Jumat, 22 Juni 2018

Laporan Observasi Stratifikasi Sosial Desa Morodadi Belitang Oku Timur

Nama : Nita Nur Cahyani
Nim    : 1730203148
Dosen Pengasuh    : Drs. Saipul Annur.M.Pd

Laporan Observasi
Stratifikasi Sosial Desa Morodadi Belitang Oku Timur

I. Pendahuluan
Setiap masyarakat senantiasa mempunyai pengharaan tertentu terhadap hal-hal tertentu dalam masyarakat yang bersangkutan. Penghargaan yang lebih tinggi dalam hal-hal tertentu, akan menempatkan hal tersebut pada kedudukan yang lebih tinggi dari hal-hal lainnya. Kalau suatu masyarakat lebih menghargai kekayaan materil dari pada kehormatan.
Misalnya mereka yang lebih banyak mempunyai kekayaan meteril akan menepati kedudukan yang lebih tinggi apa bila dibandingkan dengan pihak-pihak lain. Gejala tersebut menimbulkan lapisan masyarakat yang merupakan pembeda posisi masyarakat secara kelompok atau secara individu yang sifatnya vertikal dan bukan horozontal. Dalam Sosiologi, pengelompokan masyarakat berdasarkan tingkatan-tingkatan tertentu itu disebut dengan stratifikasi sosial. Stratifikasi sosial merupakan gejal sosial yang sifatnya umum pada setiap masyarakat.
Sistem lapisan-lapisan di dalam masyarakat dapat terjadi dengan sendirinya dalam proses pertumbuhan masyarakat itu, tetapi ada pula yang dengan sengaja disusun untuk mengejar  suatu tujuan bersama. Lapisan-lapisan dalam masyarakat dapat dijumpai dimana-dimana dengan ukuran yang dipergunakannya juga bermacam-macam. Meskipun secara teoritis semua manusia dapat di anggap sederajat tetapi kenyataannya dalam kehidupan manusia tidaklah demikian karena perbedaan atas lapisan-lapisan merupakan bagian dari sistem sosial setiap masyarakat.[1]
Pelapisan atau stratifikasi merupakan bagian dari sistem sosial, jadi dalam setiap lingkup masyarakat atau suatu daerah yang didiami penduduk masyarakat  pasti kita akan mendapatkan yang namanya pelapisan-pelapisan tersebut. Hal itu sudah sangat terang dan jelas apabila kita melihat realita sosial yang ada di sekitar kita sekarang.
Perihal diataslah yang mendasari alasan penulis/peneliti mencoba meneliti salah satu desa yang ada di Belitang Oku Timur , dikarenakan memiliki kondisi geografis yang sangat dekat dengan  Kota dan  mempunyai masyarakat yang sangat kompleks dan heterogen, dan sangat baik untuk memcoba meneliti “Stratifiksi atau Pelapisan Sosial”.

A. Rumusan Masalah
1. Bagaimana ukuran pelapisan masyarakat di Desa morodadi?
2. Bagaimana peranan pemilik kedudukan (status) di Desa morodadi belitang ?

B. Kajian Teoritis
1. Stratifikasi Sosial
R.K. Kelsall dan H.M. kelsall (1974), bahwa pada suatu masyarakat merupakan suatu
hal yang ditadai dengan adanya ketidaksamaan strtuktur yang nampak pada sejumlah pengaturan institusi sosial pada suatu masyarakat. Stratifikasi sosioal atau pelapisan sosial pada  dasarnya berbicara tentang penguasaan sumber-sumber sosial. Sumber sosial segala seuatu yang oleh masyarakat dipandang sebagai suatu yang berharga, tetapi terbatas dalam jumlah sehingga memperolehnya diperlukan usaha-usaha tertentu. Terjadinya stratifikasi sosial dikarenakan tidak adanya keseimbangan antara hak dan kewajiban sehingga rasa tanggung jawab sosial berkurang lalu dilanjutkan dengan adanya ketimpangan pemilikan nilai atau harga. Akibatnya, sesama anggota kelompok sosial menilai dan memilah-milah yang akhirnya tersirat dan diakui adanya perbedaan, pada akhirya mucullah strata. Bentuk pelapisan dalam masyarakat berbeda banyak sekali, tetapi pelapisan itu tetap ada.[2]
Strtifikasi sosial adalah sebuah konsep yang menunjukkan adanya perbedaan dan/atau
Pengelompokan suatu kelompok sosisal (komunitas) secara bertingkat. Misalnya dalam komunitas tersebut terdapat strata tinggi, strata sedang, strata rendah.[3]

