PENDIDIKAN DAN
MASYARAKAT
LAPORAN PENELITIAN
“PENDIDIKAN DAN MASYARAKAT”
Oleh : Syirli Izani (1730203170)
1.
Pendahuluan
Pendidikan menjadi sarana utama yang yang perlu
dikelola secara sistematis dan konsisten berdasarkan berbagai pandangan teori
dan praktik yang berkembang dalam kehidupan.Semakin tinggi cita-cita manusia
semakin meningkat mutu pendidikan sebagai sarana mencapai cita-citanya.Akan
tetapi di balik itu, semakin tinggi cita-cita yang hendak diraih, maka semakin
kompleks jiwa manusia manusia itu, karena di doronng oleh tuntutan hidup yang
meingkat.
Definisi pendidikan dikemukakan oleh para ahli dalam
rumusan yang berbeda-beda menurut sudut pandang masing-masing. Dalam kamus
besar Bahasa Indonesia disebutkan bahwa pendidikan adalah proses perubahan sikap
dan tata laku seorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia
melalui upaya pengajaran dan pelatihan.
Pada setiap masyarakat mempunyai suatu sistem nilai
sendiri yang coraknya berbeda dengan masyarakat lain. Dalam sistem ini nilai
itu senantiasa terjalin nilai-nilai kebudayaan nasional dengan nilai-nilai yang
lokal yang unik.Nilai-nilai itu terdapat jenjang prioritas, nilai yang dianggap
lebih tinggi dari pada yang lain, dan dapat berbeda menurut pendirian
individual. Masyarakat kota yang mempunyai universitas dan penduduk yang
intelektual memiliki sifat yang lebih terbuka bagi modernisasi dan pendirian
atau kelakuan yang baru , lain dari yang lain, seperti pola
pikiran,moral,pakaian, pergaulan. Masyarakat desa memiliki tradisi yang kuat dan
lebih taat kepada agama, sikap pikiran orangnya lebih homogen.
A.
Rumusan
Masalah
a. Bagaimana
peran pendidik dalam masyarakat?
b. Bagaimana
perubahan sosial dan pendidikan?
B.
Kajian
Teoritis
v Pendidikan dan Sumber
Daya Manusia
Dalam sejarah perkembangan peradaban
manusia,bukanlah taken for granted, tapi jauh sebelumnya telah mengalami suatu
proses yang panjang yakni melalui “belajar”, “pendidikan”, dan “pengalaman”
tersendiri berdasarkan zamannya. Mereka mungkin tidak sekolah secara “formal”
di sekolah, tetapi mereka belajar dari pengalaman. Proses belajar dan
pendidikan yang di alami mereka dalam zaman yang berbeda tersebut telah
menjadikan manusia mampu memenuhi kebutuhan, menjalani kehidupan hingga
memasuki zaman peradaban zaman seperti sekarang ini.
Antara pendidikan dan perkembangan masyarakat tidak
dapat di pisahkan satu sama lain. Kemajuan suatu masyarakat dan suatu bangsa
sangat ditentukan pembangunan sector pendidikan dalam penyiapan sumber daya
manusia (SDM) yang sesuai dengan perkembangan zaman Sumber Daya Manusia bangsa
Indonesia ke depan tidak terlepas dari fungsi pendidikan nasional. Dalam pasal
3 Undang-undang Republik Indonesia No 20 Tahun 2003 tentang sistem Pendidikan
Nasional dikatakan:
Pendidikan nasional berfungdi mengembangkan
kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam
rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi
peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang
Maha Esa, berakhlak mulia, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga
Negara yang demokratis serta bertanggunng jawab.
