PENDIDIKAN DAN STRATIFIKASI SOSIAL MASYARAKAT
Oleh : Rizky Dhea Ananda (1730203160)
PENDAHULUAN
Lapisan masyarakat sudah ada sejak dulu, dimulai sejak manusia itu mengenal adanya kehidupan bersama dalam suatu organisasi sosial. Lapisan masyarakat mula-mula didasarkan pada perbedaan seks, perbedaan antara yang pemimpin dan yang dipimpin, golongan budak dan bukan budak, pembagian kerja bahkan pada pembedaan kekayaan. Semakin maju dan rumit teknologi suatu masyarakat, maka semakin kompleks sistem lapisan masyarakat.
Bentuk-bentuk kongkrit lapisan masyarkat berbeda-beda dan sangat banyak. Namun secara prinsipil bentuk-bentuk lapisan sosial tersebut dapat diklasifikasikan ke dalam tiga kelas yaitu ekonomi, politis, dan didasarkan pada jabatan-jabatan tertentu dalam masyarakat. Ketiga bentuk pokok tadi memiliki keterkaitan yang erat satu sama lainnya, dimana ketiganya saling mempengaruhi. Secara teoritis, semua manusia dapat dianggap sederajat, namun dalam realitanya hal tersebut tidak demikian adanya. Pembedaan atas lapisan merupakan gejala universal yang merupakan bagian sistem sosial setiap masyarakat. Sistem lapisan dengan sengaja dibentuk dan disusun untuk mengejar suatu tujuan bersama.
Pendidikan mempunyai peranan yang amat menentukan bagi perkembangan dan perwujudan diri individu, tingkat pendidikan seseorang mempunyai korelasi yang tinggi dengan kedudukan sosialnya. Sebagaimana pernyataan Nasution dalam bukunya Sosiologi Pendidikan menyatakan bahwa:
“Dalam berbagai studi, tingkat pendidikan tertinggi yang diperoleh seseorang digunakan sebagai indeks kedudukan sosialnya. Menurut penelitian memang terdapat korelasi yang tinggi antara kedudukan sosial seseorang dengan tingkat pendidikan yang telah ditempuhnya”
Tingkat pendidikan yang seharusnya mampu mengangkat kedudukan sosial seseorang kini hampir tidak ada pengaruhnya dalam mobilitas sosial. Ijazah SMA kini tidak ada artinya untuk mencari kedudukan yang tinggi, bahkan perguruan tinggi yang dianggap suatu syarat mobilitas sosial tidak mampu menjanjikan lulusannya untuk memperoleh kedudukan sosial yang baik, tetapi justru kini sudah bertambah sulit untuk memperoleh kedudukan yang empuk dimasyarakat. Indikasinya, semakin banyaknya lulusan perguruan tinggi yang kesulitan mengamalkan keilmuan yang diperolehnya dari bangku kuliah sehingga jumlah penyandang status sarjana pengangguran semakin naik dari tahun ke tahun. Karena hampir di semua kampus di Indonesia melakukan praktik bonsai pada ranah kemampuan intelektualnya, mahasiswa dituntut untuk lulus cepat, minimal tiga tahun dan maksimal empat tahun. Kampus tidak mau tahu, apakah kemampuan intelektual mahasiswanya sudah mumpuni atau belum, sudah siap dilepas ke tengah masyarakat atau belum, sudah cukup bekal untuk membangun bangsa dan negaranya atau belum.
A. Rumusan Masalah
1. Bagaimanakah hubungan antar lapisan masyarakat desa talang gabus?
2. Bagaimanakah cara mengatasi konflik yang terjadi di masayarakat desa talang gabus?
B. Kajian Teoritis
Dalam ensiklopedi umum dijelaskan Pendidikan adalah proses mengubah sikap dan tata kelakuan seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pembiasaan, pembelajaran, pelatihan dan peneladanan, serta proses penanaman ilmu pengetahuan, akhlak, dan nilai sosial budaya, ini dimaksudkan agar seseorang dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan kreatif, cakap, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Ki Hajar Dewantara dalam Prayitno menjelaskan tentang pengertian pendidikan yaitu: “Pendidikan yaitu tuntutan di dalam hidup tumbuhnya anak-anak, adapun maksudnya, pendidikan yaitu menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak itu, agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapatlah mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya.”
