Kamis, 21 Juni 2018

laporan penelitian pendidikan dan masyarakat


PENDIDIKAN DAN MASYARAKAT
              LAPORAN PENELITIAN
             “PENDIDIKAN DAN MASYARAKAT”
       Oleh : Syirli Izani (1730203170)
1.      Pendahuluan
Pendidikan menjadi sarana utama yang yang perlu dikelola secara sistematis dan konsisten berdasarkan berbagai pandangan teori dan praktik yang berkembang dalam kehidupan.Semakin tinggi cita-cita manusia semakin meningkat mutu pendidikan sebagai sarana mencapai cita-citanya.Akan tetapi di balik itu, semakin tinggi cita-cita yang hendak diraih, maka semakin kompleks jiwa manusia manusia itu, karena di doronng oleh tuntutan hidup yang meingkat.
Definisi pendidikan dikemukakan oleh para ahli dalam rumusan yang berbeda-beda menurut sudut pandang masing-masing. Dalam kamus besar Bahasa Indonesia disebutkan bahwa pendidikan adalah proses perubahan sikap dan tata laku seorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan.
Pada setiap masyarakat mempunyai suatu sistem nilai sendiri yang coraknya berbeda dengan masyarakat lain. Dalam sistem ini nilai itu senantiasa terjalin nilai-nilai kebudayaan nasional dengan nilai-nilai yang lokal yang unik.Nilai-nilai itu terdapat jenjang prioritas, nilai yang dianggap lebih tinggi dari pada yang lain, dan dapat berbeda menurut pendirian individual. Masyarakat kota yang mempunyai universitas dan penduduk yang intelektual memiliki sifat yang lebih terbuka bagi modernisasi dan pendirian atau kelakuan yang baru , lain dari yang lain, seperti pola pikiran,moral,pakaian, pergaulan. Masyarakat desa memiliki tradisi yang kuat dan lebih taat kepada agama, sikap pikiran orangnya lebih homogen.

A.    Rumusan Masalah

a.       Bagaimana peran pendidik dalam masyarakat?
b.      Bagaimana perubahan sosial dan pendidikan?