Program pendidikan didasrkan kepada tujuan umum
pengajaran yang diturunkan dari tiga sumber yaitu: masyarakat, siswa, dan
bidang studi. Yang diturunkan dari masyarakat mencakup konsep luas seperti
membentuk manusia, menjadikan manusia pembangunan, manusia berkepribadian,
manusia yang bertanggung jawab, dan sebagainya. Tujuan umum ini menyangkut
pertimbangan filsafat dan etika yang diturunkan dari harapan masyarakat,
seperti apa yang tercantum dalam falsafah bangsa, tujuan pendidikan nasional,
sifat lembaga pendidikan, nlai-nilai keagamaan,ideology, dan sebaginya.[1]
Dalam pendekatan filsafat pendidikan Barat dikenal
tiga Aliran utama yang membahas hubungan antara manusia dan pendidikan, yakni
nativisme, empirisme, dan convergensi. Aliran pertama menyatakan bahwa manusia
alam natur (potensi) bawaan manusia yang dominan dalam pendidikan. Aliran ini
diplopori oleh Jean Jaques Rouseau. Beda dengan empirisme yang di plopori oleh
John Locke, ia berpendapat bahwa pengalaman yang di lingkungan yang dominan.
Convergensi sebagai aliran penengah ini dimunculkan leh William Stern.
Menurutnya, perpaduan antara faktor bawaan dan faktor lingkungan yang
menentukan perkembangan seseorang.[2]
Pendidikan merupakan masalah hidup dan kehidupan
manusia. Keduanya meupakan proses yang satu dan tidak dapat dipisahkan. Melalui
pendidikan manusia dapat belajar menghadap tantangan hidup begitu pentingnya
arti pendidikan bagi kelangsungan hidup manusia. Pendidikan merupakan persoalan
yang sangat penting bagi kelangsungan hidup umat manusia. Sejak manusia
menghendaki kemajuan dalam kehidupan, sejak itu pula muncul gagasan untuk
melakukan pengalihan, pelestarian, dan pengembangan kebudayaanmelalui
pendidikan. Pendidikan senantiasa menjadi perhatian utama dalam rangka
memajukan kehidupan generasi demi generasi sejalan dengan tuntutan kemajuan
masyarakatnya, dan sebagai tumpuan an harapan untuk mengembangkan individu dan
masyarakat.
Hasan Langgulung (1988, hlm.3-4) mencatat tiga
alasan mengapa manusia memerlukan pendidikan: pertama, dalam tatanan kehidupan masyarakat ada upaya pewarisan
nilai kebudayaan antara generasi tua kepada generasi muda dengan tujuan agar
nilai hidup masyarakat tetap berlanjut dan terpelihara. Kedua, dalam kehidupannya sebagai individu, manusia memiliki kecenderungan
untuk dapat mengembangkan potensi-potensi yang ada dalam dirinya seoptimal
mungkin. Ketiga, konvergensi dari dua
tuntutann di atas diaplikasikan melalui pendidikan.[3]
v Sekolah dan Masyarakat
Maksud hubungan sekolah dengan masyarakat, dikatakan
Sutisna dalam mulyasa (2009) yakni untuk mengembangkan pemahaman tentang
maksud-maksud dan saran-saran dari sekolah; untuk menilai program; untuk
mempersatukan orang tua murid dan guru dalam memenuhi kebutuhan anak didik;
untuk mengembangkan kesadaran tentang pentingnya pendidikan sekolah dalam era
pembangunan; untuk membangun dan memelihara kepercayaan masyarakat terhadap
sekolah; untuk memberitahu masyarakat tentang pekerjaan sekolah; dan untuk
mengerahkan dukungan dan bantuan bagi pemeliharaan dan peningkatan program
sekolah.[4]
Sekolah juga banyak menggunakan masayrakat sebagai
sumber pelajaran memberikan kesempatan luas dalam mengenal kehidupan masyarkat.
