NAMA : MEGA TRI MAHARANI
NIM : 1710203182
PENDAHULUAN
Proses sosialisasi merupakan suatu proses dimana individu dapat belajar tentang aturan aturan atau norma – norma dan nilai- nilai yang ada di lingkunganya. Lingkungan yang di maksud adalah keluarga, sekolah dan masyarakat ( kelempok teman sebaya) ataupun dimedia massa. Seorang individu dalam kehiduan masyarakat akan selalu belajar kebudayaan melalui proses internalisasi, sosoialisasi dan kulturasi secara bersama. Sosialisasi ini akan langsung sepanjang hidup, yakni sejak lahir hingga mati. Begitu penting nya tentang sosialisasi anak didik dalam lingkungan keluarga, sekolah, masyarakat dan teman sebaya. Agar setiap individu dapat bersosialisasi dengan baik pada lingkungannya.
SOSIALISASI ANAK DIDIK
A. Rumusan Masalah
1. Apa yang di maksud dengan urgensi sosialisasi ?
2. Apa saja bagian- bagian dari sosialisasi ?
B. Kajian Teoritis
Kimball Young dalam Ary H.Gunawan (2000) mengatakan bahwa sosialisasi merupakan hubungan interaktif dimana seorang dapat mempelajari kebutuhan sosial dan kultural yang menjadikan sebagai anggota masyarakat. Hal ini tampak bahwa sosialisasi merupakan suatu proses belajar kepada seseorang agar dapat mengetahui segela sesuatu yang berhubungan dengan masyarakat agar nanti dapat hidup di masyarakat dengan layak. Karena itu, sosialisasi merupakan proses belajar bagi seseorang.
Thomas ford hoult (1991) mengatakan bahwa sosialisasi merupakan proses belajar individu utuk bertingkah laku sesuai dengan standar dalam kebudayaan suatu masyarakat.
Sosialisasi terjadi melalui kondisi lingkungan yang mnyebabkan individu mempelajari pola kebudayaan fundamental.[1] Sosialisasi indentik dengan makna penyesuian diri pada (adjusment). Konsep penyesuain diri berasal dari biologi, dan merupkan konsep dasar dalam teori evolusi darwin. Dalam biologi istilah yang digunakan adalah adaptasi. Proses penyesuain itu merupakan reaksi terhadap sejumlah tuntutan terhadap dirinya. Tuntutan tersebut dapat diklasifiksikan menjadi tuntutan eksternal dan internal. Konflik antara tuntutan internal dan eksternal misalnya kinflik dorongan antara dorongan seksual disatu pihak dengan tuntutan masyarakat agar dorongan itu disalurkan dalam bentuk yang dapat diterima oleh masyarakat misalnya melalui perkawinan yang sah menurut norma dan agama.
Sosialisasi anak didik, dalam proses sosialisasi,[2] seorang individu, anak didik belajar tentang perilaku, kebiasaan, dan pol kebudayaan lain. Individu juga belajar tentang keterampilan sosial, (socia; skill), seperti bahasa, bergaul, berpakaian, dan cara makan. Mengarahkan juga pada masalah proses sosialisasi pada usia anak. Hal ini cukup beralasan kaena anak merupakan bagian dari masyarakat dan sebagai objek penting dalam proses sosialisasi. Anak sebagai objek penting dalam proses pembelajaran mempunyai kedudukan penting dalam proses. Dilihat dari segi umur atau usia anakdapat dipahami dari interval usia : usia bayi 1-1 tahun, usia anak 1-2 tahun, usia remaja 12-15 tahun, usia pemuda 15-30 tahun, dan usia dewasa 30 keatas. Dilihat dari interval usia di atas, yang dimaksud anak adalah individu yang berusia 1-12 tahun. Bila dikaitkan dengan usia sekolah, anak yang dimaksud adalah anak- anak dan anak sekolah dasar. Terlepas dari aspek yang lebih penting adalah bagaimana proses sosialisasi pada anak itu sendiri. Karena sosialisasi manusia tetap berlangsung terus selama manusiamasih hidup. Sebagai fungsi sosial selain fungsi biologis, wkonomi, dan agama, keluarga memiliki peran sangat penting dalam proses sosialisasi. Orang tua hendaknya memberi teladan yang terbaik bagi nak-anak tentang banyak hal dalam konteks proses sosialisasi.
Dalam sosialisasi anak, setidaknya terdapat beberapa faktor yang mempengaruhinya pertama, kereladanan orang tua.[3] Seorang anak akan cenderung bersikap sopan, santun, patuh, kerja keras, disiplin, religius, dan lain sebagainya. Kedua, lingkungan pergaulan. Pergaulan anak berpengaruh terhadap proses pembentukan kepribadian anak. Daniel Linden Duke (1990) mengungkapkan bahwa para ahli sosiologi telah memberikan catatan yang panjang anak didik yang berasal dari latar belakang kelas kelas pekerja (working class background).
Dapat dijelaskan disini bahwa proses sosialisasi anak didik dapat menentukan perkembangan kepribadian anak didik dengan wajar.[4] Seorang pendidik bertangung jawab terhadap memahami beragam latar belakang sosial anak didik yang sedapat mungkin menghindari, baik sengaja maupun tidak sengaja terhadap perilaku diskriminasi atau mengabaikan potensi anak didik yang berlatar belakang sosial.