Konsep pendidikan di Indonesia diatur dalam Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pada Bab I Pasal 1 Ayat 1, pendidikan didefinisikan sebagai:
“Usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.”
Beberapa pengertian pendidikan di atas dapat menyimpulkan bahwa Pendidikan adalah Bimbingan atau pertolongan yang diberikan oleh orang dewasa kepada perkembangan anak untuk mencapai kedewasaannya dengan tujuan agar anak cukup cakap melaksanakan tugas hidupnya sendiri tidak dengan bantuan orang lain.
STRATIFIKASI
Stratifikasi sosial adalah strata atau pelapisan orang-orang yang berkedudukan sama dalam rangkaian kesatuan status sosial. Para anggota strata sosial tertentu sering kali memilki jumlah penghasilan yang relatif sama. Namun lebih penting dari itu, mereka memiliki sikap, nilai-nilai, dan gaya hidup yang sama. Semakin rendah kedudukan seseorang di dalam pelapisan sosial, biasanya semakin sedikit pula perkumpulan dan hubungan sosialnya, Orang-orang yang berasal dari lapisan sosial rendah misalnya, biasanya lebih sedikit berpartisipasi dalam jenis organisasi apa pun. Ada kecenderungan yang kuat, kelompok yang berasal dari lapisan rendah atau masyarakat miskin biasansya lebih menarik diri dari tata karma umum, mereka mengambangkan subkultur tersebut yang seringkali berlawanan dengan subkultur kelas sosial di atasnya.
Didalam masyarakat terdapat suatu ruang yang disebut lapisan sosial. Dalam ruang itu tinggal orang-orang yang mempunyai kedudukan setingkat. Jadi lapisan sosial (social stratum) adalah keseluruhan orang yang berkedudukan sosial setingkat. Jikalau anggota-anggota lapisan sosial itu merasa bersatu dan menyadari kedudukannya yang setingkat maka timbullah sebuah kelas sosial (social class).
Perwujudan pelapisan sosial dalam masyarakat dikenal dengan istilah kelas-kelas sosial yang terdiri atas :
1. Kelas sosial tinggi (upper class),
2. Kelas sosial menengah (middle class), dan
3. Kelas sosial rendah (lower class).
Kelas sosial tinggi meliputi para pejabat atau penguasa dan pengusaha kaya. Kelas sosial menengah meliputi kaum intelektual, seperti dosen, peneliti, mahasiswa, pengusaha kecil, menengah dan pegawai negeri. Kelas sosial rendah merupakan kelompok terbesar dalam masyarakat yang meliputi buruh dan pedagang kecil. Pengelompokan semacam itu terdapat dalam segala bidang kehidupan dimana manusia menjalankan aktivitasnya.
Penggolongan sosial terjadi karena adanya sifat sistem pelapisan di masyarakat. Menurut Sarjono Soekanto, pelapisan di masyarakat dapat bersifat tertutup (closed social certification) dan terbuka (open social Stratification), hal ini dapat dijelaskan bahwa:
“1, sistem tertutup, dimana membatasi kemungkinan berpindah seorang dari suatu lapisan kelapisan lain, baik berupa gerak keatas maupun gerak kebawah. Didalam system yang demikian, satu-satunya jalan menjadi anggota suatu lapisan dalam masyarakat adalah kelahiran. Contoh: masyarakat dengan system stratifikasi social tertutup ini adalah masyarakat berkasta, sebagian masyarakat feodal atau masyarakat yang dasar stratifikasinya tergantung pada perbedaan rasial. 2, system terbuka yang mana masyarakat didalamnya memiliki kesempatan untuk berusaha degan kecakapan sendiri untuk naik lapisan. Atau bagi mereka yang tidak beruntung, untuk jatuh dari lapisan atas kelapisan bawah, kemungkinan terjadinya mobilitas social sangat besar.”