Diharapkan agar anak didik dapat menyesuaikan diri dengan perkembangan
masyarakat, lebih mengenal lingkungan sosial, dapat berinteraksi dengan orang
lain dengan latar belakang keluarga berbeda, seperti: sosial-ekonomi, agama,
budaya, dan etnis. Apa yang di pelajari di sekolah hendaknya berguna bagi
kehidupan anak di masyarakat dan di dasarkan atas masalah masyarakat. Anak
diharapkan pula lebih serasi dipersiapkan sebagai warga masyarakat.[5]
Perkembangan pisiko sosial siswa adalah proses
perkembangan kepribadian siswa selaku seorang anggota masyarakat dalam
berhubungan dengan orang lain. Konsekuensinya, kualitas hasil perkembangan
sosial siswa sangat bergantung pada kualitas proses belajar. Siswa tersebut baik
dilingkungan sekolah, keluarga, maupun masayarakat. Hal ini bermakna bahwa
proses belajar itu amat menetukan kemampuan siswa dalam bersikap dan berprilaku
sosial yang selaras dengan norma moral agama, moral tradisi, moral hukum, dan
norma lainnya yang berlaku dalam masyarakat.[6]
Dalam masyarakat modern dengan pola kehidupan yang
semakin teridentifikasi, tidak mungkin keluarga dapat melayani seluruh proses
dan tuntutan kebutuhan pendidikan anak. Sebagian tugas tersebut diambil alih
oleh sekolah. Sekolah disebut sebagai lembaga pendidikan formal karena diadakan
disekolah/tempat tertentu, sistematis, mempunyai jenjang dan dalam kurun waktu
serta berlangsung mulai dari taman kank-kanak samapai perguruan tinggi,
berdasarkan aturan resmi yang telah ditetapkan.
Akan tetapi, sekarang ini, banyak orang tua yang
beranggapan keliru, dengan menumpahkan semua tanggung jawabpendidikan
anak-anaknya teerhadap sekolah. Hal tersebut terlihat, jika anaknya nakal atau
prestasinya jelek, guru di sekolah yang disalahkan. Usaha pendidikan keimanan
dalam kurikulum sekarang ini memang sedikit sekali yang dapat dilakukan oleh
sekolah. Oleh karena itu perlu adanya
reorientasi dan reorganisasi pendidikan agar sekolah mampu melakukan fungsi
dan tugasnya dengan baik.
Nasution mengemukakan beberapa fungsi sekolah, yaitu
(1) mempersiapkan anak untuk bekerja; (2) memberikan ketrampilan dasar; (3)
memperbaiki nasib; (4) menyediakan tenaga pembangunan; (5) membantu memecahkan
masalah-masalah sosial; (6) mentransmisi kebudayaan; (7) membentuk manusia yang
sosial; (8) alat mentransformasi kebudayaan. Jika di lihat dari fingsi
tersebut, sekolah merupakan lembaga pendidikan yang vital untu membentuk individual
menjadi manusia yang utuh, menjadi muslim yang kaffah. Sekolah merupakan tempat
berkumpulnya anak didik dari berbagai latar belakang kebudayaan yang berbeda.
Sekolah juga merupakan tempat pembuahan nilai-nilai ilahiyah. Oleh karenanya,
perlu kerjasama yang baik antara berbagai pihak agar proses pendidikan di
sekolah dapat berjalan dengan baik.[7]
C. Metodologi
1). Pendekatan Tori
Dalam melakukan penelitian ini saya menggunakan
pendekatan kuantitatif dengan mendapatkan data dari wawancara dengan narasumber.
2). Sumber Penting yang di Wawancara
Sumber penting yang saya wawancarai adalah kakak
tingkat saya yaitu kak Pebry Sandika alumni dari Yayasan Pendidikan Prabumulih
(YPP) angkatan 2015.
3). Metode yang digunakan (observasi/wawancara)
Metode yang digunakan adalah metode penelitian
perkembangan.
D.
Hasil
observasi/wawancara
Hari
Minggu 10 juni 2018, saya berkunjung ke rumah narasumber di desa tetanggaku
(Desa Karangbindu) pukul 10.45 WIB.Narasumber sangat antusias menyambut saya
dengan rasa yang sangat percaya diri untuk di wawancara oleh saya.