Dan sosialaisasi anak, peran moral, dan budaya keluarga tutur menentukan dalam proses sosialisasi. Salah satu teori yang paing destrktif, bahkan, hingga kini bahwa cultural capital dari keluarga begitu kondusif terhadap suksesnya pendidikan dalah agaknya sebagai kekuasaan.[5]
C. METODOLOGI
1. Pendekatan (teori)
Pendekatan penelitian menggunakan pendekatan kualitatif artinya penelitian yang dilakukan dengan menjelskan, menerangkan dan menguraikan pokok permasalahan dalam penelitian ini kemudian ditarik kesimpulan secara deduktif.
2. Sumber Data primer
Sumber data primer yaitu data yang diterima dari tangan pertma. Yaitu ketua pengelola koperasi sokolah SMK NEGERI 5 PALEMBANG dan anggota koperasi sekolah. Data ini diperoleh dan dikumpulkan peneliti langsung dari lapangan pada proses penelitian melalui wawancara, observasi dan catatan dilapangan.
KESIMPULAN
Individu adalah makhluk sosial, begitu pun dengan anak didik bagian dari individu. Anak didik dalam interkasi individu selalu berinteraksi baik di dalam kelurga, sekolah, dn masyarakat sedangkan sosialisasi adslah proses membing individu ke dalam dunia sosial yang berlamgsung dalam interkasi individu dengan lingkungannya. Kimball Young dalam Ary H.Gunawan (2000) mengatakan bahwa sosialisasi merupakan hubungan interaktif dimana seorang dapat mempelajari kebutuhan sosial dan kultural yang menjadikan sebagai anggota masyarakat. Hal ini tampak bahwa sosialisasi merupakan suatu proses belajar kepada seseorang agar dapat mengetahui segela sesuatu yang berhubungan dengan masyarakat agar nanti dapat hidup di masyarakat dengan layak. Karena itu, sosialisasi merupakan proses belajar bagi seseorang.
Thomas ford hoult (1991) mengatakan bahwa sosialisasi merupakan proses belajar individu utuk bertingkah laku sesuai dengan standar dalam kebudayaan suatu masyarakat.
Sosialisasi terjadi melalui kondisi lingkungan yang mnyebabkan individu mempelajari pola kebudayaan fundamental. Sosialisasi indentik dengan makna penyesuian diri pada (adjusment). Konsep penyesuain diri berasal dari biologi, dan merupkan konsep dasar dalam teori evolusi darwin. Dalam biologi istilah yang digunakan adalah adaptasi. Proses penyesuain itu merupakan reaksi terhadap sejumlah tuntutan terhadap dirinya. Tuntutan tersebut dapat diklasifiksikan menjadi tuntutan eksternal dan internal. Konflik antara tuntutan internal dan eksternal misalnya kinflik dorongan antara dorongan seksual disatu pihak dengan tuntutan masyarakat agar dorongan itu disalurkan dalam bentuk yang dapat diterima oleh masyarakat misalnya melalui perkawinan yang sah menurut norma dan agama.
Sosialisasi anak didik, dalam proses sosialisasi, seorang individu, anak didik belajar tentang perilaku, kebiasaan, dan pol kebudayaan lain. Individu juga belajar tentang keterampilan sosial, (socia; skill), seperti bahasa, bergaul, berpakaian, dan cara makan.
DAFTAR PUSTAKA
Ary H. Gunawan, Sosiologi pendidikan, (jakarta :Rineka Cipta, 2005)
Hendi Suhendi dan Ramdani Wahyu, pengantar studi sosiologi keluarga (Bandung :pustaka setia,2001)
Zakiya Drajat, Ilmu Pendidikan Islam (jakrta : Dapertemen Agama, 1992)
Daniel Liden Dake, Teaching : introduction, mac graw – hill publishing co london, 1990.
Alan R. Barca & Paatrick O’ flaherty (eds), family, Education and Society : The Austalia Perspective, Academy press, Autraslia, 1995.
[1] Ary H. Gunawan, Sosiologi pendidikan, (jakarta :Rineka Cipta, 2005) hlm 33
[2] Hendi Suhendi dan Ramdani Wahyu, pengantar studi sosiologi keluarga (Bandung :pustaka setia,2001) hlm 105
[3 Zakiya Drajat, Ilmu Pendidikan Islam (jakrta : Dapertemen Agama, 1992) hlm 127
[4] Daniel Liden Dake, Teaching : introduction, mac graw – hill publishing co london, 1990. Hlm 55
[5] Alan R. Barca & Paatrick O’ flaherty (eds), family, Education and Society : The Austalia Perspective, Academy press, Autraslia, 1995. Hlm 11
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
SEKOLAH SEBAGAI ORGANISASI LAPORAN PENELITIAN “ SEKOLAH SEBAGAI ORGANISASI” Oleh : YOLI AMRIL SYAFIRA (1730203181) PENDAHULUAN...
-
SEKOLAH DAN MASYARAKAT LAPORAN OBSERVASI HUBUNGAN SEKOLAH DAN MASYARAKAT SD NEGERI 22 TALANG KELAPA Via Anjela Sari (1730203...
-
LAPORAN OBSERVASI TENTANG LINGKUNGAN MASYARAKAT DISUSUN OLEH : UMIYATI (1730203174) BAB I PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Ma...
-
Laporan Observasi Tentang Sekolah Sebagai Organisasi Oleh : Seli Arindah (1730203163) BAB 1 PEMBAHASAN 1. Alasan tertarik m...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar