Nim :
1730203149
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Pendidikan merupakan
upaya untuk membentuk manusia yang berilmu, bermoral dan berkarakter.Sekolah
sebagai lembaga sosial yang diselenggarakan dan dimiliki oleh masyarakat, harus
memenuhi kebutuhan masyarakatnya. Sekolah mempunyai kewajiban kewajiban secara
dan moral untuk selalu memberikan penerangan kepada masyarakat dengan
tujuan-tujuan, program-program, kebutuhan dan keadaannya, dan sebaliknya
sekolah harus mengetahui dengan jelas apa kebutuhan, harapan dan tuntunan
masyarakat. Makin majunya pengertian akan pentingnya pendidikan anak-anaknya,
maka merupakan kebutuhan vital bagi sekolah dan masyarakat untuk menjalin
kerjasama.
Sekolah merupakan
lembaga sosial yang tidak dapat dipisahkan dari masyarakat lingkungannya,
sebaliknya masyarakat pun tidak dapat dipisahkan dari sekolah. Dikatakan
demikian , karena keduanya memiliki kepentingan, sekolah merupakan lembaga
formal yang bertujuan untuk mendidik, melatih dan mebimbing generasi muda bagi
peranannya di masa depan, sementara masyarakat merupakan pengguna jasa
pendidikan itu.
Apapun alasannya yang
membuat partisipasi masyarakat dalam pendidikan disekolah belum banyak, perlu
diteliti dikaji oleh sekolah dijadikan bahan untuk mengembangkan hubungan
sekolah dengan masyarakat. Berdasarkan uraian pada latar belakang yang ditelah
dikemukakan, maka saya tertarik untuk melakukan penelitian tentang “PENDIDIKAN
DAN MASYARAKAT”.
B. RUMUSAN MASALAH
1.
Apakah hubungan antara pendidikan dan
masyarakat di SMP Negeri 1 tanjung lubuk?
2.
Bagaimanakah prinsip hubungan pendidikan
dan masyarakat di SMP Negeri 1 tanjung lubuk?
C. TUJUAN
1.
Untuk mengetahui hubungan antara pendidikan
dan masyarakat di SMP Negeri 1 tanjung lubuk
2.
Untuk mengetahui prinsip hubungan
pendidikan dan masyarakat di SMP Negeri 1tanjung lubuk
D. KAJIAN TEORITIS
1. Pendidikan dan sumber daya manusia
Menurut H.A.R Tilaar, “
pendidikan merupakan suatu proses yang berkesinambungan, proses tersebut
berimplikasikan bahwa didalam peserta didik terdapat kemampuan-kemampuan yang
imanen sebagai makhluk yang hidup di dalam suatu masyarakat[1].
Antara pendidikan dan
perkembangan masyarakat tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Kemajuan suatu
masyarakat dan suatu bangsa angat ditentukan pembangunan sektor pendidikan
dalam penyiapan Sumber Daya Manusia (SDM) yang sesuai dengan perkembangan zaman
Sumber Daya Manusia bangsa indonesia ke depan tidak terlepas dari fungsi pendidikan
nasional. Dalam pasal 3 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003
tentang sistem pendidikan nasional dikatakan :
Pendidikan nasional
berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa
yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk
berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan
bertaqwa kepada tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, berilmu, cakap, kreatif,
mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Tujuan pendidikan
menurut A. Tresna Sastrawijaya adalah mencakup kesiapan jabatan, keterampilan
mmecahkan masalah, penggunaan waktu senggang secara membangun, dan sebagainya
karena tiap siswa/anak mempunyai harapan yang berbeda.
S. Nasution mengakatan
bahwa pada dasarnya setiap sekolah mendidik anak agar menjadi anggota
masyarakat yang berguna. Namun pendidikan di sekolah sering kurang relevan dengan
kehidupan masyarakat. Kurikulum kebanyakan berpusat pada bidang studi yang
tersusun secara logis dan sistematis yang tidak nyata hubungannya dengan
kehidupan sehari-hari anak didik.
