LAPORAN
OBSERVASI
“SOSIALISASI
ANAK DIDIK”
Oleh : Tri Maryatun (1730203171)
I.
PENDAHULUAN
Cakupan bahasan ini
tentang pengaruh sosialisasi anak didik di lingkungan keluarga, masyarakat dan
sekolah terhadap sifat dan perkembangan anak kedepannya. S. Nasution (2009) mengatakan bahwa
sosialisasi merupakan proses bibingan infividu ke dalam dunia sosial. Sosialisasi diakukan dengan mendidik individu
tentang kebudayaan yang harus dimiliki dan diikutinya, agar ia menjadai anggota
yang baik dalam masyarakat dan dalamm berbagai kelompok khusus, sosialisasi
dapat dianggap sama dengan pendidikan.[1]
Setiap orang akan
memperoleh proses belajar tentang kemasyarakatan yang didalamnya terdapat
beragam aturan, norma dan tradisi.
Proses ini bertujuan agar seseorang dapat menjalani hidup ditengah
masyarakat secara layak. Seorang, dalam
hal ini perlu memperoleh beragam pengetahuan tentang masyarakat melalui proses
pembelajaran sosial. Hal ini menunjukkan
bahwa sosialisasi dapat diartikan sebagai suatu proses belajar atau
pembelajaran bagi setiap orang tentang segala sesuatu di dalam masyarakat agar
nanti dapat hidup dengan layak di tengah masyarakat.[2]
Untuk mencapai
semua itu, individu perlu memperoleh bimbingan dari pelaku sosialisasi: orang
tua, pendidik/guru dan masyarakat.
Dengan sosialisasi yang baik individu diharapkan dapat beradaptasi
dengan orang lain dimana individu itu berada.[3]
Maka dari itu, saya
mencoba mengamati seorang anak yang beranjak memasuki usia remaja untuk
mengetahui bagaimana lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat mempengaruhi
sifat, sikap serta kepribadiannya. Dan
juga laporan ini dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah “Sosiologi
Pendidikan”. Saya harap setelah
dilakukan pengamatan ini, saya dapat
menegatahui secara spesifik tentang permasalahan pengaruh lingkungan
tehadap kepribadian anak lebih detail serta dapat menambah informasi untuk diri
saya sendiri maupun orang lain.
A.
RUMUSAN MASALAH
1. Bagaimana peran orang tuan atau keluarga dalam
mempersiapkan seorang anak untuk bersosialisasi di masyarkat dan sekolah?
2. Bagaimana pengaruh sosialisasi anak di keluarga, sekolah
dan masyarakat terhadap kepribadian anak?
B.
KAJIAN TEORITIS
Di Keluarga, anak berinteraksi
dengan ayah, ibu dan anggota keluarga lain.
Dimana anak memperoleh pendidikan informal berupa kebiasaan. Kebiasaan tersebut bermacam-acam, misalnya
tentang cara makan, bertutur kata, bangun pagi dan shalat subuh, kebiasaann
berpuasa, kebiasaan bersedekah, kebiasaan salam sebelum berangkat sekolah,
gosok gigi, berdo’a sebelum tidur, berdo’a sebelum makan, berdo’a sebelum
bepergian, dll. Pendidikan informal
dalam keluarga sangat membantu anak dalam proses pembentukan kepribadiannya.
Sebagai fungsi sosial, selain
fungsi biologis, ekonomi dan agama, keluarga memiliki peran sangat krusial
dalam proses sosialisasi. Orang tua
hendaknya memberi teladan yang terbaik bagi anak-anak tentang banyak hal dalam
konteks proses sosialisasi. Keluarga
sebagai salah satu dari pusat pendidikan bertugas memebentuk
kebiasaan-kebiasaan positif sebagai fondasi yang kuat dalam pendidikan informal.