2. Ukuran Stratifikasi sosial.
Diantara lapisan atas dengan yang terendah, terdapat lapisan yang jumlahnya relatif banyak. Biasanya lapisan atas tidak hanya memiliki satu macam saja dari apa yang dihargai oleh masyarakat. Akan tetapi, kedudukannya yang tinggi itu bersifat kumulatif. Artinya, mereka yang mempunyai uang banyak akan mudah sekali mendapatkan tanah, kekuasaan dan mungkin juga kehormatan. Ukuran atau kriteria yang bisa di pakai untuk menggolong-golongkan anggota-anggota masyarakat kedalam suatu lapisan yaitu ada empat ukuran yaitu:
a. Ukuran Kekayaan
Barang siapa yang memiliki kekayaan paling banyak termasuk dalam lapisan teratas. Kekayaan tersebut misalnya, dapat dilihat dalam bentuk rumah yang bersangkutan, mobil pribadinya, cara-caranya mempergunakan pakaian serta bahan pakaian yang dipakainya, kebiasaan untuk berbelanja barang-barang mahal dan seterusnya.

b. Ukuran Kekuasaan
Barang siapa yang memiliki kekuasaan atau yang mempunyai wewenang terbesar menepati lapisan atas. Pada ukuran ini biasanya mempunyai jabatan-jabatan tertentu dalam lingkungan masyarakat seperti, gubernur, bupati, wali kota, camat, lurah, kepala desa, kepala lingkungan dan imam desa.

c. Ukuran Kehormatan
Ukuran kehormatan tersebut mungkin terlepas dari ukuran-ukuran kekayaan dan kekuasaan. Orang yang paling di segani dia paling di hormati mendapat tempat teratas. Ukuran semacam ini, banyak di jumpai pada masyarakat tradisional, biasanya mereka adalah golongan tua atau mereka yang pernah berjasa.

d. Ukuran Ilmu Pengetahuan
Ilmu pengetahuan sebagai ukuran dipakai oleh masyarakat yang menghargai ilmu pengetahuan. Akan tetapi, ukuran tersebut kadang-kadang menyebabkan terjadinya akibat-akibat yang negative karena ternyata bahwa bukan mutu ilmu pengetahuan yang dijadikan ukuran melainkan gelar kesarjanaannya. Sudah tentu hal yang demikian memacu segala macam usaha untuk mendapatkan gelar, walau tidak halal.
Ukuran-ukuran Diatas Tidak Bersifat Mutlak Atau Liminatif Karena Pada Msyarakat Tertentu Menggunakan Ukuran-Ukuran Yang Lainnya. Akan Tetapi Ukuran Diatas Cukup Menentukan Sistem Lapisan Atau Stratifikasi Pada Masyarakat Pada Umumnya.
Secara luas, kriteria umum penentuan seseorang dalam stratifikasi sosial adalah sebagai berikut.[4]
a. Kekayaan dalam berbagai bentuk yang diketahui oleh masyarakat diukur dalam kuantitas atau dinyatakan secara kualitatif.
b. Daya guna fungsional perorangan dalam hal pekerjaan.
c. Keturunan yang menunjukkan reputasi keluarga, lamanya tinggal atau berdiam di suatu tempat, latar belakang rasial atau etnis, dan kebangsaan.
d. Agama yang menunjukkan tingkat kesalehan seseorang dalam menjalankan ajaran agamanya.
e. Ciri-ciri biologis, termasuk umur dan jenis kelamin.
Stratifikasi sosial di dalam masyarakat dapat terjadi dengan sendirinya dalam proses perkembangan masyarakat dan dapat pula secara sengaja ditentukan oleh masyarakat itu sendiri.
Staratifikasi sosoal yang terjadi sendiri adalah stratifikasi yang secara alamiah terjadi atau dimiliki oleh masyarakat dan mempunyai beberapa ukuran seperti, (1) Kepandaian seseorang atau kepemilikan ilmu pengetahuan, (2) Tingkat umur atau aspek senioritas, (3)Sifat keaslian, (4) Harta atau kekayaan, (5) Keturunan, (6) Adanya pertentangan dalam masyarakat.[5]

3. Sifat-Sifat Stratifikasi sosial
Sifat sistem pelapisan di masyarakat menurut soekanto (1990) dapat bersifat
tertutup dan terbuka. Hal ini dapat dijelaskan bahwa :
Pertama, sistem tertutup, dimana membatasi kemungkinan berpindahnya seorang dari suatu lapisan ke lapisan lain, baik berupa gerak ke atas maupun gerak ke bawah. Di dalam sistem demikian satu-satunya jalan menjadi anggota suatu lapisan dalam masyarakat adalah kelahiran. Mobilitas dengan jalan ini agaknya sangat terbatas bahkan mungkin tidak ada. Contoh masyarakat dengan sistem stratifikasi sosial tertutup ini adalah masyarakat berkasta, sebagian masyarakat feodal atau masyarakat yang dasar stratifikasinya tergantung pada perbedaan rasial.
Kedua, sistem terbuka yang mana masyarakat didalamnya memiliki kesempatan untuk berusaha dengan kecakapan sendiri untuk naik lapisan. Atau bagi mereka yang tidak beruntung untuk jatuh dari lapisan yang atas ke lapisan yang bawah, kemungkinan terjadinya mobilitas sosial sangat besar. Contoh, pada masyarakat demokratis.
Jadi suatu masyarakat dinamakan tertutup, mana kala setiap anggota masyarakat tetap pada status yang sama dengan orang tuannya. Sedangkan dinamakan terbuka, karena setiap anggota masyarakat menduduki status berbeda dengan orang tuannya, di mana bisa lebih tinggi atau lebih rendah.[6]
C. Metodologi
1. Pendekatan (Teori)
Dalam penelitian ini pendekatan yang dilakukan adalah melalui pendekatan kualitatif. Artinya data yang dikumpulkan bukan berupa angka-angka melainkan data tersebut berasal dari naskah wawancara, catatan lapangan, dokumen pribadi, catatan, memo, dan dokumen resmi lainnya. Sehingga yang menjadi tujuan dari penelitian kualitatif ini adalah ingin menggambarkan realita empirik dibalik fenomena secara mendalam, rinci dan tuntas. [7]

2. Sumber
Sumber data primer yaitu sumber data yang diterima dari tangan pertama,[8]
yaitu salah satu warga desa morodadi. Data ini diperoleh dan dikumpulkan penelitian langsung dari lapangan pada proses penelitian melalui wawancara, observasi dan catatan dilapangan.

3. Metode Analisis
a. Wawancara
wawancara merupakan teknik pengambilan informasi dengan cara mengajukan beberapa pertanyaan kepada narasumber yang berkaitan dengan objek penelitian dengan cara berhadapan secara fisik, pertanyaan yang digunakan adalah pertanyaan yang terbuka, artinya pertanyaan-pertanyaan yang dituliskan tidak di tentukan jawabannya sehingga narasumber terbuka luas untuk menjawab sesuai dengan pandangan dan pengetahuannya, kemudian saya mencatat hal-hal yang dapat memberikan informasi yang dapat saya tindak lanjuti dari hasil wawancara tersebut.
b. Observasi
Observasi adalah pengamatan langsung dan mencatat suatu fenomena yang di selidiki. Observasi ini menjadi salah satu teknik pengumpulan data apabila sesuai dengan tujuan penelitian  yang direncanakan dan dicatat secara sistematis. Observasi yang di gunakan yaitu yang pertama : Observasi partisipan, yaitu dengan ikut serta dalam kegiatan kegiatan yang di lakukan di dalam masyarakat atau objek yang di amati, dan yang ke dua: Observasi nonpartisipan, yaitu subjek berada di luar atau kita tidak ikut serta dalam kegiatan. kegiatan yang di lakukan oleh masyarakat, dengan itu kami bebas mengamati setiap pola tindakan masyarakat dalam pelaksanaan kegiatanya. Dengan metode observasi ini kami dapat memungkuinkan mencatat hal-hal  prilaku, pertumbuhan dan sebagainya.