Ferdinand Tonnies dalam
J. Dwi Narwoko Dan Bagong Suyanto mengungkapkan masyarakat terbagi atas dua
tipe yaitu : pertama hubungan primer merupakan bentuk kehidupan bersama. Antara
anggotanya mempunyai hubungan batin murni yang sifatnya alamiah dan kekal.
Dasar hubungannya adalah rasa cinta dan persatuan batin yang nyata dan organis.
Kedua hubungan sekunder merupakan bentuk kehidupan bersama yang anggotanya mempunyai
hubungan sifat pamrih dan dalam jangka waktu yang pendek, bersifat mekanis.
Disamping itu,
masyarakat mempunyai perbedaan lain, seperti masyarakat pada kota industri
berbeda dengan daerah pertambangan atau kampung nelayan, kota universitas
berbeda dengan kampung pertanian. Pada setiap masyarakat mempunyai suatu sistem
nilai sendiri yang coraknya berbeda dengan masyarakat lain. Dalam sistem nilai itu
senantiasa terjalin nilai-nilai kebudayaan nasional dengan nilai-nilai lokal
yang unik. Nilai-nilai itu terdapat jenjang prioritas, ada milai yang dianggap
lebih tinggi daripada yang lain, dan dapat berbeda menurut pendirian
individual. Kedua tipe masyarakat diatas mempunyai persamaan , yakni mereka
semua adalah anggota suatu bangsa yang mempunyai kebudayaan nasional yang sama
baik dari segi falsafah, bahasa, sejarah, dan budaya. Meskipun ada beberapa
daerah mempunyai ciri khas. Tiap sekolah, seorang guru harus mengenal
lingkungan sosial tempat mereka berada agar dapat memahami latar belakang
kultural anak didik.
Dikatakan bahwa
hubungan pendidikan disekolah dan masyarakat masih sangat minim dan rendah
karena pendidikan disekolah dipandang terutama sebagai persiapan untuk kelanjutan
pelajaran. Kurikulum sekolah bersifat akademis dan dapat dijalankan berdasarkan
buku pelajaran tanpa menggunakan sumber-sumber masyarakat[2].
2. Sekolah dan masyarakat
Sekolah dan masyarakat
merupakan satu kesatuan yang tak dapat dipisahkan dimana sekolah sebagai pusat
pendidikan formal dan merupakan suatu lembaga sosial yang lahir dan berkembang
dari pemikiran dan efisiensi dalam pemberian pendidikan kepada warga
masyarakat. Sekolah juga merupakan fartner dalam memberikan pendidikan kepada
masyarakat. Dengan demikian pendidikan dapat diartikan sebagai sosialisasi,
seperti bayi yang harus menyesuaikan diri di saat minum asi, kemudian anak
menyesuaikan diri dengan program-program belajar disekolah, menyesuaikan diri
dengan norma serta nilai-nilai dalam masyarakat[3].
Pendidikan memegang
peranan penting dalam membentuk dan menciptakan masyarakat sesuai dengan yang
diharapkan. Dengan adanya pendidikan, apa yang dicita-citakan masyarakat dapat
diwujudkan melalui anak didik sebagai generasi masa depan..
Dikatakan E. Mulyasa
bahwa salah satu faktor yang menyebabkan kesenjangan antara masyarakat sekolah
dan masyarakat adalah minimnya informasi yang bertalian dengan pendidikan
disekolah dan kurang kuatnya hubungan antara masyarakat dengan pemerintah.
Untuk memperoleh dukungan yang lebih luas dari masyarakat perlu dilakukan upaya
sosialisasi yang bertujuan memperkenalkan beragam hal tentang implementasi
kurikulum dan kondisi objektifnya.