Suatu masyarakat dinamakan tertutup mana kala setiap anggota masyarakat tetap pada status yang sama dengan orang tuanya. Sedangkan dinamakan terbuka, karena setiap anggota masyarakat menduduki status berbeda dengan orang tuanya, dimana bias lebih tinggi atau lebih rendah. Mobilita sosial yang disebut tadi, berarti berpindah status dalam stratiifikasi social. Berbagai faktor yang menyebabkan perpindahan status, antara lain pendidikan dan pekerjaan.
FUNGSI STRATIFIKASI SOSIAL.
Adanya pelapisan sosial dalam masyarakat memiliki beberapa fungsi yaitu :
1) Alat bagi masyarakat untuk menjalankan tugas-tugas pokok
2) Pelapisan sosial dapat menyusun dan mengatur serta mengawasi hubungan hubungan diantara anggota masyarakat
3) Pelapisan sosial mempunyai fungsi pemersatu dengan mengkoordinasikan unit-unit yang ada dalam stratifikasi sosial.
4) Pelapisan sosial memudahkan manusia untuk saling berhubungan diantara mereka.
5) Memecahkan persoalan yang dihadapi masyarakat yaitu penempatan individu dalam tempat-tempat yang tersedia dalam struktur sosial dan mendorongnya agar melaksanakan kewajibannya yang sesuai dengan kedudukan serta perannya.
6) Distribusi hak-hak istimewa yang objektif, seperti menentukan penghasilan, tingkat kekayaan, keselamatan dan wewenang pada jabatan atau pangkat atau kedudukan seseorang.
7) Sistem tingkatan pada strata yang diciptakan masyarakat yang menyangkut prestise dan penghargaan, misalnya pada seseorang yang menerima anugerah penghargaan atau gelar atau kebangsawanan dan sebagainya.
HUBUNGAN PENDIDIKAN DENGAN STRATIFIKASI SOSIAL
Salah satu dasar pembentuk pelapisan sosial atau kriteria yang menonjol atau dominan sebagai dasar pembentukan pelapisan sosial yaitu ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan ini erat hubungannya dengan pendidikan. Ukuran ilmu pengetahuan sering dipakai oleh anggota-anggota masyarakat yang menghargai ilmu pengetahuan. Seseorang yang paling menguasai ilmu pengetahuan akan menempati lapisan tinggi dalam sistem pelapisan sosial masyarakat yang bersangkutan.
Dalam berbagai studi, disebutkan tingkat pendidikan tertinggi yang didapatkan seseorang digunakan sebagai indeks kedudukan sosialnya di dalam masyarakat. Menurut penelitian memang terdapat korelasi yang tinggi antara kedudukan sosial seseorang dengan tingkat pendidikan yang telah ditempuhnya, meski demikian pendidikan yang tinggi tidak dengan sendirinya menjamin kedudukan sosial yang tinggi. Korelasi antara pendidikan dan golongan sosial antara lain terjadi karena anak dari golongan rendah kebanyakan tidak melanjutkan pelajarannya sampai perguruan tinggi. Sementara orang yang termasuk golongan atas beraspirasi agar anaknya menyelesaikan pendidikan sampai perguruan tinggi. Orang yang berkedudukan tinggi, bergelar akademis, yang mempunyai pendapatan besar tinggal dirumah elite dan merasa termasuk golongan atas akan mengusahakan anaknya masuk universitas dan memperoleh gelar akademis. Sebaliknya anak yang orangtuanya buta huruf mencari nafkahnya dengan mengumpulkan puntung rokok,tinggal digubuk kecil, tak dapat diharapkan akan mengusahakan anaknya menikmati perguruan tinggi.
Ada 3 faktor yang mempengaruhi tingkat pendidikan seorang anak, Yaitu:
1.Pendapatan orang tua.
2.Kurangnya perhatian akan pendidikan dikalangan orang tua.
3.Kurangnya minat si anak untuk melanjutkan ke perguruan tinggi.