B.     Kajian Teoritis

v  Pendidikan dan Sumber Daya Manusia

Dalam sejarah perkembangan peradaban manusia,bukanlah taken for granted, tapi jauh sebelumnya telah mengalami suatu proses yang panjang yakni melalui “belajar”, “pendidikan”, dan “pengalaman” tersendiri berdasarkan zamannya. Mereka mungkin tidak sekolah secara “formal” di sekolah, tetapi mereka belajar dari pengalaman. Proses belajar dan pendidikan yang di alami mereka dalam zaman yang berbeda tersebut telah menjadikan manusia mampu memenuhi kebutuhan, menjalani kehidupan hingga memasuki zaman peradaban zaman seperti sekarang ini.
Antara pendidikan dan perkembangan masyarakat tidak dapat di pisahkan satu sama lain. Kemajuan suatu masyarakat dan suatu bangsa sangat ditentukan pembangunan sector pendidikan dalam penyiapan sumber daya manusia (SDM) yang sesuai dengan perkembangan zaman Sumber Daya Manusia bangsa Indonesia ke depan tidak terlepas dari fungsi pendidikan nasional. Dalam pasal 3 Undang-undang Republik Indonesia No 20 Tahun 2003 tentang sistem Pendidikan Nasional dikatakan:
Pendidikan nasional berfungdi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggunng jawab.
Program pendidikan didasrkan kepada tujuan umum pengajaran yang diturunkan dari tiga sumber yaitu: masyarakat, siswa, dan bidang studi. Yang diturunkan dari masyarakat mencakup konsep luas seperti membentuk manusia, menjadikan manusia pembangunan, manusia berkepribadian, manusia yang bertanggung jawab, dan sebagainya. Tujuan umum ini menyangkut pertimbangan filsafat dan etika yang diturunkan dari harapan masyarakat, seperti apa yang tercantum dalam falsafah bangsa, tujuan pendidikan nasional, sifat lembaga pendidikan, nlai-nilai keagamaan,ideology, dan sebaginya.[1]
Dalam pendekatan filsafat pendidikan Barat dikenal tiga Aliran utama yang membahas hubungan antara manusia dan pendidikan, yakni nativisme, empirisme, dan convergensi. Aliran pertama menyatakan bahwa manusia alam natur (potensi) bawaan manusia yang dominan dalam pendidikan. Aliran ini diplopori oleh Jean Jaques Rouseau. Beda dengan empirisme yang di plopori oleh John Locke, ia berpendapat bahwa pengalaman yang di lingkungan yang dominan. Convergensi sebagai aliran penengah ini dimunculkan leh William Stern. Menurutnya, perpaduan antara faktor bawaan dan faktor lingkungan yang menentukan perkembangan seseorang.[2]
Pendidikan merupakan masalah hidup dan kehidupan manusia. Keduanya meupakan proses yang satu dan tidak dapat dipisahkan. Melalui pendidikan manusia dapat belajar menghadap tantangan hidup begitu pentingnya arti pendidikan bagi kelangsungan hidup manusia. Pendidikan merupakan persoalan yang sangat penting bagi kelangsungan hidup umat manusia. Sejak manusia menghendaki kemajuan dalam kehidupan, sejak itu pula muncul gagasan untuk melakukan pengalihan, pelestarian, dan pengembangan kebudayaanmelalui pendidikan. Pendidikan senantiasa menjadi perhatian utama dalam rangka memajukan kehidupan generasi demi generasi sejalan dengan tuntutan kemajuan masyarakatnya, dan sebagai tumpuan an harapan untuk mengembangkan individu dan masyarakat.
Hasan Langgulung (1988, hlm.3-4) mencatat tiga alasan mengapa manusia memerlukan pendidikan: pertama, dalam tatanan kehidupan masyarakat ada upaya pewarisan nilai kebudayaan antara generasi tua kepada generasi muda dengan tujuan agar nilai hidup masyarakat tetap berlanjut dan terpelihara. Kedua, dalam kehidupannya sebagai individu, manusia memiliki kecenderungan untuk dapat mengembangkan potensi-potensi yang ada dalam dirinya seoptimal mungkin. Ketiga, konvergensi dari dua tuntutann di atas diaplikasikan melalui pendidikan.[3]
v  Sekolah dan Masyarakat
Maksud hubungan sekolah dengan masyarakat, dikatakan Sutisna dalam mulyasa (2009) yakni untuk mengembangkan pemahaman tentang maksud-maksud dan saran-saran dari sekolah; untuk menilai program; untuk mempersatukan orang tua murid dan guru dalam memenuhi kebutuhan anak didik; untuk mengembangkan kesadaran tentang pentingnya pendidikan sekolah dalam era pembangunan; untuk membangun dan memelihara kepercayaan masyarakat terhadap sekolah; untuk memberitahu masyarakat tentang pekerjaan sekolah; dan untuk mengerahkan dukungan dan bantuan bagi pemeliharaan dan peningkatan program sekolah.[4]
Sekolah juga banyak menggunakan masayrakat sebagai sumber pelajaran memberikan kesempatan luas dalam mengenal kehidupan masyarkat. Diharapkan agar anak didik dapat menyesuaikan diri dengan perkembangan masyarakat, lebih mengenal lingkungan sosial, dapat berinteraksi dengan orang lain dengan latar belakang keluarga berbeda, seperti: sosial-ekonomi, agama, budaya, dan etnis. Apa yang di pelajari di sekolah hendaknya berguna bagi kehidupan anak di masyarakat dan di dasarkan atas masalah masyarakat. Anak diharapkan pula lebih serasi dipersiapkan sebagai warga masyarakat.[5]
Perkembangan pisiko sosial siswa adalah proses perkembangan kepribadian siswa selaku seorang anggota masyarakat dalam berhubungan dengan orang lain. Konsekuensinya, kualitas hasil perkembangan sosial siswa sangat bergantung pada kualitas proses belajar. Siswa tersebut baik dilingkungan sekolah, keluarga, maupun masayarakat. Hal ini bermakna bahwa proses belajar itu amat menetukan kemampuan siswa dalam bersikap dan berprilaku sosial yang selaras dengan norma moral agama, moral tradisi, moral hukum, dan norma lainnya yang berlaku dalam masyarakat.[6]
Dalam masyarakat modern dengan pola kehidupan yang semakin teridentifikasi, tidak mungkin keluarga dapat melayani seluruh proses dan tuntutan kebutuhan pendidikan anak. Sebagian tugas tersebut diambil alih oleh sekolah. Sekolah disebut sebagai lembaga pendidikan formal karena diadakan disekolah/tempat tertentu, sistematis, mempunyai jenjang dan dalam kurun waktu serta berlangsung mulai dari taman kank-kanak samapai perguruan tinggi, berdasarkan aturan resmi yang telah ditetapkan.
Akan tetapi, sekarang ini, banyak orang tua yang beranggapan keliru, dengan menumpahkan semua tanggung jawabpendidikan anak-anaknya teerhadap sekolah. Hal tersebut terlihat, jika anaknya nakal atau prestasinya jelek, guru di sekolah yang disalahkan. Usaha pendidikan keimanan dalam kurikulum sekarang ini memang sedikit sekali yang dapat dilakukan oleh sekolah. Oleh karena itu perlu adanya reorientasi dan reorganisasi pendidikan agar sekolah mampu melakukan fungsi dan tugasnya dengan baik.
Nasution mengemukakan beberapa fungsi sekolah, yaitu (1) mempersiapkan anak untuk bekerja; (2) memberikan ketrampilan dasar; (3) memperbaiki nasib; (4) menyediakan tenaga pembangunan; (5) membantu memecahkan masalah-masalah sosial; (6) mentransmisi kebudayaan; (7) membentuk manusia yang sosial; (8) alat mentransformasi kebudayaan. Jika di lihat dari fingsi tersebut, sekolah merupakan lembaga pendidikan yang vital untu membentuk individual menjadi manusia yang utuh, menjadi muslim yang kaffah. Sekolah merupakan tempat berkumpulnya anak didik dari berbagai latar belakang kebudayaan yang berbeda. Sekolah juga merupakan tempat pembuahan nilai-nilai ilahiyah. Oleh karenanya, perlu kerjasama yang baik antara berbagai pihak agar proses pendidikan di sekolah dapat berjalan dengan baik.[7]
C. Metodologi
1). Pendekatan Tori
Dalam melakukan penelitian ini saya menggunakan pendekatan kuantitatif dengan mendapatkan data dari wawancara dengan narasumber.
2). Sumber Penting yang di Wawancara
Sumber penting yang saya wawancarai adalah kakak tingkat saya yaitu kak Pebry Sandika alumni dari Yayasan Pendidikan Prabumulih (YPP) angkatan 2015.
3). Metode yang digunakan (observasi/wawancara)
Metode yang digunakan adalah metode penelitian perkembangan.
D.    Hasil observasi/wawancara
Hari Minggu 10 juni 2018, saya berkunjung ke rumah narasumber di desa tetanggaku (Desa Karangbindu) pukul 10.45 WIB.Narasumber sangat antusias menyambut saya dengan rasa yang sangat percaya diri untuk di wawancara oleh saya.
Narasumber     : Pebry Sandika
Ttl                    : Prabumulih, 17 Februari 1992
Alamat                        : Desa Karangbindu. Kec. RKT Rt. 3 Rw. 7
Alumni            : Yayasan Pendidikan Prabumulih (YYP)
Mutu               : Percaya diri akan membuatmu lebih baik.
Tempat            : Desa Karangbindu
Waktu             : Minggu, 10 Juni 2018
Pukul               : 10.45 WIB
Teks Wawancara,
1.      Selamat pagi kak, apakah saya boleh meminta waktunya sebentar untuk mewancarai kakak?
ü  Selamat pagi, adik dari mana ya?
2.      Saya mahasiswa UIN Raden Fatah Palembang.
ü  Oh, kalau begitu mari langsung saja di mulai wawancaranya!
3.      Apa yang memotivasi kakak untuk terus belajar di zaman sekarang?
ü  Bagi saya ilmu adalah nafas, jadi jika tidak belajar atau berhenti belajar saya akan kehilangan sesuatu yang penting(ilmu). Hal ini dikarenakan ilmu sangatlah penting untuk dipelajari tidak peduli berapa umur kita, karena ilmu selalu berkembang dan jika kita berhenti belajar maka kita akan tinggal.
4.      Menurut kakak bagaimana dengan pendidikan kita saat ini?
ü  pendidikan kita saat ini masih tertinggal dengan Negara-negara maju, seperti Amerika, Inggris, dan lain-lain. Hal ini dikarenkan pemerintahnya yang belum berkomitmen untuk memajukan pendidikan di Negara sendiri dan juga kurangnya dan tidak meratanya pendidikan di Negara ini.
5.      Ok kak terimakasih, mungkin saya kira cukup sampai disini.
ü  Ok dek, semoga apa yang kakak sampaikan bisa bermanfaat kelak ya!