Ditinjau
dari hubungan sekolah dengan masyarakat, disaming sekolah merupakan partner
masyarakat, sekolah juga merupakan produsen yang melayani pesanan pendidikan
dari masyarakat sekelilingnya. Sebagai produsen kebutuhan pendidikan
masyarakat, sekolah dan masyarakat memiliki ikatan hubungan rasional diantara
keduanya yaitu adanya kesesuaian antara fungsi pendidikan yang diperankan oleh
sekolah dengan apa yang dibutuhkan oleh masyarakat ( orang tua, pemerintah,
lembaga-lembaga sosial, dan sebagainya ) dengan semua tujuan pendidikan.
Pendidikan dapat dimaknai sebagai proses mengajar dan belajar pola-pola
kelakuan manusia menurut apa yang diharapkan oleh masyarakat[4].
Pendidikan
memegang peranan penting dalam membentuk dan menciptakan masyarakat sesuai
dengan yang diharapkan. Dengan adanya pendidikan, apa yang dicita-citakan
masyarakat dapat diwujudkan melalui anak didik sebagai generasi masa depan.
Salah satu peranan pendidikan dalam masyarakat adalah dalam fungsi sosial,
yakni sekolah merupakan salah satu sarana pendidikan yang diharapkan
masyarakat. Sekolah dalam menanamkan nilai-nilai dan totalitas terhadap tatanan
tradisional masyarakat berfungsi sebagai lembaga pelayanan sekolah untuk melakukan
mekanisme kontrol sosial (social kontrol).
Sekolah
mengajarkan bagaimana menjadi seorang yang akan memangku jabatan tertentu,
patuh terhadap pimpinan, rasa tanggung jawab akan tugas, disiplin mengerjakan
tugas sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan. Sekolah juga mendidik agar
seorang dapat menghargai harkat martabat manusia, memperlakukan manusia sebagai
manusia, dengan memperhatikan segala bakat yang dimilikinya demi keberhasilan
dalam tugasnya[5].
E. METODOLOGI
1. Jenis penelitian
Jenis penelitian yang
saya gunakan adalah jenis metodologi kualitatif adalah suatu prosedur
penelitian yang menghasilkan data deskristif berupa kata-kata tertulis atau
lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati. Penelitian kualitatif
ini penelitian yang dimaksudkan untuk memahami fenomena tentang apa yang
dialami oleh subjek penelitian.
2. Tempat dan waktu
Penelitian yang saya
lakukan pada lembaga pendidikan yaitu, tempatnya di SMP Negeri 1 tanjung lubuk.
3. Data dan sumber data
Jenis data dalam
penelitian ini meliputi data primer dan data sekunder, namun penelitian ini
menitikberatkan pada data primer yaitu data yang diperoleh langsung dari
lapangan yakni tempat penelitian ini dilakukan. Sedangkan data sekunder
bersifat penunjang yang diperoleh, literatur, serta dokumen-dokumen yang
berhubungan dengan fokus penelitian.
4. Teknik pengumpulan data
Mengingat, penelitian
ini memusatkan perhatian pada data primer, maka data diperoleh dari lapangan
atau obyek penelitian yang ditempuh melalui teknik:
a.
Observasi, yakni kami melakukan
pengamatan langsung terhadap gejala-gejala yang diteliti secara langsung.
b.
Wawancara, yakni bertujuan memperoleh
data dan informasi yang benar secara lisan dari sumber yang telah ditetapkan.
Wawancara yang dimaksud ialah wawancara terpimpin yang dilakukan langsung pada
obyek yang diteliti.