Narasumber : Pebry Sandika
Ttl : Prabumulih, 17 Februari
1992
Alamat : Desa Karangbindu. Kec.
RKT Rt. 3 Rw. 7
Alumni : Yayasan Pendidikan Prabumulih
(YYP)
Mutu : Percaya diri akan membuatmu
lebih baik.
Tempat : Desa Karangbindu
Waktu : Minggu, 10 Juni 2018
Pukul : 10.45 WIB
Teks
Wawancara,
1. Selamat
pagi kak, apakah saya boleh meminta waktunya sebentar untuk mewancarai kakak?
ü Selamat
pagi, adik dari mana ya?
2. Saya
mahasiswa UIN Raden Fatah Palembang.
ü Oh,
kalau begitu mari langsung saja di mulai wawancaranya!
3. Apa
yang memotivasi kakak untuk terus belajar di zaman sekarang?
ü Bagi
saya ilmu adalah nafas, jadi jika tidak belajar atau berhenti belajar saya akan
kehilangan sesuatu yang penting(ilmu). Hal ini dikarenakan ilmu sangatlah
penting untuk dipelajari tidak peduli berapa umur kita, karena ilmu selalu
berkembang dan jika kita berhenti belajar maka kita akan tinggal.
4. Menurut
kakak bagaimana dengan pendidikan kita saat ini?
ü pendidikan
kita saat ini masih tertinggal dengan Negara-negara maju, seperti Amerika,
Inggris, dan lain-lain. Hal ini dikarenkan pemerintahnya yang belum berkomitmen
untuk memajukan pendidikan di Negara sendiri dan juga kurangnya dan tidak
meratanya pendidikan di Negara ini.
5. Ok
kak terimakasih, mungkin saya kira cukup sampai disini.
ü Ok
dek, semoga apa yang kakak sampaikan bisa bermanfaat kelak ya!
D.
kesimpulan
1. Kelakuan
manusia pada hakikatnya hampir seluruh besifat sosial, yakni dipelajari dalam
interaksi dengan manusia lainnya. Hampir semua yang kita pelajari merupakan
hasil hubungan kita dengan orang lain dirumah, sekolah, tempat bermain, pekerjaan,
dan sebagiannya.
2. Sebagai
besar masyarakat modern memandang lembaga-lembaga pendidikan sebagai peran
kunci dalam mencapai tujuan sosial.
3. Pendidikan,
ilmu, dan belajar tidak pernah memandang status, umur, dan sebagiannya, karena
itu semua sangat di butuhkan oleh masyarakat (manusia) untuk melangkah hidup
lebih baik lagi kedapannya.
Daftar Fustaka
Idi, Abdullah 2011. Sosio Logi Pendidikan. Jakarta :
Raja Grafindo Persada
Murtopo, Ali 2016.Filsafat Pendidikan
Islam.Palembang : (KTD)
Rusmaini, 2017.Ilmu Pendidikan Islam.Palembang :
Grafika Telindo Press
Annur, Saipul 2017. Pisikologi Pendidikan. Palembang
Jalaludin 2017.Filsafat Pendidikan Islam.Jakarta :
Raja Grafindo Persada
[1]Idi,
Abdullah, Sosio Logi Pendidikan, Jakarta
: Raja Grafindo Persada 2011, halm 59-61.
[2]Jalaludin,
Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta :
Raja Grafindo Persada 2017, halm 98-99.
[3]Murtopo,
Ali, Filsafat Pendidikan Islam, Palembang : (KTD), 2016, halm 66-69.
[4] Idi Abdullah, Op.Cit, halm
66-67.
[5] Idi Abdullah, Op.Cit, halm
69.
[7]Rusmaini,
Ilmu Pendidikan Islam. Palembang : Grafika Telindo Press, 2017, halm 48-49
Tidak ada komentar:
Posting Komentar