Golongan sosial tidak hanya berpengaruh terhadap tingginya jenjang pendidikan anak tetapi juga berpengaruh terhadap jenis pendidikan yang dipilih. Tidak semua orangtua mampu membiayai studi anaknya diperguruan tinggi. Pada umumnya anak-anak yang orangtuanya mampu, akan memilih sekolah menengah umum sebagai persiapan untuk belajar di perguruan tinggi. Sementara orangtua yang mengetahui batas kemampuan keuangannya akan cenderung memilih sekolah kejuruan bagi anaknya, dengan pertimbangan setelah lulus dari kejuruan bisa langsung bekerja sesuai dengan keahliannya.
Kesimpulannya bahwa pendidikan dengan stratifikasi sosial sangat erat hubungannya. Pada stratifikasi sosial terbuka pendidikan dapat menjadi alat untuk mobilisasi sosial. Pendidikan sebagai salah satu dasar penentu kelas sosial dapat merubah kelas seseorang.
C. Metodelogi
1. Pendekatan
Dalam melakukan penelitian ini saya mengunakan pendekatan kualitatif dengan mendapatkan data dari wawancara dengan narasumber.
2. Sumber yang di wawancarai
Sumber yang saya wawancarai adalah Pak Agus selaku ketua rt04/rw02 desa talang gabus kecamatan lawang kidul
3. Metode yang digunakan
Metode yang saya gunakan adalah metode penelitian pekembangan.
D. Hasil Observasi
HUBUNGAN ANTAR LAPISAN DI DESA TALANG GABUS
Pada dasarnya wilayah kecamatan Lawang Kidul sebagian besar di dominasi oleh area pertambangan sehingga Mayoritas mata pencahariannya di dominasi oleh pekerja tambang atau Persero Terbatas yang biasa disingkat PT dan sebagiannya bekerja sebagai pedagang sehingga sistem stratifikasi sosialnya adalah terbuka yang memungkinkan terjadinya mobilitas sosial dimana jika lapisan kelas bawah bisa bergerser atau berpindah ke atas ataupun sebaliknya. Karena mayoritas masyarakat di desa talang gabus bseprofesi sebagai pekerja tambang dan pedagang tetapi antar masyarakat memiliki hubungan kekerabatan yang erat antara satu sama yang lainnya walaupun terkadang masih sering terjadi kesenjangan antar lapisan masyarakat.
CARA MENGATASI KONFLIK YANG TERJADI DI MASYARAKAT
Biasanya pada masyarakat desa talang gabus lebih mengedepankan rasa kemanusian ketika menghadapi konflik, yaitu melakukan musyawarah dalam upaya penyelesaian konflik. Karena mereka mengaggap tidak ada masalah yang tidak dapat diselesaikan.
Upaya musyawarah biasanya melibatkan mereka para aparatur desa seperti kepela desa sebagai penegah dari mereka yang bertikai. Dan jikalau konflik tidak dapat terselesaikan maka mereka biasanya langsung menempuh jalur hukum agar bisa menyelesaikan dan meredam konflik yang terjadi. Tetapi meskipun begitu upaya musyawarah selalu menjadi cara yang dominan jika dibandingkan dengan menempuh jalur hukum.
E. KESIMPULAN
Stratifikasi sosial merupakan konfigurasi atau pemilihan struktur sosial menggunakan parameter berjenjang. Sehingga dalam masyarakat terdapat kelas-kelas sosial. di desa talang gabus antara masyarakat kelas atas dan kelas bawah memiliki hubungan kekerabatan yang baik . bagaimana masyarakat dapat dihargai dan dihormati, setiap masyarakat memiliki pandangan dari segi pendidikan dan keilmuan tentang agama.
DAFTAR PUSTAKA
Abdul syukur, Ensiklopedi umum untuk pelajar akarta : PT ichtiyar Baru Van Hoeve.
Didin saripudin, 2010. interpretasi sosiologis dalam pendidikan. Bandung : Karya Putra Darwati.
Elly M. Setiadi dan Usman Kolip, 2011. Pengantar Sosiologi: Pemahaman Fakta dan Gejala Permasalahan Sosial. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
Prayitno,1999. Dasar Teori Dan Praksis Pendidikan. Bandung: Grasindo.
S. Nasution ,2011. Sosiologi Pendidikan, Jakarta, Bumi Aksara.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar