Jumat, 22 Juni 2018

LAPORAN PENELITIAN OVSERVASI “INTERAKSI EDUKATIF ANAK DIDIK”

INTERAKSI EDUKATIF DI SEKOLAH

LAPORAN PENELITIAN OVSERPASI
“INTERAKSI EDUKATIF ANAK DIDIK”
Oleh: Wiwik Sintian (1730203179)

1. PEMDAHULUAN
Dalam perspektif pedagogik, anak didik memiliki sejumlah potensi yang perlu dikembangkan melalui proses pendidikan dan pembelajaran di sekolah. Kebutuhan anak didik atas pendidik disebut home educandum. Potensi anak diok yang bersifat laten tersebut perlu diaktualisasikan agar anak didik tidak disebut lagi sebagai animal aducable, sejenis binatang yang memungkinkan dididikan, tetepai harus dianggap sebagai manusia secara mutlak, karena anak didik memang manusia. Sebagai manusia, anak dididk memiliki akal yang harus dikembangkan agar menjadi kekuatan sebagai manusia yang bersusila dan bercakapan sebagai modal kehidupan nyata. M
Peranan pendidik dalam kaitannya degan anak didik, tampak bermacam-macam berdasarkan situasi interaksi social edukatif dihadapinya. Interaksi interaksi edukatif dimaksudkan seperti situasi formal dalm proses pembelajaran di kelas maupun dalam situasi informal di luar kelas. Dalam sitausi formal, yakni dalam usaha guru mendidik dan mengajar anak didik dalam kelas, pendidik diharapkan dapat memperlihatkan kewibawaaan dan otoritasnya, di mana pendidik harus dapat menggendalikan, mengatur, dan mengontrol perilaku anak didik jika diperlukan, seorang pendidik dapat menggunakan kekuasaanya untuk memaksa anak didik belajar, melakukan tugasnya, dan mematuhi peraturan.

Komunikasi yang baik diperlukan untuk berinteraksi antar personal maupun antar masyarakat agar terwujudnya keserasian dan keharmonisan hubungan dalam lingkungan massyarakat. Makna dari interaksi sosial itu sendiri merupakan hubungan sosial yang dinamis menyangkut hubungan antara orang perorangan, antar kelompok-kelompok manusia, maupun antara orang perorangan dengan kelompok manusia. Syarat terjadinya interaksi sosial adalah adanya kontak sosial dan adanya komunikasi. Menurut Schramm komunikasi dan masyarakat adalah dua kata  kembar yang tidak dapat dipisahkan. Sebab tanpa komunikasi tidak mungkin masyarakat terbentuk, sebaliknya tanpa masyarakat, maka manusia tidak mungkin dapat mengembangkan komunikasi.
Bentuk-bentuk interaksi sosial
a. Kerjasama adalah suatu usaha bersama antara orang perorangan atau kelompok untuk mencapai tujuan bersama. Kerjasama dibedakan menjadi beberapa bentuk,yaitu:kerja sama spontan,langsung,kontrak,dan tradisional
b. Akomodasi adalah suatu proses penyesuaian diri individu atau kelompok yang semula saling bertentangan sebagai usaha untuk mengatasi ketegangan. Bentuk akomodasi,yaitu: koersi,kompromi, arbitasi, mediasi, konsiliasi, toleransi dan stalemate
c. Asimilasi adalah pembauran dua budaya yang menghasilkan budaya baru
d. Akulturasi adalah proses penerimaan dan pengelolaan unsure kebudayaan asing menjadi bagian dari kebudayaan tanpa menghilangkan kepribadian kebudayaan asli.




A. Rumusan Masalah
1. Bagaimanakah dengan interaksi edukatif di sekolah ?
2. Adakah hubugan antara interaksi edukatif anak didik dengan prestasi anak ?

B. Kajian Teoritis
Dalam pedidikan kewibawaan merupakan syarat mutlak harus dimiliki pendidik. Mendidik merupakan upaya membimbing anak didik dalm perkembanggannya kearah tujuan pendidik. Bimbingan atau pendidikan hanya mungkin terjadi bila adanya kepatuhan anak didik, dan kepatuhan diperoleh bila pebdidik memiliki kewibawaan. Kewibawaan dan kepatuhan merupakan dua hal yang komplementer dalam menjamin adanya disiplin.
Adanya suatu kemajuan proses interaksi edukatif antara pendidik dan anak didik, lebih ditentukan kompetensi pendidik dalam proses pembelajaran. Pendidik sebagai pengembang kurikulum (curriculum developer) di kelas, memiliki peranan terdepan terhadap pelaksanaan pembelajaran di kelas. Interaksi edukatif anatara pendidik dan anak didik ditunjukkan pula adanya interaksi timbal balik (mutul symbiosis) antara keduannya. Thomas Gordon (1997)  menunturkan bahwa keterampilan-keterampilan berkomunikasi yang diperlukan pendidik agar lebih efektif dalam berinteraksi edukatif, dalam menciptakan mata rantai, dan dalam membangun jembatan penghubung antara pebdidik dan anak didik. Keterampilan berkomunikasi yang diperlukan tidak terlalu kompleks dan tidak sulit bagi pendidik untuk mengerti, sekalipun memerlukan latihan dan adannya motivasi ingin maju dan sukses dalam keterampilan berkomunikasi.
Interaksi edukatif anatara pendidik adan anak didik yang diharapkan dapat tercapai dengan optimal apabila adannya kesadaran pendidik bahwa tugas mulia mengajar dan mendidik anak didik itu sifatnya komprehensif. Melaksanakan tugas sebagai pendidik haruslah dipahami sebagai tugas mencerdaskan anak didik yang memerlukan keteladanan baik di dalam maupun di luar sekolah.
Sementara itu, menurut Muhibbin Syah mengungkapkan bahwa secara garis besar penyebab kesulitan belajar terdiri dari:
A. faktor interaksi siswa, yakni hal-hal atu keadaan yang muncul dari siswa sendiri, meliputi gangguan atau kekurangan maupun psikofisik siswa, yakni:
yang bersifat kongnitif (ranah cipta),antara lain seperti rendahnya kapasitas intelektual atau intelegensi siswa.
Yang bersifat afektif (ranah rasa), antar lain seperti labilnya emosi dan sikap.
Yang bersifat psikomotor (ranah kasrah), antara lain seperti terganggunya alat-alat indera penglihatan dan pendengaran (mata dan telinga).
C. Metodelogi
1. Pendekatan
Dalam melakukan penelitian ini saya mengunakan pendekatan kuantitatif dengan mendapatkan data dari wawancara dengan narasumber. Jenis wawancara ini adalah wawancara yang menggunakan seperangkat pertanyaan baku. Urutan pertanyaan, kata-katanya, dan cara penyajiannya pun sama untuk setiap responden Teknik wawancara ini digunakan untuk memperoleh data pendukung tentang faktor-faktor terjadinya interaksi sosial pada anak berkesulitan belajar dari pemahaman dan pengetahuan informan lain.

2. Sumber yang di wawancarai
Sumber yang saya wawancarai adalah Pak Mukhsin selaku kepalak sekolah di SD Negri 05 Muara Kaung  RT.01/RW.01, Des Sri Kembang, Kec. Muara Kuang Kab. Ogan Ilir.
3.Metode yang digunakan
Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kualitatif, jenis deskriptif kualitatif dipilih karena bertujuan untuk mendeskripsikan dengan jelas factor-faktor pendukung terjadinya interaksi  anak dalam belajar.




