D. Hasil

1. Bagaimana ukuran pelapisan sosial di Desa morodadi ?
Menurut Ismail G (Kepala Desa), Desa morodadi yang menjadi orang paling di hargai adalah orang yang memangku jabatan di desa, akan tetapi terkadang dilihat dari umur. Walaupun dia memangku jabatan di desa morodadi akan tetapi kalau sama masyarakat yang lebih tua lebih di hargai tidak melihat apa pekerjaannya, menurutnya sebagai Kepala Desa morodadi karena di desanya belum banyak yang berpendidikan. Jadi masalah ukuran pendidikan masih belum mampu menggeser senioritas atau umur.
Menurut Imam Furqon (Masyarakat), Pada Umumnya Masyarakat Desa morodadi masih melihat ukuran kekayaan sebagai pembeda pada masyarakat lainnya, beliau berpendapat bahwa yang memiliki kekayaan materil sangat gampang menduduki atau memangku suatu jabatan di desa. Seperti Kepala Desa, Kepala Dusun. Menurut narasumber juga bahwa ukuran senioritas atau umur  masih menjadi panutan atau masih sangat dihargai dan dihormati meski tidak memiliki jabatan di Desa morodadi  ini.
Menurut jarkasih (Imam Desa/dusun), beliau mengutarakan di morodadi tidak melihat hal-hal materil untuk melihat penghargaan kepada seseorang, yang paling di hargai atau di hormati adalah orang-orang tua, dan beliau berpandapat juga bahwa di Desa morodadi saling mengharai satu sama lain.
2. Apa peran anda sebagai pemilik kedudukan (status)?
Menurut Ismail G (Kepala Desa), beliau mengatakan selain jadi Kepala Desa dan tugasnya sebagai Kepala Desa ada peranan lain. Secara pribadi dia mempunyai peranan sebagai kepala rumah tangga, dan juga peranan pada masyarkat sebagai Kades yaitu mengayomi masyarakat dan peran moral kepada masyarakat.
Menurut Imam Furqon (Masyarakt), sebagai seseorang yang di tokohkan di desa morodadi mempunyai peranan besar bagi masyarakat. Karena apabila terjadi sesuatu pada masyarakat tokoh masyarakatlah yang menjadi tempat untuk mencari solusi. Dan juga sebagai tokoh masyarakat, narasumber selalu menjaga perilaku karena selalu menjadi sosok bagi masyarakat di Desa morodadi.
Menurut, jarkasih (Imam Desa/dusun), Imam Desa, mempunyai peranan selain iman dalam masyarakat yaitu menjadi pembaca doa apa bila ada pesta peran moral untuk menjaga moral yang baik di masyarakat.
E. Kesimpulan
Pada masyarakat di Desa morodadi secara tidak langsung perbuatan atau perilaku masyarakatnya membeda-bedakan atau memberi lapisan-lapisan pada masyarakat. Masyarakat Desa morodadi  melihat lapisan tersebut dari ukuran kekayaan, kekuasaan, dan kehormatan. Tetapi terkadang dilihat dari umur. Walaupun dia memangku jabatan di desa akan tetapi kalau sama masyarakat yang lebih tua lebih di hargai tidak melihat apa pekerjaannya.
Masyarakat yang memegang status mempunyai peranan tertentu pada masyarakat, yaitu peranan moral, bagaiamana pemegang status harus menjaga moral baik yang ada pada masyarakat di Desa Morodadi, dan juga menjadi sosok yang akan di lihat dari masyarakat, sehingga pemegang status harus berperilaku baik di kemasyarakatannya.






Daftar Pustaka

Damsar, Pengantar Teori Sosiologi (Jakarta: PrenadaMedia Group. 2015)
LJ moleong, metodologi penelitian, (bandung: PT. Remaja Rosda Karya, 1999)
Rahim.Abdul, Wahyuni,Pengantar Sosiologi,(Samata-Gowa: Gunadarma Ilmu.2013)
Suriyani, Sosiologi Pedesaan (Makassar: CaraBaca. 2016)
Saipul Annur, metodologi penelitian pendidikan, (palembang : grafika telindo press, 2008)
Syahrial Syarbani, dkk., Sosiologi dan politik, (Jakarta: Ghalia Indonesia, 2002)















[1] Abdul Rahim, Wahyuni,Pengantar Sosiologi, (Samata-Gowa: Gunadarma Ilmu.2013),Hlm. 81
[2] Syahrial Syarbani, dkk, Sosiologi dan politik, (Jakarta: Ghalia Indonesia, 2002), Hlm. 32
[3] Abdullah Idi, Sosiologi Pendidikan Individu, Masyarakat, dan Pendidikan, (jakarta: Rajawali pers, 2016), Hlm. 178
[4] Damsar, Pengantar Teori Sosiologi (Jakarta: PrenadaMedia Group. 2015) Hlm 140-141
[5] ibid,  Hlm 143-144
[6] Saipul Annur, metodologi penelitian pendidikan, (palembang : grafika telindo press, 2008), Hlm. 181
[7] LJ moleong, metodologi penelitian, (bandung: PT. Remaja Rosda Karya, 1999)
[8] Saipul Annur, Op Cit,Hlm.106



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

SEKOLAH SEBAGAI ORGANISASI LAPORAN PENELITIAN “ SEKOLAH SEBAGAI ORGANISASI” Oleh : YOLI AMRIL SYAFIRA (1730203181) PENDAHULUAN...