Anak selanjutnya bersosialisasi
pada pendidikan formal di sekolah dimana mereka menuntut ilmu pengetahuan. Setelah masuk sekolah, anak diharapkan dapat
menyesuaikan diri dengan kondisi serta aturan-aturan sekolah yang berlaku. Di sekolah anak berinteraksi dengan pendidik,
staf karyawan, teman sejawat. Anak di
sekolah memperoleh pendidikan formal berupa nilai-nilai, pengetahuan,
keterampilan, dan sikap terhadap mata pelajaran. Dari proses sosialisasi disekolah anak akan
membentuk kepribadia untuk tekun dan rajin belajar, memiliki cita-cita dan
lain-lain. Selain itu, anak juga dapat
berinteraksi dengan teman sejawat yang berkonotasi negatif, misalnya suka
bolos, melawan guru, berkelahi, berbohong, malas, boros uang jajan, sehingga
akhirnya dapat berdampak pada prestasi akademik anak. Elemen sekolah (kepala Sekolah, guru,
karyawan, penjaga sekolah) sudah tentu memiliki tanggung jawab penuh dalam
menempatkan proses sosialisasi yang positif pada anak didik di sekolah. [4]
Menurut Binti Maunah secara
umum ada lima faktor utama dalam mempengaruhi sosialiasi seseorang, yaitu sifat
dasar, lingkungan parental, perbedaan perorangan, lingkungan, dan
motivasi. [5]
Dimasyarakat anak mendapatkan
pendidikan berupa pengalaman hidup.
Setiap masyarakat menurunkan kebudayaannya kepada generasi penerus
melalui interaksi sosial. Lingkungan
sekitar tempat tinggal anak sangat mempengaruhi perkembangan pribadi anak. Disitulah anak memperoleh pengalaman bergaul
dengan teman-teman di luar rumah dan sekolah lingkungan sekitar rumah
memberikan pengaruh sosial pertama kepada anak di luar keluarga.
Sebagai suatu proses,
sosialisasi memiliki beberapa metode yang digunakan untuk mempengaruhi
sosialisasi anak. Pertama, metode ganjaran dan hukuman. Dalam proses sosialsasi, hukuman diberikan
kepada anak yang bertingkah laku salah, tidak baik, kurang pantas, atau tidak
diterima oleh masyarakat. Sedangkan
ganjaran diberikan kepada anak yang berperilaku baik. Kedua,
metode didactic teaching. Metode ini
mengutamakan pengajaran kepada anak tentang berbagai macam pengetahuan dan
keterampilan. Ketiga, metode pemberian contoh.
Anak-anak cenderung mencontoh semua tingkah laku orang yang ada di
lingkungan sekitarnya. [6]
Lingkungan yang dimaksud adalah
kondisi sekitar individu baik lingkungan alam, kebudayaan dan masyarakat yang
dapat mempengaruhi proses sosialisasi.
Walaupun sebenarnya kondisi sekitar tidak menentukan, tetapi mampu
mempengaruhi dan membatasi proses sosialisasi seseorang. Motivasi memiliki peran yang begitu penting
dan pokok dalam kehidupan seseorang.
Motivasi merupakan sebuah konsep yang digunakan untuk menjelaskan
inisisasi, arah intensitas perilaku individu dan ketentuan yang mendorong
seseorang melakukan sesuatu untuk
mencapai tujuan.[7]
C.
METODELOGI
1.
Pendekatan
Pendekatan yang digunakan dalam
penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif.
Dimana saya mendapatkan data dari hasil wawancara dengan narasumber.
2.
Sumber yang diwawancarai
Narasumber yang saya wawancarai
adalah Nurlaila Azizah yang merupakan siswi SMA YPI Tunas Bangsa Palembang.
3.
Metode yang digunakan
Metode yang digunakan adalah
metode penelitian perkembangan yang bertujuan untuk mengetahui pola dan urutan
pertumbuhan dan / atau perubahan sebagai fungsi waktu.
II.
PEMBAHASAN
D.