D.    kesimpulan
1.      Kelakuan manusia pada hakikatnya hampir seluruh besifat sosial, yakni dipelajari dalam interaksi dengan manusia lainnya. Hampir semua yang kita pelajari merupakan hasil hubungan kita dengan orang lain dirumah, sekolah, tempat bermain, pekerjaan, dan sebagiannya.
2.      Sebagai besar masyarakat modern memandang lembaga-lembaga pendidikan sebagai peran kunci dalam mencapai tujuan sosial.
3.      Pendidikan, ilmu, dan belajar tidak pernah memandang status, umur, dan sebagiannya, karena itu semua sangat di butuhkan oleh masyarakat (manusia) untuk melangkah hidup lebih baik lagi kedapannya.


















Daftar Fustaka
Idi, Abdullah 2011. Sosio Logi Pendidikan. Jakarta : Raja Grafindo Persada
Murtopo, Ali 2016.Filsafat Pendidikan Islam.Palembang : (KTD)
Rusmaini, 2017.Ilmu Pendidikan Islam.Palembang : Grafika Telindo Press
Annur, Saipul 2017. Pisikologi Pendidikan. Palembang
Jalaludin 2017.Filsafat Pendidikan Islam.Jakarta : Raja Grafindo Persada


[1]Idi, Abdullah, Sosio Logi Pendidikan, Jakarta : Raja Grafindo Persada 2011, halm 59-61.
[2]Jalaludin, Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta : Raja Grafindo Persada 2017, halm 98-99.
[3]Murtopo, Ali, Filsafat Pendidikan Islam, Palembang : (KTD), 2016, halm 66-69.
[4] Idi Abdullah, Op.Cit, halm 66-67.
[5] Idi Abdullah, Op.Cit, halm 69.
[6]Annur, Saipul, Pisikologi Pendidikan. Palembang, 2017, halm 107-108.
[7]Rusmaini, Ilmu Pendidikan Islam. Palembang : Grafika Telindo Press, 2017, halm 48-49

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

SEKOLAH SEBAGAI ORGANISASI LAPORAN PENELITIAN “ SEKOLAH SEBAGAI ORGANISASI” Oleh : YOLI AMRIL SYAFIRA (1730203181) PENDAHULUAN...