowledge), atau kecerdasan setempat (local genius), yang menjadi dasar identitas kebudayaan (cultural identity).
Karena itu dapat dikatakan bahwa kearifan lokal merupakan budaya yang dimiliki oleh masyarakat tertentu dan di tempat-tempat tertentu yang dianggap mampu bertahan dalam menghadapi arus globalisasi, karena kearifan lokal tersebut mengandung nilai-nilai yang dapat dijadikan sebagai sarana pembangunan karakter bangsa agar menjadi sumber daya manusia yang unggul dan kompetitif.








DAFTAR PUSTAKA
Abdullah Prof. Dr. H. Idi, M. Ed. 2011 Sosiologi Pendidikan, Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada.
Abu Ahmadi, Sosiologi Pendidikan, 1999 Jakarta : PT.Cipta
Gunawan Ary H. 2000. Sosiologi Pendidikan Jakarta : Rineka Cipta
J. Dwi. Narwoko dan Bagong Suyanto, 2007, Sosiologi Teks Pengantar dan Terapan, Jakarta : Kencana Prenada
Tilaar H.A.R 1999. Pendidikan , Kebudayaan dan Masyarakat, Bandung : PT. Remaja Rosdakarya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

SEKOLAH SEBAGAI ORGANISASI LAPORAN PENELITIAN “ SEKOLAH SEBAGAI ORGANISASI” Oleh : YOLI AMRIL SYAFIRA (1730203181) PENDAHULUAN...