Hasil Wawancara
Pada Rabu, 13 Juni 2018, saya berkunjung ke rumah narasumber sekitar
pukul 09.00 WIB. Narasumber menyambut
baik kedatangan saya dan mempersilahkan untuk masuk dan melaksanakan wawancara.
Pertanyaan pembuka:
1.
Assalammu’alaikum dik, apakah saya boleh mewawancarai adik?
·
Wa’alaikumsalam, ya boleh kak.
2.
Siapa nama lengkap adik?
·
Nama saya Nurlaila Azizah
3.
Pada saat ini adik usianya berapa?
·
16 tahun
4.
Sekolah dimana dan kelas berapa?
·
Sekolah di SMA YPI Tunas Bangsa Palembang dan kelas 11
Pertanyaan Isi:
1.
Berapa bersaudara?
·
2 bersaudara
2.
Menurut adik apakah pola didik yang dilakukan orang tua
terhadap adik sudah baik?
·
Sudah
3.
Kenapa?
·
Karena orang tua saya mengajarkan saya tentang sopan
santun, tingkah laku, norma-norma yang berlaku dan tutur kata yang baik.
4.
Apakah adik pernah mendapat hukuman saat melakukan
kesalahan, jika pernah hukuman seperti apa yang diberikan orang tua terhadap
adik?
·
Pernah, hukuman yang saya dapat yaitu berupa penyitaan
handphone, karena saya waktu itu selalu bermain handphone tanpa mengingat waktu.
5.
Apakah hukuman yang diberikan memberikan efek positif
untuk adik?
·
Ya, dengan begitu saya jera dan waktu yang pernah saya
buat untuk hanya bermain handphone saya gunakan untuk belajar.
6.
Bagaimana respon yang ditunjukkan orang tua adik ketika
adik mendapatkan sebuah prestasi atau melakukan hal-hal baik?
·
Responnya yaitu pastinya orant tua saya bahagia, dengan
begitu saya semakin termotivasi untuk selalu melakukan hal baik yaitu dengan
cara mendapatkan prestasi karena hanya itu yang dapat saya lakukan untuk
sekarang.
7.
Apa saja peraturan atau kebiasaan yang ada di keluarga
adik?
·
Tidak boleh telat makan, sebelum pergi sekolah harus
sarapan, bangun pagi, tidak boleh tidur setelah sholat subuh, merapihkan rumah,
jika berpergian dengan teman tidak boleh pulang setelah magrib.
8.
Hmmmm, apakah disekolah ditetapkan aturan atau tata tertib
yang sangat ketat?
·
Ya tentu, pastinya kan setiap sekolah itu menetapkan
peraturan. Namun disekolah saya peraturan yang sangat sangat ketat yaitu jika
teralambat datang sekolah maka pagi itulah
mendapat hukuman seperti mengepel, menyapu, atau yang lainnya, dan juga
jika atribut sekolah yang ditetapkan tidak dipatuhi maka siap-siap akan
mendapat hukuman berupa misalnya tidak menggunakan dasi maka pengganti dasi
tersebut berupa tali rapia dan batu, dan lagi jika rok atau celana yang
digunakan ketat maka rok atau celana tersebut di robek dan di coret-coret,
gelang dan kalung juga disita bagi laki-laki maupun perempuan kecuali
anting-anting bagi perempuan, dan satu hal lagi yang sangat ketat yaitu tidak
perbolehkan membawa handphone ke sekolah, jika melanggar maka akan disita atau
bahkan mungkin tidak akan dikembalikan lagi.
Dan jika ketahuan oleh guru handphone tersebut berisi konten yang tidak
pantas maka hari itu juga siswa tersebut dikeluarkan secara tidak hormat.
9.
Apakah adik dekat dengan guru, staf atau karyawan yang
ada disekolah?
·
Untuk dekat itu tidak, tapi pastinya saya kenal
dengan mereka, dan mereka pun ingat
dengan nama murid-muridnya.
10.
Penghargaan apa saja yang pernah adik dapatkan disekolah?