PEMBAHASAN
F. HASIL WAWANCARA
Berdasarkan hasil
wawancara yang kami lakukan hubungan sekolah dan masyarakat di SMP Negeri 1
Tanjung Lubuk dapat dikatak cukup baik, hal ini terlihat adanya beberapa
program yang dibentuk untuk menjalin hubungan ini. Tapi meskipun begitu masih
ada sedikit kendala dalam hubungan yang terjalin antara sekolah dengan
masyarakat. Hal ini disebabkan adanya anggapan bahwa peningkatan mutu sekolah dan
peningkatan proses pembelajaran cukup dilakukan oleh pihak sekolah atau pihak
pemerintah secara sepihak. Sedangkan pihak masyarakat dan orang tua murid cukup
dimintakan bantuannyadalam bantuk keuangan saja, atau seolah-olah sekolah yang
bertanggung jawab dalam peningkatan mutu. Sedangkan orang tua (masyarakat)
tidak perlu terlibat dalam upaya peningkatan mutu di sekolah. Keterlibatan
orang tua/masyarakat sering diinterprestasikan atau dipersepsi sebagai bentuk
hubungan yang terlalu jauh memasuki kawasan otonomi sekolah. Keadaan ini juga
turut berpengaruh terhadap terciptanya hubungan yang akrab antar sekolah dengan
pihak oarng tua/masyarakat maupun pihak sekolah. Hal ini akan menjadi kartu
kendali bagi sekolah untuk bersikap, berprilaku dan bertindak diluar aturan
sekolah yang ada. Kendali/kontrol yang dilakukan bersama antara sekolah dan
masyarakat secara terpadu akan akan memeberikan ruang sempit bagi siswa, maupun
warga sekolah lainnya yang akan bertindak atau tidak sesuai dengan norma dan
nilai yang berlaku dilingkungan sekolah dan lingkungan masyarakat sehingga akan
tercipta suatu kondisi yang harmonis di lingkungan-lingkungan tersebut.
KESIMPULAN
Dapat disimpulkan bahwapendidikan
merupakan suatu proses yang berkesinambungan, proses tersebut berimplikasikan
bahwa didalam peserta didik terdapat kemampuan-kemampuan yang imanen sebagai
makhluk yang hidup di dalam suatu masyarakat. Pendidikan nasional berfungsi
mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang
bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa.
Pendidikan memegang
peranan penting dalam membentuk dan menciptakan masyarakat sesuai dengan yang
diharapkan. Dengan adanya pendidikan, apa yang dicita-citakan masyarakat dapat
diwujudkan melalui anak didik sebagai generasi masa depan.
Pendidikan memegang
peranan penting dalam membentuk dan menciptakan masyarakat sesuai dengan yang
diharapkan. Dengan adanya pendidikan, apa yang dicita-citakan masyarakat dapat
diwujudkan melalui anak didik sebagai generasi masa depan.
DAFTAR
PUSTAKA
Abdullah Prof. Dr. H. Idi, M. Ed. 2011. Sosiologi Pendidikan, Jakarta : PT . Raja Grafindo Persada.
Abu Ahmadi, Sosiologi Pendidikan,1999
Jakarta : PT. Cipta .
Gunawan Ary H. 2000. Sosiologi Pendidikan Jakarta : Rineka
Cipta.
J. Dwi. Narwoko Dan Bagong Suyanto,2007, Sosiologi Teks Pengantar Dan Terapan, Jakarta : Kencana Prenada.
Tilaar H.A.R. 1999. Pendidikan, Kebudayaan Dan Masyaraka, Bandung : PT. Remaja
Rosdakarya.
[1]H.A.R Tilaar, Pendidikan, Kebudayaan Dan Masyarakat ,
( Bandung : Pt Remaja Rosdakarya, 1999), Hlm. 28
[2]
Prof.Dr.H.Abdullah Idi,M.Ed. Sosiologi
Pendidikan, ( Jakarta : PT . Raja Grafindo Persada, 2011 ), hlm. 60-63
[3] Ary H. Gunawan,
Sosiologi Pendidikan (Jakarta :
Rineka Cipta, 2000), Hlm. 54
[4]Abu Ahmadi, Sosiologi Pendidikan, ( Jakarta : Pt. Rineka
Cipta 1999 ), Hlm 182
[5] J. Dwi. Narwoko
Dan Bagong Suyanto, Sosiologi Teks
Pengantar Dan Terapan, (Jakarta :
Kencana Prenada, 2007 ), Hlm 77
Tidak ada komentar:
Posting Komentar