II. PEMBAHASAN
D. Hasil Wawancara
Saya berkunjung ke sekolah SD Negri 05 Muara Kuang, Pak Mukhsin selaku Kepalak Sekolah RT.01/RW.01, Des. Sri Kembang, Kec. Muara Kuang, Kec. Ogan Ilir pada hari Selasa 10 Juni 2018.
1. Assalamualaikum pak, bolehkah saya meminta sedikit waktunya untuk saya wawancara ?
Narasumber:  Wa’alaikum salam, iya silahkan.
2. Boleh saya tau nama lengkap bapak siapa ?
Narasumber: boleh, nama lengkap saya Muhammad Mukhsin.
3. Sejak tahun berapa sekolah ini berdiri ?
Narasumber: sekolah SD Negri 05 Muara Kuang ini di dirikan pada tahun 2008.
4. Menurut bapak apa yang di maksud tentang pola interaksi Edukatif dalam proses pembelajaran ?
Narasumber: Kegiatan timbal balik antara anak didik dengan temannya, antara si anak didik dengan gurunya ada suatu komunikasi sosial atau pergaulan Peneliti.
5. Menurut bapak bagaimana cara bapak menerapkan pola interaksi edukatif antara guru dan siswa dalam proses pambelajaran di kelas ?
Narasumber: Kalau menurut saya penerapan pola interaksi itu harus Proaktif antara guru dan peserta didik sehingga peserta didik itu mendapatkan hak-hak belajarnya, seorang guru tidak boleh memberikan aksi sebelah saja atau guru aktif, siswa pasif, jadi intinya guru dan siswa harus komunikatif.
6. Menurut bapak bagaimana bentuk penerapan pola interaksi edukatif dalam pembelajaran dikelas ?
Narasumber: Menurut saya, keberhasilan pelaksanaan kegiatan pembelajaran di madrasah itu, harus ada rencana pelaksanaan pembelajaran yang matang dan cara usahanya yang tepat, serta penyediaan sarana prasarana dan kesungguhan, keseriusan semua guru dan warga madrasah serta dukungan dari lingkungan madrasah itu pula.
7. Menurut bapak, apa yang menjadi tujuan inti dari pola interaksi edukatif dalam proses pembelajaran di kelas ?
Narasumber: Menurut pendapat saya, yaitu untuk mencapai pembelajaran baik seperti materi, metode, media, evaluasi, peserta didik, administrasi pengajaran, bahkan sarana dan prasarana yang lengkap, yang semua itu harus sesuai dengan yang digunakan untuk mencapai tujuan seefektif dan seefisien mungkin.
8. Menurut bapak, bagaimana cara mengevaluasi proses pembelajaran interaksi edukatif di SD Negri 05 Muara Kuang ?
Narasumber: Evaluasi dalam proses pembelajaran sangat penting untuk dilakukan karena dapat menjadi ukuran penguasaan siswa pada materi dan pencapaian kompetensi yang diharapkan. Guru di SD Negri 05 Muara Kuang di saat mengevaluasi dalam pemahaman siswa yaitu mengevaluasi dengan cara test dan nontest.
9. Menurut bapak apakah ada dampak dari kedekatan dan hubungan interaksi guru dan siswa di SD Negri 05 Muara Kuang ?
Narasumber: Wah bingung mas apa ya, ya dampaknya hasil belajarnya lebih baik lagi sehingga terjadi keseimbangan keaktifan baik dipihak guru maupun dipihak siswa, jangan sampai berdampak jelek gitu ya.


E. Kesimpulan
Interkasi edukatif dapat diartikan sebagai suatu aktivitas relasi berbagai elemen edukatif, baik pendidik, staf administrasi, maupun anak didik. Istilah interaksi pada umumnya adalah suatu hubungan timbal balik antara individu satu dengan individu yang lain yang terjadi pada lingkungan masyarakat atau selain lingkungan masyarakat. Mereka dengan bersama-sama memiliki kesadaran dalam menciptakan suatu iklim pendidikan dan pembelajaran disekolah untuk menghasilkan sumberdaya manusia (anak didik) yang berkualitas dan handal  sesuai perkembangan zaman.
Interaksi edukatif menurut Shuyadi dan Abu Achmadi adalah “suatu hubungan  antara pendidik (Guru) dan anak didik yang berlangsung dalam ikatan pendidikan”. Sedangkan menurut Sudirman A.M pengertian interaksi edukatif dalam pengajaran adalah “proses interaksi yang disengaja, sadar akan tujuan, yakni  untuk mengantarkan anak didik ketingkat kedewasaanya”.
Dari beberapa pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa pengertian interaksi edukatif antara guru dan murid adalah suatu proses hubungan timbal balik yang sifatnya komunikatif, dilakukan dengan sengaja, direncanakan, serta memiliki tujuan tertentu. Dengan demikian dalam interaksi edukatif ada dua unsur utama yang harus hadir dalam situasi yang disengaja, yaitu antara Guru dan Siswa.




III. DAFTAR PUSTAKA
Syaiful Bahri Djamara, 2005, Guru Dan Anak Didik, Dalam Interaksi Edukatif :Suatu Pendekatan Teoretis Psikologi, Jakarta:PT Rineka Cipta.
Abdullah Idi, 2011,  sosiologi pendidikan, Jakarta: Pt Rajagrfindo persada,.
Thomas Gordon, 1997,  menjadi guru efektif, Jakarta: Pt Gramedia pustaka utama
Annur Saipul, 2017, Psikologi Pendidikan, Palembang.
Rusmaini, 2016, Ilmu Pendidikan Islam, Palembang: Pt Grafika Telindo Press.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

SEKOLAH SEBAGAI ORGANISASI LAPORAN PENELITIAN “ SEKOLAH SEBAGAI ORGANISASI” Oleh : YOLI AMRIL SYAFIRA (1730203181) PENDAHULUAN...