·
Penghargaan yang saya dapatkan yaitu saya pernah meraih
juara satu pada kelas 10, dan saya mendapat bebas biaya spp selama 3 bulan.
11.
Bagaimana keadaan pergaulan anak di seusia adik di
lingkungan sekitar?
·
Hmmm, menurut saya masih dibilang biasa-biasa saja, tidak
ada pergaulan yang bebas disini, dan jika terdapat orang yang
nongkrong-nongkrong itu hanya di depan teras rumah mereka sendiri atau bahkan
di dalam rumah mereka, itupun jika saya perhatikan mereka hanya mengobrol biasa
saja dan teman-teman mereka pun tidak aneh-aneh yang nongkrong-nongkrong pun
tidak bercampur dengan laki-laki dan perempuan, melainkan hanya jika laki-laki
ya laki-laki saja, dan perempuan ya perempuan saja. Gitu...
12.
Dilingkungan masyarakat apakah adik mengikuti karang
taruna tau remaja masjid atau sejenisnya?
·
Tidak, tidak sama sekali, karena disini tidak ada karang
taruna atau remaja masjid atau
lainnya. Hanya ada bapak-bapak masjid
dan ibu-ibu pengajian.
Pertanyaan Penutup:
1.
Menurut adik apakah pergaulan di keluarga, sekolah,
maupun masyarakat memberikan pengaruh yang besar terhadap pembentukan
keperibadian adik?
·
Ya, tentu saja.
Karena pembentukan kepribadian yang amat besar bermula dari keluarga,
kemudian sekolah, dan setelah itu masyarakat sekitar.
2.
Terima kasih atas waktu dan kesempatan yang adik berikan.
E.
Kesimpulan
Berdasarkan hasil wawancara
saya dengan Nurlaila Azizah dapat diambil kesimpulan bahwa pendidikan pertama
yang didapat dari kelurga merupakan pendidikan yang baik dan dapat menjadi
pondasi untuk menjalani pergaulan atau sosialisasi di sekolah maupun di masyarakat. Di sekolah Nurlaila Azizah hanya mendapatkan
pengajaran berupa ilmu pengetahuan dan minim mendapatkan pendidikan berupa
pengalaman atau bimbingan untuk hidup di masyarakat. Lingkungan masyarkat sekitar tempat tinggal
Nurlaila merupakan lingkungan yang bisa dikatakan cukup baik, karena pergaulan
yang terjadi masih dalam batas normal dan masih dalam pengawasan orang tua
hanya saja dilingkungan tersebut minim organisasi atau perkumpulan remaja yang
dapat menjadi wadah bagi remaja sekitar untuk menyalurkan kreativitasnya.
III.
DAFTAR PUSTAKA
Ahmadi, Abu. 1991. Sosiologi Pendidikan. Jakarta:
Renikacipta.
Idi, Abdullah. 2011. Sosiologi Pendidikan. Jakarta: Rajawali
Pers.
Khodijah, Nyayu. 2014. Psikologi Pendidikan. Jakarta: PT Raja
Grafindo.
Maunah, Binti. 2016. Sosiologi
Pendidikan. Yogyakarta: Kalimedia.
Nasution, S. 2009. Sosiologi
Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.
[1] S. Nasution, Sosiologi Pendidikan, (Jakarta: Bumi Aksara, 2009), hlm.126.
[2] Abdullah Idi, Sosiologi Pendidkan, (Jakarta: Rajawali Pers, 2011), hlm.100.
[3] Ibid., hlm.100-101.
[4] Ibid., hlm.105-106.
[5] Binti Maunah, Sosiologi Pendidikan, (Yogyakarta: Kalimedia, 2016), hlm.129.
[6] Abu Ahmadi, Sosiologi Pendidikan, (Jakarta: Renikacipta, 1991), hlm.162
[7] Nyayu Khodijah, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: PT Raja Grafindo, 2014), hlm.150
Tidak ada komentar:
Posting Komentar